
Dua bulan telah berlalu sejak percakapan lidya dan faro tentang fira. Sebaliknya fira dan fania juga sama-sama memuji lidya karena terlihat sangat baik dan penyayang.
"fania, hari ini subuk gak? Temani aku ke supermarket ya". Kalimat fira di seberang telepon.
"aku gak bisa fi, mertua aku datang berkunjung, maaf ya??". Jawab fania bersalah karena dia tidak tahu jika mertuanya datang berkunjung sedangkan ia sudah pasti tahu jika fira membawanya untuk berbelanja setiap akhir bulan.
"oooh..ya udah aku sendirian aja. Layanin mertua kamu dengan baik..jarang jarang loh beliau datang berkunjung". Jawab fira santai. Mungkin bulan ini dia memang harus belanja sendiri. Karena hanya fania yang betah menemaninya berbelanja.
Setibanya di supermaket fira tak menyangka ternyata di akhir pekan sangat ramai pengunjung daei hari biasa. Fira mengambil keranjang kecil karena untuk bulan ini ia hanya kekurangan sedikit rayuran saja, sisanya ia mengganti dengan makanan instan kesukaannya. Walaupun fira memasak tapi tidak tertutup keungkinan untuk fira makan diluar bersama teman temannya.
"oke mi, aku tunggu di mobil aja. Males masuk ke dalam. Rame banget". Faro dan lidya telah memarkirkan mobil di tempat yang telah disediakan oleh pihak supermaket.
"terus siapa yang bayar? Siapa yang dorong troli juga?!". Jangan sebut dia lidya jika sang anak pasti akan patuh padanya meski bukan patuh dan menurut pada hal perjodohan.
"mi...ayolah..mami udah kantongin kartu aku..coma dorong troli aja mi...aki tunggu disini aja". Faro masih memberikan penolakan.
"baiklah, mami bayar orang yang disana aja sekalian angkat dia jadi anak biar ada yang bantu mami kalau klaau kamu sibuk!". Lidya menunjukkan wajah sedih namun itu hanya tipuan yang berhasil membuat faro turun daei mobil kesayannya.
"iya iya ni, aku temenin itung itung belajar jadi bodyguard". Mau tak mau faro akhirnya menemani lidya berbelanja.
__ADS_1
Fira tengah sibuk memilih barang apa yang akan dia beli, dikarenakan bulan lalu ia jarang memasak, sekarang dia hanya mencari ganti bahan yang sudah tak layak di konsumsi. Dari anek sayur sampai buahan dan camilan ia hanya memperbanyak camilan dan makanan instan.
"MAAF". kata yang serntak keluar dari mulut faro dan fira. Karena tengah asik melihat jenis makanan, sehingga keduanya tidak sadae dengan orang sekitar. sehingga bawaan mereka bertemu.
"saya tidak memerhatikan apa anda tidak apa apa?". Tanya fira
"ya tidak masalah, saya juga tidak menyadari ada orang disamping saya". Jawab faro
"kalau begitu saya permisi". Kalimat fira lagi
"oh iya. Hati hati". Faro terpaku menatap wanita yang berlalu daei hadapannya.
"ehm...katanya gak bakalan tergoda....". Kejut lidya sembari menyindir sang anak
"coba kamu perhatikan wanita tadi. Ada kemiripan dengan rania bukan?". Ingat lidya pada faro
"mami udah selesai belanjanya?". Alih faro
"udah daei tadi...udah dibayar juga dan itu...mami titipkan di penitipan. Kamu mami tungguin gak muncul jadi mami cari dan ternyata kamu disini...sama wanita yang mama ceritain tempo hari". Lagi lagi lidy menggoda anaknya.
__ADS_1
"ih mami apaan sih. Jangan kembanyakan ngayal. Ya udah yuk pulang!". Faro keaal karena lidya selalu menyindirnya.
Di parkiran, fira tengah memasukkan barang belanjaannya kedalam mobil. Setelah semua barang selesai iya susun tiba-tiba perutnya terasa melilit dan sadikit keram.
"shh..sial! Kenapa lagi ni perut?! Padahal udah dikasih makan tapi kok malh mendadak gini sih!". Kesal fira ketika penyakitnya kumat tiba tiba.
"faro tunggu! Lihat itu?!"" kalimat lidya yang tidak sengaja melihat seorang wanita memegangi perutnya. "sepertinya dia butuh bantuan far! Ayo kita kesana?!". Ajk lidya yang langsung di iyakan oleh faro. Sejatinya faro memang pria yang memiliki kepedulian dengan orang sekitarnya.
"aaaakh ! Sakit banget lagi! Minta tolong siapa coba!?". Fira melihat sekitar dan terus mencari nomor seseorang di ponselnya untuk dihubungi.
"permisi nak?". Sapa lidya memegangi bahu fira lembut.
"ya!" sontak fira terkejut karena bahunya di sentuh dengan tiba tiba. "oh..ibu, saya minta maaf saya kira siapa, ada apa bu?". Tanya fira setelah tahu sipaa yang menyentuh bahunya.
"tidak apa sayang ibu paham. kamu terlihat pucat, apa kamu sakit? Kamu sendirian? Mana teman kamu?". Tanya lidya
"mi, pertanyaannya jangan buat dia pusing yang ada bertambah nanti sakitnya! Maafkan mami saya ya, apa anda butuh bantuan?". Kalimat faro
"s-saya...shhh, tiba tiba perut saya sakit dan begah. Gak tau kenapa,tadi baik baik saja didalam. Sampai disini tiba tiba mendadak beeeg-gah...!". Tubuh fira terkulai lemah dan tidak sadarkan diri, beruntung tubuhnya langsung disambut oleh tangan faro yang kekar.
__ADS_1
"mbak! Mbak!. Mi, kita bawa ke klinik terdekat, mungkin dia mengidap asam lambung yang berat. Mami coba lihat identitasnya atau tasnya untuk mengabari keluarganya nanti". Ucap faro yang sudah menggendong tubuh fira dan membawanya ke mobil miliknya. Sedangkan mobil fira ia titipkan saja disana.
Beruntung klinik cepat di temukan, fir alangsung di tangani oleh beberapa perawat dan dokter disana. Sedangkan lidya dan faro tengah bingung karena tidak tahu siapa yang harus mereka hubungi karena ponsel fira menggunakan kode kunci. Didalam dompetnya pun tidak ada kartu nama yang bisa di hubungi.