
Minggu, 2 Januari 2023.
Hari ini adalah hari terakhir liburanku, besok aku sudah mulai berangkat sekolah. Aku memutuskan untuk berjalan-jalan ke taman yang jaraknya lumayan jauh dari rumahku.
Ngomong-ngomong, duniaku adalah dunia modern biasa. Sihir hanyalah dongeng. Kultivator, dewa, iblis hanya fiktif belaka. Namun, semua itu mungkin akan berubah.
...[Misi Utama]...
...Nikmati waktu luang Host di dunia yang belum berubah ^_^...
...Perubahan Bumi I: 100 tahun...
Misi utama sistem telah diperbarui tadi pagi saat aku bangun tidur. Aku menanyakan beberapa hal tentang misi utama kepada sistem dan mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1) Perubahan Bumi bersifat acak. Aku tidak mengetahui apa yang berubah untuk kedepannya, Sistem tidak mau memberitahuku. Entah itu kandungan Mana atau Qi yang ada di bumi meningkat. Atau monster yang bermunculan. Atau mungkin datang penjajah dari luar bumi, aku tak tau.
2) Bumi akan mengalami beberapa tahap perubahan, tahap pertama dimulai 100 tahun lagi sesuai dengan yang tercantum di misi utama. Tahap berikutnya aku masih belum tau.
3) Ini hanya perkiraanku saja, tapi patut dipertimbangkan. Perubahan pada bumi mungkin bisa semakin cepat atau lambat.
Itulah tiga kesimpulan yang ku ambil. Sebenarnya aku ingin hidup santai, tapi Sistem memaksaku untuk selalu bergabung dalam konflik. Tapi, aku sudah menemukan solusi untuk itu.
Agar misi dari Sistem selesai atau agar aku dapat menyelesaikan masalah tanpa ikut andil, maka aku membutuhkan suatu bawahan. Jadi, tujuan aku pergi ke taman adalah untuk mencari bawahan.
“Sistem, buka panel pengikut.”
...[Daftar Pengikut]...
...Kosong...
Apa kalian melihatnya? walau masih kosong tapi sebentar lagi akan terisi. Mungkin kalian bertanya dimana fitur yang lain, aku akan menunjukkannya saat sudah mendapat pengikut jadi tenang saja.
Saat aku hampir sampai di taman, aku mendengar suatu percakapan dari jarak 99 meter. Bagaiamana aku bisa mendengarnya? The Law of Invincible selalu aktif, aku tau keadaan 100 meter di sekitarku. Aku menghentikan langkahku, lalu duduk mendengarnya.
__ADS_1
“Aku melakukan kesalahan.”
Suara perempuan mengatakan hal tersebut dengan nada sedih.
“Apa maksudmu?”
Jawab seorang laki-laki, sepertinya dia tidak mengetahui maksud si perempuan.
“Ingat pria yang aku ceritakan sebelumnya? dia pacar pertamaku saat SMP.”
“Ya, aku ingat. Kau bilang dia sudah memiliki pacar.”
“Benar, lalu tidak lagi. Aku melihatnya di taman, tempat kita berada sekarang. Pacarnya meninggalkan dia satu bulan lalu. Aku berbicara dengannya saat itu dan...”
“Dan? lanjutkanlah.”
“Membiarkan dia bersetubuh denganku...”
“Bersetubuh denganmu? hingga ciuman?”
“Ya...kami melakukan keduanya.”
Aku tercengang mendengarnya, rasanya aku ingin tertawa tapi tak enak dengan sang laki-laki yang tengah bersedih.
“Baiklah, aku pergi.”
Laki-laki itu berdiri, ingin beranjak pergi dari hadapan si perempuan. Tapi, si perempuan menghentikannya seraya membela dirinya.
“Untuk sesaat lalu aku hentikan dan kembali padamu. Entahlah, mungkin ini satu momen gila dihadapan kita. Karena aku mencintaimu Chu Feng, aku mencintaimu.”
“Itu bukan cinta, itu rasa bersalah. Cinta itu kepercayaan.”
Laki-laki bernama Chu Feng itu tersenyum menjawab pembelaan pacarnya.
__ADS_1
“Bukan—”
“Itu adalah kebenarannya. Lalu kau menghancurkannya Qingyin.”
“Tidak, ini bukan seperti yang kau pikirankan Chu Feng! cinta itu banyak hal!”
“Lu Qingyin...kau adalah pacar pertamaku...Aku tidak pernah sekalipun menyentuhmu selama kita pacaran, kurang lebih tiga tahun bukan? kau tau kenapa aku tak pernah menyentuhmu sedikitpun?”
Laki-laki itu menoleh ke arah Lu Qingyin yang menghentikannya, namun perempuan itu hanya diam tak menjawab.
“Agar saat melamarmu aku tak kehilangan muka di hadapan orang tuamu. Aku tak ingin merusakmu...”
Laki-laki itu melanjutkan perkataannya dengan senyum terukir di wajahnya, aku tau dia sedang menyembunyikan kesedihannya.
“Tapi, balasan yang kau berikan adalah selingkuh di belakangku?”
“Aku tidak seling—”
“Cukup, aku tau kau 'tak sengaja' melakukan hal itu. Aku menghargai keputusanmu, jadi bisakah kau menghargai keputusanku? biarkan aku pergi dan hubungan kita berakhir.”
Perempuan itu tak bisa menjawab, dia perlahan-lahan melepaskan tangannya yang memegang baju laki-laki itu. Saat perempuan itu sudah melepaskan laki-laki itu, dia menunduk melihat tanah.
“Hubungan kita berakhir di sini. Terima kasih karena pernah singgah di kehidupanku. Aku tak akan mengatakan hal ini kepada orang lain, jika ada yang bertanya kenapa hubungan kita berakhir. Katakan saja bahwa aku meninggalkanmu.”
Laki-laki itu mulai membuang wajahnya ke depan, dia tak melihat perempuan itu lagi. Lagi-lagi perempuan itu hanya terdiam mendengar perkataan sang laki-laki.
“Untuk terakhir kalinya...terima kasih.”
Laki-laki itu beranjak pergi meninggalkan perempuan itu, tak ada air mata yang menetes sedikitpun walau hatinya terluka. Kisah mereka telah berakhir.
“Jackpot! aku mendapat kandidat pengikut!”
Bersambung
__ADS_1