
Jam menunjukkan pukul 15.30 dan bel pertanda pembelajaran selesai telah berbunyi. Teman-teman kelasku bersorak riang sembari berkemas-kemas.
“Yeyyy!”
Ketika semua orang telah selesai berkemas, guru yang mengajar menutup pembelajaran. Lalu, guru tersebut berjalan pergi meninggalkan kelas diikuti teman-temanku yang lain.
“Gak pulang?”
“Nanti aja.”
Teman laki-laki yang duduk di depanku bertanya padaku dengan ramah, aku membalasnya dengan senyum terukir di wajahku.
“Pulang aja duluan.”
“Oke, aku pulang duluan. Hati-hati Jianren.”
“Yaa...kau juga hati-hati Ma Yun.”
Laki-laki itu bernama Ma Yun dari Keluarga Ma. Dia adalah ketua kelasku. Ayahnya seorang dosen di sebuah universitas dan Ibunya seorang guru. Dia orang yang baik dan ramah. Sangat dapat diandalkan, tidak sepertiku. Dia juga suka menolong temannya yang kesusahan, pokoknya dia sangat bermanfaat bagi orang lain.
Setelah Ma Yun pergi, aku membaca buku 'Black Swan' yang sebelumnya. Tinggal dua orang yang berada di kelas, termasuk aku. Dia adalah Li Lixin.
“Tumben belum pulang, baca apa Jianren?”
“Black Swan, yah aku pulangnya nunggu sepi.”
Jujur saja aku sebenarnya malas untuk membalas, tapi basa-basi ketika melihat orang yang kita kenal adalah suatu aturan tak tertulis yang ada di masyarakat.
“Pake motor?”
“Anggap saja begitu.”
__ADS_1
Ingin aku jawab 'jalan kaki' tapi aku takut Li Lixin tidak percaya, lebih baik menggunakan kalimat ambigu saja.
“Baiklah, aku pulang duluan.”
“Ya, hati-hati.”
Li Lixin pergi meninggalkan diriku seorang diri. Aku masih asyik membaca selama 15 menit kedepan. Setelah aku merasa keadaan sudah sepi, aku mulai berjalan pulang.
Baru beberapa langkah aku keluar dari kelas, tapi aku melihat suatu yang menarik perhatianku. Seorang anak kecil perempuan sedang bernyanyi 100 meter di depanku, dia dalam keadaan duduk.
“Tidak mungkin. Ini baru jam berapa?”
Aku menepuk jidatku, lalu melihat layar ponsel. Rasanya aku ingin langsung pergi menggunakan [The Law Of Space] saja, aku tak ingin berurusan dengan mereka.
“Baru juga jam 15.50. Masa mereka sudah muncul?”
Aku mengembalikan ponsel ke sakuku. Lalu, berjalan kembali dengan tenang. Mencoba menghiraukan anak kecil tersebut.
Aku samar-samar mulai mendengar nyanyian gadis kecil itu.
“Kabut penuh aliran sungai.”
Jujur saja, lagunya enak di dengar. Tapi, aku tetap berusaha menghiraukan gadis kecil itu.
“Dari tepian terlihat katyusha, di tepian curam nan tinggi.”
“Saat berjalan dia bernyanyi, tentang elang perak di stepa.”
“Tentang sebuah cinta sejatinya dan tentang surat berharganya.”
Aku sudah berada tepat di depan gadis kecil itu. Aku berharap dia tak menyapaku. Hiraukan aku saja.
__ADS_1
Seakan perkataanku adalah kutukan, gadis kecil itu berhenti bernyanyi. Lalu, menatapku dengan mata indahnya.
“Hei kamu...”
Aku tetap berjalan menghiraukannya,
“Aku tau kamu bisa melihatku...”
Dia dengan lesu melanjutkan perkataannya, dia tidak peduli kalau aku menghiraukannya.
“Aku minta tolong boleh?”
Dia berjalan mendekatiku, berusaha memegangku tapi dia tak bisa.
“Aku meninggal di sini beberapa abad lalu karena serangan penjajah. Pada saat itu aku sedang berlibur ke daerah ini untuk melupakan kekasihku yang meninggal dalam medan perang.”
Dia bersikeras bercerita mengenai masa lalunya padaku. Tetapi, aku heran mengapa dia mempunyai kekasih? padahal tubuhnya terlihat kecil. Apa mereka menikah dini? entahlah.
“Tak kusangka saat sedang berlibur ke daerah ini. Ada serangan penjajah asing, akupun meninggal tanpa pemakaman yang layak.”
Dia melanjutkan cerita masa lalu walaupun dia tau aku menghiraukan perkataannya.
“Bisakah kamu mencari tulangku dan menguburkannya dengan layak?”
Gerbang sekolah tepat berada 10 meter di depanku, aku tetap berjalan tanpa memedulikan permintaan gadis kecil itu.
Saat aku sudah keluar dari sekolah, gadis itu tak mengikutiku lagi. Sepertinya ada batasan saat dirinya bergerak.
“Jika keputusanmu berubah, tolong temui aku. Terima kasih telah mendengar ocehan gadis hantu ini.”
Dia berkata penuh dengan ketulusan, aku bisa merasakannya. Lalu, perlahan-lahan dia menghilang. Untuk saat ini aku tak bisa membantumu, maafkan aku.
__ADS_1
Bersambung