
Ishaya memegang pipinya menatap Dirga tidak percaya atas apa yang Dirga lakukan padanya, sebuah tamparan yang bahkan Dirga sendiri tidak pernah berikan padanya selama dua belas tahun pernikahan mereka.
"Jangan membuat keributan di sini!" tegas Dirga pada Ishaya.
Ishaya mengangkat kepalanya. "Kamu lebih membela dia daripada aku, oke bagus, Ibu-Ibu bisa liat kan, suami saya ini sudah di cuci otak."
Ishaya berusaha memprovokasi para ibu-ibu disana untuk turut mendukung emansipasi emosi dari dirinya sendiri.
Ibu-ibu yang lain mulai saling berbisik mengenai pernyataan Ishaya yang sudah menghasut mereka sedari awal.
"Saya rasa ada yang harus di perjelas disini," Alma angkat suara.
Alma berjalan ke arah mereka semua dengan tatapan tajam penuh penindasan nan intimidasi, Ishaya terdiam, dia tahu tatapan itu karena Alma pernah memberikan tatapan seperti itu kepadanya.
"Biar aku pertegas semuanya, pertama Pak Dirga sudah bukan suami Bu Ishaya secara agama karena sudah di talak dan kedua, saya memang pelakor, tapi apakah salah saya menjadi pelakor karena dijahati?" tegas Alma.
__ADS_1
"Aku jahat karena aku adalah orang baik yang disakiti," Ishaya mulai mengarah kemana-mana karena sudah panik.
Mendengar itu membuat Alma terkekeh pelan dengan wajah meledek, santai tapi sinis, tidak terkekeh biasa tapi lebih ke terkekeh meledek langsung kepada Ishaya.
"Jika memang kau orang baik, kau tidak akan punya keinginan untuk jadi jahat seberapa disakitipun dirimu, jangan salah mengartikan filosofi," jawab Alma memukul patah kalimat Ishaya.
Ibu-ibu yang tadi ribut, kini terdiam, sepertinya mereka bimbang, ingin membela siapa, Ishaya atau Alma padahal mereka sendiri hanya mendengarkan cerita dari pihak Ishaya bukan pihak Alma.
"Kalian tahu. Lima tahun pernikahan saya, saya dikhianati oleh suami saya dan saya dituntut untuk diam, dan kalian tahu dengan siapa suami saya berkhianat?" Alma menatap mereka semua kemudian menunjuk Ishaya dengan telunjuknya. "Dengan wanita ini."
Semuanya terdiam, benar-benar tamparan telak bagi semuanya, Ishaya terdiam, dia benar-benar lupa kalau dia tengah berurusan dengan sosok Alma yang memiliki seribu satu bahasa untuk membungkam seseorang.
"Saya tidak meminta pembelaan disini, tapi saya ingin kalian semua berpikir memakai logika, wanita mana yang ingin disakiti selama lima tahun lamanya, dan saya merasakan itu semua, bahkan saya ditipu suami sendiri."
"Dan kalian malah kasian dengan Bu Ishaya, sosok yang sudah merebut suami saya terlebih dahulu sedangkan statusnya masih istri Pak Dirga waktu itu."
__ADS_1
"Kalian mengatakan saya murahan, jadi kalau saya tanya sekarang, siapa di antara kami berdua yang murahan?" tanya Alma yang membuat semuanya diam. "Jawabannya, ada pada pikiran kalian sendiri."
Alma berjalan ke arah Ishaya kemudian menatapnya dalam, tidak tajam tapi menusuk yang membuat Ishaya hendak membuang muka sebelum Alma meraih dagunya. "Kau cantik, tapi bodoh, lagi-lagi kau membuat masalah dan aku harus mengeluarkan tenaga untuk memenangkannya."
"Bagaimana rasanya?" lanjut Alma berbisik. "Aku pinjam suamimu, ups maksudnya aku ambil mantan suamimu."
•
•
•
TBC
Assalamualaikum
__ADS_1
Jangan Lupa Like