
Dia melanjutkan bercerita. Setelah bercerita tentang orang tuanya, dia bercerita tentang kekasih masa kecilnya. Aku sudah merasa cerita tentang kekasih masa kecilnya akan berjalan sedih lagi.
“Dia telah bersama orang lain. Hatiku telah hancur dibuatnya...”
Aku tetap diam. Aku merasa kesedihannya tidak berakhir di situ. Pasti ada yang membuatnya lebih hancur.
“Apa kau tau siapa pria yang bersamanya?”
“Tentu tidak. Kau belum mengatakannya padaku. Bagaimana aku bisa tau? lucu sekali.”
Aku menjawab pertanyaan bodoh pria itu seraya tersenyum. Aku tau kalau dia hanya berbasa-basi, tapi aku akan menanggapi basa-basi pria itu dengan serius.
“Pria yang bersamanya adalah 'teman' terbaikku.”
Seakan tidak terlalu memikirkan jawabanku. Pria itu mengatakan identitas pria yang bersama kekasih masa kecilnya dengan marah, kesal, sedih. Semua emosi negatif bercampur aduk. Dia menatapku dengan tatapan gelap.
“Terakhir kali aku bertemu dengannya. Dia mengucapkan 'maaf' sambil pergi dengan perempuan itu. Hatiku semakin hancur.”
Aku menjadi paham mengapa dia menekankan kata 'teman' sebelumnya. Ternyata kekasih masa kecilnya sudah bersama teman terbaiknya. Akupun juga akan sedih jika berada di posisinya. Namun, itu diriku yang dulu.
“Jadi, kau memutuskan untuk bunuh diri hanya karena itu? serendah itu usaha orang tuamu dibandingkan dengan seorang perempuan?”
“Orang tuamu sudah susah payah melahirkanmu di dunia ini dan kau dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Ibumu mengorbankan nyawanya demi dirimu. Ayahmu mengorbankan umurnya untuk membuatmu tumbuh dewasa. Lalu, dengan mudahnya kau ingin mengakhiri hidupmu karena seorang wanita?”
__ADS_1
“Kau sungguh lucu, teman.”
Setelah kembalinya diriku dari White Room, baru kali ini aku berbicara panjang lebar untuk seseorang.
Saat ini pria itu hanya terdiam mendengar ucapanku. Mungkin dia sedang merenungi kelakuannya semasa hancur. Aku memanfaatkan momen ini untuk menguji Heavenly eyes.
‘Heavenly eyes!’
Nama: Xu Zhentian
Umur: 17 tahun
Gender: Pria
Seketika langsung muncul informasi mengenai pria itu. Ya, dia temanku Xu Zhentian. Informasi yang terpapar di depanku sudah benar. Hanya saja 'status' terlalu banyak. Dia memang dalam kondisi yang buruk.
‘Tidak ada informasi yang lain, hanya ini yang dapat dilakukan ‘Heavenly Eyes'?’
‘Semakin lama waktu berjalan, kekuatan 'Heavenly Eyes' juga semakin kuat. Host hanya perlu bersabar.’
‘Kalau begitu aku akan menggunakan—’
‘Host tidak bisa mempercepat proses dengan The Law of Time.’
__ADS_1
‘Sial!’
Seakan mengetahui rencanaku, sistem langsung memotong perkataanku. Aku mau marah, tapi itu hanya perbuatan sia-sia. Marah dengan sistem tidak akan mengubah keadaan.
Setelah selesai mencoba Heavenly eyes, aku menunggu beberapa menit untuk bertanya nama temanku ini. Aku belum berkenalan dengannya saat ini, kami adalah orang asing. Lalu, saat waktu sudah berjalan agak lama. Aku langsung berkenalan dengannya.
“Siapa namamu teman? aku Ye Jianren.”
“Xu Zhentian.”
Dia menjawabku dengan lemas seperti sebelumnya. Tanpa menoleh padaku, hanya menunduk menghadap tanah.
‘Sepertinya dia masih merenung. Lebih baik aku pergi meninggalkannya. Biarkan dia memiliki waktu sendiri.’
Akupun berdiri, hendak beranjak pergi meninggalkan Xu Zhentian seorang diri. Saat aku sudah berjalan lima langkah darinya, aku menoleh ke belakang menatap dirinya yang menunduk sembari memberinya beberapa kata omong kosong.
“Permainan berakhir saat raja hancur, bukan saat ratu menghilang. Jika kau memang ingin berubah, temuilah aku di alamat ini besok malam temanku.”
Aku melemparkan sebilah kertas yang sudah dilipat, Xu Zhentian dengan tangkas menangkapnya. Lalu, aku melanjutkan berjalan pergi.
‘Aku hanya dapat melakukan hal ini. Untuk masa depan, itu tergantung keputusanmu temanku.’
Bersambung
__ADS_1