
Kamis, 27 Januari 2023.
Ketika aku hendak berbaring tidur. Tiba-tiba sistem memberi notifikasi padaku. Tanpa pikir panjang aku langsung membuka notifikasi tersebut.
“Ting, sistem membuka fitur baru 'Heavenly Eyes'. Dengan fitur ini, Host dapat melihat status orang lain tanpa dipungut biaya.”
“Mengapa aku tiba-tiba mendapat 'Heavenly Eyes'?”
Aku sedikit terkejut menerima notifikasi sistem yang memberikan hadiah padaku. Jujur saja aku selalu waspada dengan sistem ini. Tiba-tiba dia memberikan hadiah seperti ini, aku jadi khawatir.
“Jika Host tidak menginginkan Heavenly eyes, silahkan bilang kepada sistem. Sistem akan menarik kembali Heavenly eyes yang telah diberikan sebelumnya.”
“Aku tidak bisa menerima pemberianmu ini, silahkan ambil kembali.”
Tanpa ragu aku mengatakan hal tersebut. Tidak ada yang gratis di dunia ini. Bahkan jika itu dari orang terdekatmu.
Beberapa saat kedepan sistem terdiam tak menjawab. Lalu, mulai berkata setelah aku menyuruhnya.
“Mengapa kau diam sistem? apa Heavenly eyes sudah kau ambil lagi?”
“Bagaimana cara agar Host dapat menerima Heavenly eyes tanpa penolakan?”
“Tentukan harganya.”
“10.000 poin.”
“Murah sekali, apa kau serius?”
“Sistem selalu serius.”
__ADS_1
“Aku terima.”
Dalam sekejap 14.500 poin menjadi 4.500 poin. Aku tersenyum menerima keputusan ini. Setidaknya hadiah yang diberikan sistem ini bisa aku dapatkan dengan tidak gratis.
“Selamat, Host telah mendapatkan Heavenly eyes.”
“Ya, ya, terima kasih.”
“Lalu, tunggu apa lagi? mari kita coba!”
Aku segera mengunci kamar, lalu teleportasi ke tempat lain. Mencari orang yang cocok untuk aku coba observasi sekaligus mencari bawahan baru.
“Hmmmm, aku merasakan emosi negatif dari arah itu!”
Aku melihat suatu arah yang memancarkan aura negatif dengan pekat. Aura ini seharusnya tidak bisa dikeluarkan oleh seorang manusia.
“Ketemu. Eh?”
“Ternyata teman lama...”
Aku mulai sadar siapa manusia itu. Dia adalah pria yang seumuran denganku. Kami bersekolah di SMA yang sama, dia di kelas yang berbeda denganku. Lalu, apa yang membuatku familiar?
“Kamu telah menjadi temanku di tutorial simulasi dunia yang ke-1 sekaligus membantuku menyelesaikan misi di dunia itu. Walaupun...kau mengorbankan nyawamu saat itu demi menyelamatkanku.”
‘Aku akan membalas budi hal itu, teman.’
Aku berjalan ke arah pria itu sembari menatapnya. Dia adalah orang yang paling setia dan pantas dijadikan teman. Jarang sekali aku memberikan penilaian tinggi kepada orang lain.
“Yo kawan, apa kau dalam masalah?”
__ADS_1
“Siapa kau? jangan sok akrab denganku. Apa kau tidak takut kepadaku? aku membawa benda tajam!”
Dia memang membawa benda tajam. Benda itu adalah sebilah pedang panjang. Namun, tidak perlu takut karena pedang itu masih dalam sarung dan di bungkus dengan sebuah kain.
“Seorang yang tidak tau cara berpedang, tapi membawa pedang. Bagaimana bisa membuat diriku takut?”
“Apa kau yakin aku tidak bisa berpedang?”
“Mau mencoba?”
Aku tersenyum kepada pria itu sembari mengambil ranting pohon yang tergeletak di tanah. Lalu, mengarahkan sebatang ranting itu ke arahnya.
“Kau orang yang menarik.”
Pria itu membuang muka ke arah lain. Dia terlihat sudah tidak mood untuk menanggapiku lagi. Dia sudah tidak memiliki semangat hidup lagi.
‘Mengapa kau bisa menjadi seperti ini? di simulasi dunia, kau adalah orang yang periang dan murah senyum.’
‘Perlu Host tau bahwa simulasi dunia tidak selalu menggambarkan dunia nyata.’
Tiba-tiba sistem membalasku dengan nada cetus.
‘Diam, tentu saja aku tau. Hanya saja rasanya agak sedih melihat dirinya yang sekarang.’
Aku membuang ranting pohon tadi. Lalu, duduk di sebelah pria itu. “Bolehkan akun duduk di sebelahmu?”
“Kau sudah duduk di sebelahku.”
“Terima kasih.”
__ADS_1
Beberapa saat ke depan kami saling berdiam diri. Tidak ada di antara kami yang membuka percakapan. Aku sengaja melakukan ini agar dia bisa menenangkan diri terlebih dahulu. Setelah situasi menjadi lebih baik, aku akan mulai berbicara.
Bersambung