Dia Menikahiku Karena Dendam

Dia Menikahiku Karena Dendam
BAB 11


__ADS_3

reeet...(suara pintu terbuka)


"Eh non rara sudah selesai pakai baju yah, maaf ya non saya lama" ucap lilis.


"Tidak apa-apa kok lis, oh ya siapa yang nelpon tadi?" tanya rara.


"Eh.. itu.. anu non.. eh.. temen saya dari kampung" jawab lilis terbata-bata.


"Pacar lilis yah, ciee" ejek rara.


"Eh gak kok non temen cewek, saya gak punya pacar non, mana ada yang mau sama saya" gumam lilis.


"Kamu kan cantik masa sih gak ada yang suka" jelas rara.


"Terserah non deh, yaudah yuk kita keluar non kan belum makan malam" ajak lilis.


"Kayaknya malam ini aku gak makan dulu deh lis" jawab rara.


"Kenapa non?" tanya lilis.


"Gak apa-apa lis cuma masih gak enak badan aja" jawab rara.


"Tapi non kalo tuan cariin non saya harus jawab apa?" tanya lilis.


"Bilang aja saya masih gak enak badan" jawab rara.


"Baik non, emm kalo gitu saya permisi dulu yah, nanti kalo ada apa-apa non rara tinggal panggil saya" ucap lilis.


"Ya lis, mkaasi yah udah baik banget sama aku" ucap rara tersenyum


"Itu tugas saya non sebagai pembantu di sini, sudah seharusnya melayani non rara dengan baik" jelas lilis.


"Hmm yaudah deh terserah lilis hehe" cengenges rara.


"Yaudah non selamat malam" ucap lilis.


"Too lilis" balas rara.


Lalu lilis keluar dari kamar Jason untuk melaksanakan tugasnya sebagai pembantu itu.


Setelah ia menuruni tangga dan ia berhenti tepat di depan meja makan memandang Jason sinis seolah-olah ia tak suka.


"Apa yang kau lakukan di situ, dimana rara?" tanya Jason.


"Emm non rara tidak mau makan malam tuan" jawab lilis.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya jason.


"Kata non rara, dia tidak ingin melihat wajah tuan yang terlihat seperti srigala yang buruk rupa lebih baik ia mati daripada harus melihat wajah tuan" jawab lilis menunduk penuh ketakutan.


Brakkk...


Semua makanan tumpah dan berserakan di lantai, amarahnya sudah meluap baru kali ini ia mendapat penghinaan sepeeti itu berani sekali wanita yang mengatakan kalimat itu.


Jason lalu beranjak dari duduknya dan pergi menuju kamarnya, ia sangat marah sehingga sup yang panas mengenai bajunya pun tak bisa ia rasakan karena suhu tubuhnya saat ini mungkin sudah sama seperti panasnya sup itu.


Brakkk...


Suara pintu kamar jason yang di buka dengan kasar, lalu jason masuk dan menarik tangan rara dengan kasar keluar dari kamarnya menuju meja makan.


Rara hanya bisa menangis dan memeberontak atas perlakuan kejam jason terhadap dirinya, rara tak tahu apa yang terjadi mengapa jason bisa semarah ini terhadapnya.


Setelah sampai di ruang makan jason melepaskan genggamannya sambil melempar rara dengan kasar ke arah makanan yang tumpah di lantai itu.


"Makan!" bentak jason.


"hiks hiks hiks" tangis rara.


Lalu jason menghampiri rara dan memegang wajah yang cantik dan polos itu.


"Kenapa sayang? sakit yah? kalo sakit harus makan yah" jelas jason.


"Kamu harus makan biar sehat!" bentar jason sembari menyodokan makanan yang tumpah itu kemulut rara.


Semua pelayan menyaksikan perlakuan jason terhadap rara, mereka semua merasa iba tapi mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka hanyalah pelayan.


"Kunyah doong!" bentak jason.


"hiks hiks hiks" tangis rara.


"Jangan nangis dong sayang, ayok makanannya dikunyah terus ditelen biar sehat" jelas jason.


