Dia Menikahiku Karena Dendam

Dia Menikahiku Karena Dendam
BAB 7


__ADS_3

"Ini adalah awal dari penderitaan lo" gumam jason.


Karena jam sudah menunjukan waktunya untuk tidur Rara memasuki kamar Jason yang begitu besar dan menyeramkan, setelah ia membuka pintu terlihat jelas Jason sedang sibuk memainkan laptopenya.


Rara hanya mematung di dekat pintu karena ia tak tau harus berbuat apa dan harus mengatakan apa, karena Jason tak meliriknya sedikitpun, lalu ia berjalan menuju kamara mandi untuk membasuh wajahnya yang cantik itu.


"Eh lo ngapain masuk kamar mandi gua!" bentak Jason.


"Aku mau membersihkan wajah ku" jawab rara.


"Keluar!" bentak Jason.


Rara berjalan keluar sambil menangis ia mengingat bagaimana ia di perlakukan dengan sangat baik dulu oleh ayah dan ibunya jauh dari nasibnya yang sekarang, ia diperlakukan dengan sangat buruk, rasanya ia lebih baik menjadi pengemis dan tak punya rumah dari pada harus tinggal dengan monster seperti Jason ini.


Rara keluar dari rumah yang besar itu lalu ia duduk di dekat kolam berenang dan memasukkan kedua kakinya ke dalam air yang dingin itu hitung-hitung untuk mencairkan betapa panasnya api yang sedang membara di sekujur tubuhnya, ia rasanya ingin menampar wajah tampan itu dan membekam mulutnya yang seksi itu agar tidak keluar kalimat yang tak ingin rara dengar.


Seketika ia rindu dengan sosok laki-laki yang telah menyelamatkan hidupnya.


~Flashback on~


Di tepi sungai dekat pemakaman rara duduk sambil menangis terisak, ia terus melihat ke arah danau yang hijau dan bunga teratai yang mekar sangat indah, rara berpikir seandainya suatu saat nanti ia dipertemukan dengan perempuan yang sangat berharga dihidupnya.


"Bundaaa" lirih rara.


"Bundaaa heeee heee... Rara kangen bunda" tangis rara.


"Bunda sedang apa? apakah bunda baik-baik saja?" gumam rara.


"Kata Ayah hari ini genap satu bulan bunda meninggal" lanjut rara.


Lalu rara melihat sosok ibunya memanggil gadis cantik dan lugu itu untuk masuk ke dalam danau yang lumayan dalam itu, karena rara gadis kecil yang polos maka rara nimbrung ke dalam danau itu dan ia tenggelam, tapi rara sempat berteriak minta tolong tapi tak ada orang pun yang datang.


Tiba-tiba ada yang memegang tangan rara, siapakah itu? Apakah dia sang pangeran? Kenapa dia menolong ku? Bunda akhirnya sang pangeran datang menemui rara.


Lalu laki-laki itu menggendong rara ketepi danau dan memeriksa denyut nadi rara lalu ia memberikan rara nafas buatan, sehingga rara siuman dan mengeluarkan banyak air dari mulutnya.


"Uhuk uhuk uhuk.." batuk rara.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya laki-laki itu.

__ADS_1


"Aku dimana?" tanya rara.


"Kamu di_ belum sempat menyelesaikan kalimat rara memotongnya.


"Surga?" tanya rara.


"Bukan, keluargamu dimana?" tanya laki-laki itu.


"Bunda" lirih rara.


"Aku tidak bisa berlama-lama, aku harus pergi, jaga dirimu baik-baik, selamat tinggal" ucap laki-laki itu.


Laki-laki itu pergi meninggalkan rara yang sedang mematung karena syok, ia tak pernah berenang, ia tak tahu cara berenang tapi kenapa bunda menyuruhnya untuk berenang, apa bunda ingin aku mati? Kenapa?.


~Flashback off~


"Seandainya laki-laki itu adalah jodohku, pasti aku akan aman" gumam rara.


"Tuhan... Kenapa kau mengambil semua orang yang berharga di hidupku? Kesalahan apa yang telah aku perbuat sehingga kau menghukum ku seperti ini, pertama kau mengambil Bunda, Sang Pangeran, lalu tak lama lagi kau juga akan mengambil ayah... apa belum cukup penderitaan yang aku pilih ini?" lanjut rara.


Tiba-tiba dari kejauhan seseorang memanggil rara.


"Ternyata ada orang baik dirumah ini" gumam rara.


