
Drrrttt... Drrrttt... Drrrttt...
"Hoaaam... siapa sih yang nelpon tengah malem gini ih ganggu aja!" ujar rara kesal.
Dengan malas rara mengangkat telpon tersebut setelah ia melihat tertera dengan jelas sebuah nama My Hero yang ada di layar hpnya, dengan cepat ia mengangkat telepon tersebut.
"Eh ternyata Ayah yg nelpon tumben banget jam segini" ujar rara heran.
"Hallo Yah?" sapa rara.
"Hallo ini dengan buk Rara?" jawab laki-laki itu.
"Ini siapa ya? Kok hp Ayah saya bisa ada pada anda?" tanya rara heran.
"Ini dengan kantor polisi, bisa bicara dengan keluarga Pak Indra Wijaya Kusuma?" jawab polisi itu.
Dalam hati rara berkata "Kok hp ayah bisa di pegang polisi yah? Ayah kenapa ya? Tuhan ada apa ini?".
"Hallo bisa bicara dengan kel_" Rara memotong kalimat polisi itu.
"Iya pak, Ayah saya dimana pak? Ayah saya kenapa pak? Pak ayah saya baik-baik aja kan pak" tanya rara sambil menangis.
"Bapak anda baik-baik saja untuk lebih jelasnya tolong anda datang ke Kantor kami" jawab polisi itu.
Hp rara terjatuh ia menangis lalu ia berlari mengambil kunci mobil dan menuju bagasi membuak pintu mobil dengan keras kemudian melesat dengan kecepatan maximal.
Para asisten dirumah rara pun bingung dan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi sehingga rara lari terburu-buru seperti itu dan mereka tak sempat menanyakannya.
Ditengah perjalanan Rara terus menangis ia tak memikirkan apapun kecuali keadaan Ayahnya, ia terus melaju dengan kecepatan maximal hingga ia harus menginjak rem karena ada seekor kucing yang menyebrang dengan tiba-tiba.
Rara bingung dimana dia sekarang dan dia harus kemana, lalu ia mencari hpnya dan nihil ia tak menemukan hp itu, ia ingat jelas bahwa ia meninggalkan hp itu didalam kamarnya karena terburu-buru ingin melihat keadaan Ayahnya yang sedang berada di Kantir Polisi.
"Shhittt... gua dimana? Kok jalannya sepi yah?? Kayaknya gua gak pernah kesini deh. Ah!! gua gak bawa hp lagi!!!" geram rara
Lalu ia berpikir mengapa tidak kembali saja kerumah dan mengambil hpnya, tetapi rara tidak tahu dimana ia sekarang, terus kalau ia puter balik mana sempat keburu telat, rara terus berpikir dan berpikir sampai ia melihat segerombolan laki-laki yang sedang asyik bergurau di tepi jalan yang sepi itu.
"Gimana kalo gua tanya aja ya sama mas-mas itu, mungkin mereka tau ini ada di daerah mana" pikir rara.
Lau rara melajukan mobilnya kearah para segerombolan laki-laki itu dan ketika ia hendak turun untuk bertanya tiba-tiba ia melihat salah satu dari laki-laki itu membawa pisau yang lumayan panjang, tajam dan mengkilat.
Dengan segera rara memutar mobilnya dan melaju dengan kencang sehingga ia lolos dari nasib buruk itu, untung saja para laki-laki itu tidak memiliki kendaraan satu pun untuk mengejar rara, lalu rara melihat sebuah gubuk kecil dimana semua dekorasinya masih terlihat tradisional.
__ADS_1
Rara turun dari mobilnya dan ia berjalan menuju salah satu rumah yang ada di gubuk kecil itu untuk bertanya, ketika ia mengetuk pintu tiba-tiba pintu rumah itu terbuka dan nampaklah seorang kakek yang terlihat menyeramkan.
"Mau cari siapa ndok?" tanya Si Kakek.
"Saya mau nanya kek, ini didaerah mana ya, soalnya saya nyasar kek" jawab rara sopan.
"Kamu dari kota ya?" tanya Si Kakek.
"Iya kek" jawab rara.
"Gubuk ini dengan kota jaraknya lumayan jauh ndok, dan kalaupun kamu pulang malam-malam begini takutnya nanti ada yang terjadi sama kamu" jawab Si Kakek.
"Terus saya harus bagaimana Kek?" tanya rara.
"Begini saja disana ada fila, mari saya antarkan klo kamu mau" tawar Si Kakek.
