Dia Menikahiku Karena Dendam

Dia Menikahiku Karena Dendam
BAB 20


__ADS_3

"Apa yang kau tunggu! cepat gendong dia!" bentak lilis.


Kevin menggendong rara keluar dari gedung itu, banyak sekali darah rara yang keluar sehingga ia menjadi pucat dan tak sadarkan diri.


"Pak bukain pintunya!" teriak kevin kepada supir taxi yang sedari tadi menunggunya.


"Apa yang terjadi mengapa gadis ini berlumuran darah?" tanya supir taxi itu dengan panik.


"Gak usah banyak tanya pak, kita harus cepat ke rumah sakit!" bentak lilis panik.


"Tapi saya tidak bisa menyetir di saat panik seperti ini" jawab supir taxi itu ketakutan.


"By kamu aja sana! cepat!" ucap lilis panik.


"Minggir!" bentak kevin kepada supir taxi itu.


Lalu kevin mengendarai taxi itu dengan kecepatan tinggi dan melesat menuju rumah sakit.


...Rumah Sakit...


"Kakek!" panggil jason.


"Jason" lirih tuan sam.


"Jason khawatir dengan keadaan kakek" tangis jason pecah.


"Kakek tidak apa-apa jason, kamu tidak usah khawatir" ucap tuan sam mencoba menenangkan jason.


"Bagaimana aku tak khawatir sudah dua hari kakek tidak sadarkan diri" jawab jason.


"Cuma dua hari kan bukan 2 bulan" jawab tuan sam.


"Kakek bisa aja, oh ya kakek udah makan?" tanya jason.


"Belum, kakek belum lapar" jawab tuan sam.


"Kakek harus sarapan yah, jason ambil sarapan dulu sebentar" ucap jason.


"Tidak usah" jawab tuan sam.


"Selamat siang" sapa dr.agung.


"Siang dok" balas jason.


"Saya mau memeriksa keadaan pasien sebentar saja" ucap dr.agung.


"Baik dok" jawab jason.


"Oh ya sebaiknya pasien tidak di beri makanan dulu dalam beberapa jam ini agar obatnya cepat bereaksi" jelas dr.agung.


"Baik dok" jawab jason.


"Suster! suster! suster!"


Terdengar suara keributan dari luar yang berteriak memanggil pertolongan dr.agung yang mendengar hal itu langsung keluar dan diikuti jason.


"Suster tolong teman saya!" teriak lilis panik.


"Bawa masuk ke ruang operasi" perintah dr.agung.


"Kevin lilis" gumam jason sambil berlari kearah mereka dan jason melihat rara yang telah berlumuran darah.


"Rara!" teriak jason.


"Cepat bawa dia ke dalam!" perintah dr.agung.

__ADS_1


"Rara!" panggil jason panik mencoba masuk.


"Sebaiknya kalian tunggu di luar biarkan kami bekerja dengan tenang" ucap dr.agung.


"Baik dok" ucap jason pasrah.


"Kakak!" panggil kevin.


"Apa yang terjadi!" teriak jason.


"Aku bisa jelaskan semuanya tapi tidak sekarang" jawab kevin.


"Dan kau! siapa kau sebenarnya! apa hubunganmu dengan nyonya berta!" teriak jason.


"Sudah kak nanti kita jelaskan sebaiknya kakak tenang dulu, ini bukan saatnya bertanya sebaiknya kita berdoa akan keselamatan rara" ucap kevin mencoba menenangkan jason.


"Sebaiknya kamu pergi dari sini lis" ucap kevin.


"Baik" lirih lilis.


"Stop!" bentak jason.


"Orang jahat sepertimu tidak seharusnya dibiarkan begitu saja" ucap jason penuh amarah.


"Tidak ada yang boleh pergi sebelum semuanya jelas" perintah jason.


...Penjara...


Prank...


Piring yang dibawa indra terjatuh dan pecah, diikuti dengan tubuhnya yang seketika lemas dan terjatuh.


"Tolong ada yang pingsan!" teriak salah satu tawanan itu.


"Apa yang terjadi?" tanya ketua polisi kepada dokter yang menangani indra.


"Sepertinya ia tak makan dengan teratur dan sekarang berakibat fatal pada lambungnya" jawab dokter itu.


"Sebaiknya keluarganya diberitahu sebelum ia tutup usia karena penyakitnya sudah diluar dugaan bisa saja ia meninggal nanti, esok ataupun lusa intinya kapan saja seseorang bisa meninggal jika soal penyakit lambung, apalagi lambungnya sudah tak bisa menerima makanan" jelas dokter itu.


"Baik dok, terima kasih atas kerja samanya" ucap kepala polisi itu.


"Sama-sama pak, saya permisi dulu" jawab dokter itu.


