
Pukul 08.20 aku telah sampai di cafe tempat pertemuan. Cafe itu bernama Kafein Karta, satu dari sepuluh cafe terbaik di Kota Karta.
Aku orang pertama yang berkunjung pada hari itu, mereka buka jam 08.00. Pertemuanku dijanjikan jam 08.30. Aku memesan minuman sembari menunggu tunanganku. Aku tidak suka kopi, aku lebih suka susu. Jadi, aku membeli Milkshake Vanilla satu.
“Ini pesanan Anda, selamat menikmati.”
Pelayan menyajikan pesananku lima menit setelah aku memesannya. Aku meminun sedikit demi sedikit seraya melihat pemandangan di luar.
Tepat pukul 08.30 pintu cafe terbuka. Aku melihat ke arah pintu untuk memastikan siapa yang datang.
‘Eh?’
Aku terkejut dalam hati setelah menoleh ke pintu. Sesosok perempuan berambut perak dan anggun mendekat ke arahku. Tapi, yang membuatku terkejut adalah dia perempuan yang kemarin aku selamatkan.
‘Dia bukan tunanganku, kan?’
Perempuan itu semakin dekat kepadaku. Setelah dia sampai di depanku, dia duduk sembari menatapku dengan mata birunya.
“Kau Yang Jianren?”
Tanya perempuan itu saat pertama kali menatapku. Aku hanya dapat mengangguk setuju.
“Aku tak memesan minuman untukmu karena aku tidak tau kesukaanmu. Kau bisa pesan sendiri.”
“Baiklah.”
Perempuan itu kembali berdiri dan menuju kasir, memesan minuman untuknya sendiri. Aku hanya melihat punggung wanita itu sembari mengutuk perkataanku kemarin saat menyelamatkannya.
‘Semoga aku dijauhkan dari perempuan seperti ini, aku masih ingin hidup tenang. Sungguh omong kosong yang paling sampah di bulan ini. Sekarang aku malah bertunangan dengannya.’
Tidak aku sangka wanita itu adalah tunanganku. Apakah ini takdir? jika ini memang takdir, maka takdirku sungguh sial. Aku berniat hidup santai untuk saat ini, tapi malah langsung diberikan tunangan cantik. Sepertinya hidupku di masa depan tidak akan damai.
“Mengapa kau melamun?”
“Tidak apa-apa. Kau sudah selesai memesan?”
“Ya, aku sudah pesan.”
Wanita itu telah kembali. Dia duduk di depanku sembari menatapku lagi. Jujur saja aku agak terganggu dengan tatapannya.
“Ngomong-ngomong, siapa namamu?”
“Kau belum tau namaku?”
“Iya, Ibu tidak mengatakannya padaku.”
Untuk apa aku bertanya namanya jika aku sudah tau. Apa dia pikir aku berbohong atau hanya sekedar basa basi?
“Namaku Shan Shui Qing.”
Jawab wanita itu datar. Dia masih menatapku dengn serius. Aku hanya bisa diam walaupun menyadari tatapannya yang mengganggu. Aku tak enak hati ingin menegurnya, lebih baik tunggu beberapa menit dulu.
Lima menit berlalu, dia lagi-lagi masih mentapku. Suasana diantara kami menjadi canggung.
“Ini pesanan Anda, selamat menikmati.”
Untung saja seorang pelayan mengantarkan pesanan Shan Shui Qing tepat waktu.
“Terima kasih.”
Shan Shui Qing mengalihkan pandangannya dariku, dia berterimakasih pada pelayan itu tanpa mengeluarkan ekspresi apapun. Lalu, pelayan itu pergi.
“Sudah aku putuskan bahwa kau bukan tipeku.”
Sesaat pelayan itu pergi, Shan Shui Qing mengungkapkan ucapannya padaku. Kali ini dia menatapku dengan sinis.
__ADS_1
“Lihatlah tampangmu yang pas-pasan.”
“Pakaianmu yang tidak bermerk.”
“Dan kau bukan dari Kelas Incredible, kan?”
Berangsur-angsur dia mengungkapkan perkataannya yang kejam kepadaku. Jika aku pria biasa mungkin aku akan sakit hati, tapi aku telah melewati masa-masa lebih kejam daripada kata-katanya.
“Ya, aku dari Kelas R.”
“Sudah aku duga! aku tidak pernah lihat wajahmu dikalangan Kelas Incredible.”
Shan Shui Qing melanjutkan merendahkanku tanpa ekspresi bersalah.
‘Siapa juga yang mau jadi tipemu? ribet sekali.’
Cetusku dalam hati agak sedikit kesal mendengar perkataannya. Lagipula jika tidak ada pertunangan ini, mana mungkin aku mau berjumpa dengan wanita sombong ini. Aku sedikit menyesal pernah menyelamatkannya.
“Aku tidak setuju dengan pertunangan ini!”
“Jika kau tak setuju, maka bilanglah pada orang tuamu dan batalkan pertunangan kita. Apa kau pikir aku terlihat setuju dengan pertunangan ini?”