"Saya gak bawa uang kek, karena saya tadi terburu-buru" jawab rara.
"Yaudah kalo begitu nginap saja di Rumah Kakek" tawar Si Kakek.
"Gak usah deh Kek makasi ya saya pamit dulu" jawab rara.
"tenang saja ndok saya tinggal dengan istri dan anak saya" ujar Si Kakek.
"Baiklah ndok, mari masuk" ujar Si Kakek.
"Baik Kek" jawab rara.
Rara dan Kakek memasuki rumah yang sederhana itu dan terlihat disana ada seorang nenek tua dan anak yang berusia sekitar 35 tahunan yang sedang duduk dekat lilin dan bermain bayang-bayangan tangan.
"Siapa Pak?" tanya Si Nenek.
"Ini ada anak yang nyasar dari kota Buk" jawab Si Kakek.
"Selamat malam Nek" sapa rara.
"Eh cantiknya sini main bersama kami seru loh main bayang-bayangan" ujar Si Nenek.
"Baik Nek" jawab rara.
"Baiklah, Kakek siapkan tempat tidurnya dulu ya ndok" ujar Si Kakek.
__ADS_1
"Iya Kek terimakasih banyak" ucap rara senang.
"Iya ndok" jawab Si Kakek.
Lalu rara bermain bayang-bayangan tangan bersama nenek dan anak nenek, disela itu rara melihat iba terhadap anak nenek karena ia lahir tanpa kaki dan tidak bisa bicara tetapi masih bisa mendengar ditambah dengan keadaan ekonominya yang jauh dari kecukupan, rara merasa bersyukur karena selama ini dia hidup dengan berkecukupan tidak dengan mereka.
15 menit berbincang-bincang akhirnya rasa mengantuk menyerang mereka, lalu mereka tertidur dengan pulas dengan diiringi suara jangkrik dan katak yang beradu bagaikan lantunan musik yang sangat alami yang membuat mereka merasa aman dan nyaman.
Pagipun tiba kali ini terasa aneh karena rara biasanya dibangunkan oleh suara alarm tetapi sekarang ia dibangunkan oleh suara ayam yang berkokok dengan semangat dan gagah dipagi hari yang cerah ini.
"Hoaaaaamm..." rara dengan mulutnya yang terbuka lebar tapi masih terlihat cantik dan menggemaskan.
"Eh ndok, sudah bangun ya mari sarapan dulu" ajak Si Nenek.
"Baik Nek, tapi saya mau cuci wajah dulu" jawab rara.
"Baik ndok"ujar Si Nenek.
"Mm... Tapi kamar mandinya dimana ya Nek?" tanya rara.
"Oh ada diluar ndok, kamu tinggal pergi ke belakang rumah nah disitu kamar mandinya" jelas Si Nenek.
"Oh baiklah Nek, nanti setelah cuci wajah saya sarapan" ujar rara.
"Baiklah kami tunggu diteras ya ndok" ujar Si Nenek.
"Ok Nenek" jawab rara dengan tersenyum
10 menit mereka pun selesai makan dan rara membantu Nenek membereskan piring lalu mencucinya, ini kali pertama rara makan dengan keluarga lengkap yang dimana ada seorang ibu, ayah dan saudara yang selalu ia dambakan bisa terwujud akhirnya terwujud tapi sayang, itu semua bukan bersama keluarganya melainkan keluarga orang lain.
Setelah semua selesai dibereskan rara pun pamit untuk pulang dan berterimakasih karena sudah mau menampung dan memberinya makan walau hanya semalam tapi itu sangat hal yang mulia menurut rara.
"Terimakasih telah mau menerima rara untuk tinggal bersama kalian" ucap rara berterimakasih.
"Sama-sama ndok, lain kali mampir lagi ya" jawab Si Nenek.
"Insyaallah ya Nek kalau saya ada waktu, dan saya tidak akan pernah lupa atas bantuan dari Kakek, Nenek dan Kakak" ucap rara sopan.
"Karna kamu anak yang baik ndok, hati-hati dijalan ya ingat lurus sampai kamu menemukan kota" ujar Si Kakek.
"Baik Kek, saya pamit dlu Kek, Nek, Kak" ucap rara sambil menyalami tangan mereka bertiga.
__ADS_1
Lalu rara masuk kedalam mobil dan melaju dengan kecepatan maximal karena ia harus cepat kembali ke Rumah mengambil hp dan menanyakan keberadaan Ayahnya tersayang.