Diary Of Jianren

Diary Of Jianren
Bab 26 - Mulai Bercerita!


__ADS_3

Beberapa saat ke depan kami saling berdiam diri. Tidak ada di antara kami yang membuka percakapan. Aku sengaja melakukan ini agar dia bisa menenangkan diri terlebih dahulu. Setelah situasi menjadi lebih baik, aku akan mulai berbicara.


Aku mengamati pria itu dengan teliti. Ternyata aura yang sebelumnya aku lihat bukan dari pria itu, tapi dari sebilah pedang panjang di tangannya. Namun, aura itu terlihat telah menyatu dengan pria itu menjadi sumber yang sama.


“Sejak kapan kau memegang pedang itu?”


Aku mulai berbicara padanya, mencoba lebih dekat dengannya.


“Sejak ayahku meninggal.”


“Aku turut berduka.”


Suasana menjadi hening. Aku ingin melanjutkan pembicaraan ini, tapi aku merasa dia ingin mengatakan sesuatu padaku terlebih dahulu.


“Apa kau ingin mendengar ceritaku?”


“Apa kau yakin bercerita dengan orang asing?”


“Hahaha, lagipula hidupku sudah tidak lama lagi. Jadi, untuk apa waspada kepada orang asing yang aneh sepertimu?”


“Tubuhmu tampak sehat, mengapa kau berpikir hidupmu sudah tidak lama lagi?”

__ADS_1


Pria itu terdiam mendengar pertanyaanku. Sebenarnya aku sudah tau jawabannya, namun aku penasaran saja dengan jawaban yang keluar dari mulutnya.


“Apa kau ingin bunuh diri?”


Lagi-lagi pria itu hanya diam. Aku hanya bisa menghembuskan napas seraya berkata, “Mulailah bercerita teman...”


“Teman, ya?”


Aku hanya diam mendengar ucapannya, sepertinya ada luka tersendiri dari kata 'teman'.


“Ibuku meninggal dunia saat melahirkanku. Ayahku merawatku seorang diri. Dia adalah ayah terhebat bagiku.”


Pria itu mulai bercerita walaupun wajahnya menghadap ke arah lain. Aku tidak menghiraukan sikapnya, toh dia sedang dalam keadaan sedih.


‘Orang yang bahkan bisa mengungguli tiga keluarga besar di Kota Karta? menarik.’


Aku tersenyum mendengar cerita pria itu. Sungguh aku tak tau latar belakangnya dulu di simulasi dunia ke-1. Aku hanya tau dia adalah orang yang setia dan periang.


“Namun, entah mengapa dia tidak mengeluarkan seluruh kemampuannya. Kata ayahku, dia hanya bisa membuatku berkecukupan. Tapi, tidak bisa membuatku melambung tinggi.”


“Lalu, disaat kematiannya. Ayah mengucapkan sesuatu padaku. Itu adalah permintaan terakhir darinya.”

__ADS_1


“Bangkitkanlah Keluarga Xu, gunakan pedang ini untuk menebas musuhmu. Ingat, ketika kekuatanmu belum cukup, maka jangan terlalu memancing perhatian. Musuh ayahmu ini ada dimana-mana, kau harus tetap berhati-hati anakku.”


“Setelah mengatakan semua itu ayahku meninggal...”


Pria itu menangis dalam diam, dia menunduk menatap tanah agar tidak ada orang yang melihatnya menangis.


“Ayahmu sepertinya meninggalkan pesan tersirat.”


Aku merasa ayah pria itu bukan orang sederhana. Pada akhir hayatnya dia bahkan meninggalkan pedang yang mengerikan kepada anaknya. Entah apa yang telah di alami ayah pria ini.


“Aku tau. Ayahku berasal dari Keluarga Xu. Dia memiliki musuh yang mungkin masih mencarinya hingga saat ini. Mungkin itu juga alasan ayahku tidak mengeluarkan seluruh kemampuannya. Lalu, pedang ini juga tidak biasa.”


“Kesimpulan yang bagus. Jadi, kau berpikir untuk bunuh diri agar terbebas dari masalah ini? kau tidak mau membangkitkan Keluarga Xu lagi? Bagaimana dengan permintaan ayahmu?”


“Aku tau! aku tau!”


Dia berteriak menjawab pertanyaanku, dia terdengar tidak kuat dengan harapan yang diberikan kepada orang tuanya itu.


“Aku memiliki teman masa kecil perempuan. Dia adalah perempuan yang selalu menemaniku hingga saat ini. Sebenarnya aku ingin menikah dengannya setelah lulus SMA. Tapi...”


Dia melanjutkan bercerita. Setelah bercerita tentang orang tuanya, dia bercerita tentang kekasih masa kecilnya. Aku sudah merasa cerita tentang kekasih masa kecilnya akan berjalan sedih lagi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2