Aku membalas keluhannya padaku seraya memasang wajah masam.
“Mengapa tidak kau saja yang bilang?”
“Walaupun aku tidak setuju, tapi demi kebahagiaan orang tuaku aku setuju. Jika aku menolak maka Ibuku akan sedih.”
Shan Shui Qing terdiam mendengar ucapanku. Lantas dia berdiri seraya mengucapkan beberapa patah kata padaku sebelum pergi.
“Ah sudahlah. Kau cuman cari alasan! bilang saja kalau kau sebenarnya senang dengan pertunangan ini.”
Dia pergi dengan terburu-buru tanpa memalingkan wajah padaku. Aku membiarkan dia pergi karena tak mungkin aku bisa menghentikannya.
‘Huh, sudah kuduga ini tidak berjalan lancar.’
“Sayang sekali...”
“Sayang sekali apa?”
Suara wanita yang familiar terdengar dari depanku. Dia jelas bukan Shan Shui Qing yang baru saja pergi. Aku menoleh ke sumber suara dan mendapati seorang perempuan dengan jaket hitam dan rok panjang tengah duduk di depanku.
“Ye Shu Yan?”
Ucapku pelan agak terkejut. Skill [The Law Of Invincible] memang selalu aktif, tapi aku jarang memperhatikan ketika waktu santai. Tidak kusangka lengah sedikit saja, seorang bisa muncul di depanku tanpa aku sadari.
“Ya ini aku. Apa kau terkejut?”
“Sedikit.”
“Hahahaha, responmu sungguh lucu Jianren!”
Dia tertawa menatapku, entah apa yang dipikirkan wanita di depanku ini.
Setelah tunanganku pergi, lalu datang perempuan ini. Sungguh takdir yang merepotkan. Untung saja sikap mereka tidak sama.
“Ngomong-ngomong, siapa perempuan tadi?”
“Tunanganku.”
“Hah? tunangan?”
Entah kenapa mendengar kata 'tunangan' membuat Ye Shu Yan di depanku menatap dengan tajam. Dia meletakkan buku yang di bawanya sembari menyeruput minum yang dia beli.
“Rasa apa?”
__ADS_1
Tanyaku basa basi dengannya, mencoba menenangkan suasana. Aku merasa suasana diantara kami agak sedikit aneh.
“Milkshake vanilla.”
Jawab Ye Shu Yan acuh tak acuh. Dia membuang pandangan ke arah lain.
“Wanita itu beneran tunanganmu?”
Aku meminum beberapa teguk milkshakeku dan membalas ucapan Ye Shu Yan sembari memandang arah lain.
“Ibuku dan Ayahku yang membuat pertunangan ini. Aku hanya bisa menerima keputusan mereka.”
“Apa kau senang?”
“Tidak, jujur saja aku tidak senang dengan pertunangan ini. Tiba-tiba dijodohkan dengan wanita yang tidak aku kenal.”
“Mengapa kau tidak menolaknya saja?”
“Agar orang tuaku tidak sedih, apalagi Ibuku.”
“Hmmmm...”
Glup.
Dalam sekali teguk Ye Shu Yan menghabiskan minumannya, lalu kembali menatapku dengan antusias.
“Bagaimana jika menikah denganku saja?”
“Uhuk, Uhuk.”
Aku terbatuk mendengar ucapannya yang sembrono. Jika ini candaan maka ini sama sekali tidak lucu.
“Pernikahan adalah hal yang sakral. Jangan membuatnya sebagai candaan!”
Aku menegur ucapannya yang sembrono dengan halus. Semoga dia mengerti maksud baikku.
“Tapi, aku tidak bercanda. Aku serius.”
Aku menatap matanya lekat-lekat. Tak terlihat kebohongan dari ucapannya. Apa dia serius mengucapkan kata-kata itu?
“Mengapa aku harus menikah denganmu?”
“Agar kau terhindar dari pertunangan dengan wanita itu.”
“Bukankah menikah denganmu atau dengannya akan sama saja?”
“Setidaknya sifatku tak sombong sepertinya.”
Aku tertawa mendengar jawabannya. Sungguh jawaban yang lucu sekaligus benar.
“Kamu sungguh lucu, tapi aku masih menolaknya. Maafkan aku.”
“Suatu saat aku akan mendapatkanmu.”
Ye Shu Yan membulatkan tekadnya, dia melihatku penuh obsesi.
“Padahal kita baru bertemu dua kali, mengapa kau ingin mendapatkanku?”
“Setiap orang memiliki pertimbangan masing-masing.”
“Baiklah, aku akan menghargai keputusanmu. Tapi, jangan sedih jika kau mengalami penolakan.”
Kemudian, Aku dan Ye Shu Yan menghabiskan waktu di cafe selama setengah hari. Lalu, saat sore hari aku bermain di taman bersamanya. Entah mengapa bersama Ye Shu Yan aku merasa lebih nyaman.
Ketika matahari tenggelam kami pulang ke rumah masing-masing. Hari yang menyenangkan dan merepotkan. Namun, ini tidak buruk juga.
__ADS_1
Bersambung