Karena terus dipaksa rara pun menelan makanan yang kotor itu sambil terus menangis, ia teringat ayah dan ibunya yang sellau memperlakukan dirinya dengan baik dan tak pernah menyakitinya sedikitpun.


Tapi rara sadar bahwa semua itu sudah berlalu dan tidak akan bisa terulang kembali, karena ia harus menerima takdirnya saat ini yang mengharuskan rara untuk terus sabar akan perlakuan suaminya yang kejam itu.


"Bagus... gadis pintar, kamu terlihat cantik seperti ini, aku akan sering melakukannya sayang" ejek jason.


"Mengapa kau terus menyiksaku, kapan kau akan mengakhiri semua ini" gumam rara terisak.


"Oh jadi kau lupa apa yang telah ayahmu perbuat terhadap wanitaku!" bentak jason.

__ADS_1


"Dan ini tidak akan pernah berakhir sampai kau mati sayang" lanjut jason sinis.


Lalu jason pergi meninggalkan rara yang masih duduk di lantai dan para pelayan yang sedari tadi menyaksikan betapa kejamnya jason terhadap istrinya yang malang itu.


Lilis yang sedari tadi hanya berdiri akhirnya berjalan menuju arah rara dan ia membantu rara untuk berdiri dan membersihkan diri.


"Non rara seharusnya tadi mendengarkan saya untuk makan malam bersama tuan" ucap lilis.


"Semuanya sudah terjadi lis, gak apa-apa kok ini sudah menjadi takdir ku" jelas rara tersenyum.


"Tapi kan setidaknya non rara tidak akan diperlakukan seburuk itu" ucap lilis.


"Sebenarnya saya heran lis, kok jason bisa semarah itu padahal kan saya cuma gak ikut makan malam" ucap rara sedih.


"Emm tuan emang gitu non, tidak di turutin sedikit langsung meledak kan non rara tau sifat tuan seperti apa" jelas lilis.


"Iya juga sih" ucap rara.


"Makanya lain kali non harus nurut" jelas lilis.


"Eh udah sampai, makasih ya lis udah anterin saya sampai depan kamar" ucap rara.


"Udah tugas saya kok non" balas lilis.


"Yaudah lilis balik aja ke kamar lilis, rara bisa mandi sendiri kok" ucap rara.


"Non rara yakin gak mau dibantuin nih?" tanya lilis.


"Iya lis gak apa-apa kok" jawab rara.


"Yaudah selamat malam non rara, mimpi indah ya" ucap lilis.


"Iya lis makasih" jawab rara.


"hhh dasar bodo*" .


Lalu lilis melenggang pergi meninggalkan rara dan menuju kamarnya untuk istirahat karena seharian full harus menyaksikan drama yang begitu banyak dan membuatnya lelah.


Dikamar mandi rara bercermin dan melihat betapa hancurnya dirinya saat ini, ia lalu menangis dan mengingat kembali kebahagiaannya yang dulu yang sekarang tak bisa ia rasakan lagi.


"Rara kangen sama ayah hiks.. hiks.. hiks.. ayah lagi apa sekarang, rara pengen banget ketemu sama ayah, rara kangen banget" gumam rara terisak.


Setelah lama berada di dalam kamar mandi lalu rara keluar dan memakai baju tidurnya dan tidur dikamar yang tenang tanpa ada sosok manusia yang menyeramkan seperti jason itu.


Rara tak bisa tidur ia terus memikirkan ayahnya yang sekarang sedang berada di penjara, rasanya ingin sekali ia pergi melihat keadaan ayahnya sekedar memastikan keadaannya saat ini tetapi bagaimana ia bisa kesana, untuk keluar ke halaman rumah saja ia tidak diperbolehkan.

__ADS_1


Lama merenung dan mengingat masalalunya rara pun terlelap dengan tenang tanpa ada suara yang mengganggunya seperti hari-hari biasanya.


Tetapi ia tetap tak akan lupa bahwa hari esok, lusa dan seterusnya akan tetap merasakan siksaan dari seorang suami yang seharusnya melindungi bukan menyiksanya.


__ADS_2