Kemudian rara berjalan memasuki rumah yang besar itu dan segera memasuki kamar tamu yang sudah disediakan hanya untuknya, rara berbaring dan merasakan betapa sesaknya rumah yang besar ini sehingga membuatnya sulit untuk bernafas.


 Kriiing... Kriiing... Kriiing...


Alarm pun berbunyi, rara masih belum bisa meninggalkan kebiasaannya telat bangun, ia selalu saja bangun pada jam 8 sungguh gadis yang sangat manja, lalu rara berjalan memasuki kamar mandi dengan malasnya.


Setelah selesai mandi rara berjalan menuju tempat ia berdandan, sudah disediakan segala kebutuhannya di kamar tamu itu, seperti baju, alat make up, sepatu dan sebagainya, apa rara harus beruntung atau malah sebaliknya? Entahlah suasana hatinya sedang kacau.


Selesai sudah rara berdandan lalu ia keluar dari kamar untuk sarapan dan rara melihat rumah yang besar ini sangat sepi, seperti kuburan luas besar namun sepi tidak berpenghuni.


"Kak?" sapa rara.


"Eh non ada apa?" tanya pembantu itu.


"Kakak ya yang tadi malem?" tanya rara.

__ADS_1


"Iya non, ada apa ya non, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya pembantu itu.


"Mmm Jason sudah berangkat ke kantor?" tanya rara.


"Ya tuan sudah berangkat 2 jam yang lalu" jawab pembantu itu.


"Pagi sekali, oh ya kakak temenin rara buat sarapan ya untuk jason" ajak rara.


"Panggil saya lilis aja non, gak enak di panggil kakak, saya cuma pembantu disini" jawab lilis.


"Oh ya sudah, lilis mau kan temenin rara?" tanya rara.


"Baik non" jawab lilis.


 


2 Jam sudah akhirnya meeting di kantor Jason pun selesai, tentu rasa lelah dan bosan menyerang Jason, ia sangat benci dengan meeting, terlebih lagi akhir-akhir ini dia akan sangat sibuk karena dia juga harus mengurus perusahaan mertuanya Indra Wijaya Kusuma.


"Hiii..." sapa seorang gadis cantik dan seksi.


"Ngapain lo kesini" balas Jason.


"Aku ingin bersenang-senang dengan kamu Jason" ucap perempuan itu.


"Baiklah sini duduk" ajak Jason.


Lalu perempuan itu duduk di paha Jason dan menyilangkan tangannya pada leher jason, ketika mereka akan berciuman, tiba-tiba pintu ruangan kantor Jason terbuka, siapa yang berani memasuki kantor Jason tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu? sungguh dia cari mati.


Brakkk... Semua isi makanan yang di bawa rara tumpah dan membuat lantai kantor Jason menjadi kotor, dan ditambah rara melihat Jason sedang bercumbu dengan wanita lain, rara sangat terkejut dan mematung melihat wanita itu dipangku oleh suaminya sendiri.


"Eh lo siapa? Berani-beraninya lo masuk tanpa ngetuk pintu dulu!! Gak pernah diajarin sopan santun hah!!" bentak perempuan itu.


"Beresin semua itu sebelum lo pergi dari kantor ini!!" bentak Jason marah.


Kemudian rara membersihkan makanan yang beserakan di lantai sambil menangis dan sesekali melirik kedua iblis itu sedang bercumbu di depannya, sungguh manusia tak punya rasa malu, tak punya hati seperti iblis.


Setelah membersihkan lantai, rara keluar dari kantor itu dan membawa kembali makanan yang ia bawa tadi, terlihat dari sepasang mata karyawan-karyawan yang ada di kantor itu melihatnya iba ada juga yang mengatakan bahwa ia adalah perempuan yang tak tau diri, padahal dia hanya membawakan makanan untuk suaminya dan itu sangatlah wajar, tapi ia malah diperlakukan dengan buruk.


Rara pulang dengan berjalan lalu ia singgah di sebuah taman dimana taman itu sangat sepi, rara duduk di rerumputan yang bersih dan ia melihat ada seekor kucing putih yang sedang kelaparan, lalu ia berniat memberikan makanan yang sudah tumpah tadi, tapi bagaimana kalau kucing itu nanti sakit perut karenanya, lalu apa bedanya ia dengan iblis-iblis itu yang hanya bisa menyakiti.

__ADS_1


Kemudian rara membawa kucing itu pulang bersamanya, ia berniat untuk memelihara kucing itu dan memberikannya makanan yang layak menjadikan kucing itu bagian dari keluarga nya sekaligus temannya.


__ADS_2