...Rumah Sakit...


"Gawat" ucap dr.agung yang tiba-tiba keluar dari ruang operasi dan membuat jason, kevin dan lilis sedikit kaget.


"Kenapa dok?" tanya jason sambil beranjak dari duduknya.


"Pasien terlambat dibawa kesini dan pasien banyak kehilangan darah" julas dr.agung.


"Lalu bagaimana dok?" tanya likis panik.


"Diam!" bentak jason kesal.


"Darah golongan AB saat ini sudah diberikan kepada pasien tetapi tidak cukup dan kami telah mencari di beberapa rumah sakit lain semuanya kosong" jawab dr.agung.


"Lalu saya harus mencari dimana dok?" tanya jason panik..


"Apa diantara kalian tidak ada yang memiliki golongan darah AB?" tanya dr.agung.


"Saya dan adik saya A dok" ucap jason.


"Kalo kamu lis?" tanya kevin.

__ADS_1


"Aku O vin" jawab lilis.


"Mungkin keluarga pasien, biasanya pasien darahnya sama dengan ayahnya" tanya dr.agung.


"Pak indra" gumam jason.


Lalu ia berlari keluar dari rumah sakit, memasuki mobilnya dan melesat dengan kecepatan tinggi.


...Penjara...


"Tolong panggilkan saya pak indra" perintah jason.


"Pak indra sekarang sedang sakit dan berada di ruang rawat" jawab salah satu polisi itu.


"Boleh saya menemuinya?" tanya jason.


"Tapi saya mohon atas kesadaran pak jason agar tidak menyakiti beliau" ucap polisi itu meminta pengertian jason.


"Baik pak" jawab jason.


Lalu mereka pergi menemui indra yang sedang terbaring di ranjang tempat ia dirawat.


"Apakah dia belum sadarkan diri?" tanya jason.


"Sudah beberapa menit yang lalu tapi mungkin beliau sekarang sedang tertidur karena ia butuh istirahat yang maximal" jawab polisi itu.


"Kalau saya boleh tau apa penyakitnya?" tanya jason.


"Yang saya tau hanya waktunya didunia ini sudah tak lama lagi pak" jawab polisi itu.


"Bagaimana bisa, anaknya sekarang sedang sekarat dan membutuhkan bantuannya, tetapi dia akan pergi begitu saja!" ucap jason tak percaya.


"Semuanya sudah dikehendaki tuhan kita tidak tau itu hanya perkiraan seorang dokter" jawab polisi itu.


"Apa yang terjadi terhadap putriku" lirih indra kesakitan.


"Putrimu sedang sekarat antara hidup dan mati" jelas jason.


"Mengapa itu bisa terjadi? apa kau yang melakukan itu semua kepada putriku?" lirih indra menahan sakitnya.


"Intinya hanya kau yang bisa menolong putrimu sekarang, jika kau mau ia selamat maka ikutlah dengan ku jika kau ingin dia mati maka tinggalah disini dan tunggu kabar kematian putrimu" jelas jason.


"Tidak putriku tidak akan mati aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, dia harus hidup bahagia seperti mimpinya saat masih kecil dulu, memiliki keluarga yang utuh dan seorang anak yang bisa menjaganya" lirih indra menangis mengingat masalalunya.


Flashback on


"Ayah ayah" panggil gadis kecil itu.


"Iya sayang?" jawab indra.


"Mengapa ibu pergi meninggalkan kita?" tanya gadis kecil itu.


"Itu karena tuhan sayang sama ibu, ibu harus kembali kepada tuhan sayang" jawab indra menahan tangisnya.


"Ibu kan ibu yang paling baik di dunia pantas saja tuhan mengambilnya, iya kan ayah?" tanya rara polos.


"Iya sayang, besok kalau rara sudah dewasa, rara harus seperti ibu yah" ucap indra sedih.


"Tentu saja ayah, aku ingin seperti ibu yang selalu menyayangi ayah dan kelak aku akan melahirkan seorang anak yang bisa melindungiku dan aku tidak akan meninggalkan anakku seperti ibu meninggalkan ku" ucap rara senang.


"Tentu saja, ayah tidak akan membiarkan rara meninggalkan dunia ini sebelum rara menjadi seorang nenek" ucap indra terharu.


"Berjanjilah ayah, kelak kita akan bahagia bersama" ucap rara.


Tidak ada jawaban ketika menoleh rara melihat ayahnya sudah tertidur, tentu saja indra pura-pura tertidur untuk menghindari kalimat gadis kecilnya itu, karena perjanjian seperti itu tidak bisa dipastikan ia hanya tak ingin rara sedih jika ia melanggar janji terhadap gadis kecilnya itu.

__ADS_1


__ADS_2