Dijual Suamiku Dibeli Pamanku

Dijual Suamiku Dibeli Pamanku
BAB 62. Melepaskan Beban


__ADS_3

"Kalian bisa ikut saya ke polisi dan memberikan kesaksian bahwa saya sebenarnya bersalah atas kematian orang tua Alma."


Mendengar penuturan Arlan membuat Alma dan Dirga saling menatap, Alma menarik tangan Dirga untuk berbicara berdua saja, karena ada sesuatu yang ingin Alma sampaikan.


Setelah mendapat waktu bicara berdua, Alma langsung menyampaikan isi hatinya, Dirga diam bersiap mendengarkan calon istrinya.


"Menurut aku Mas Arlan sudah berubah, lagipula kasus kematian Mama dan Papa sudah ditutup sejak lima tahun lalu, apakah harus dibuka kembali?" tanya Alma pada Dirga.


Dirga terdiam, mau bagaimanapun Orang Tua Alma, sangat berjasa bagi Dirga jadi mengetahui kematian keduanya karena disengaja membuat Dirga juga cukup marah.


Tapi karena pada dasarnya Alma dan Dirga bukanlah orang yang ingin menguatkan ego sendiri sehingga membuat mereka berusaha legowo karena kasus ini sudah ditutup sejak lama.


"Kita maafkan saja Arlan?" tanya Dirga yang membuat Alma mengangguk.


Dirga tersenyum, dia menarik Alma ke dalam pelukannya, dia sangat bersyukur karena calon istrinya memiliki hati yang besar.


"Aku yakin, Mama dan Papa juga bakal senang kalau Mas Arlan berubah dan aku rasa Mas Arlan beneran berubah," jelas Alma pada Dirga.


Setelah mereka berdua berbicara mereka kembali menemui Arlan yang sedang bersama Deno di depan mobil, Alma dan Dirga saling menatap kemudian menjelaskan.

__ADS_1


"Mas Arlan gak perlu menyerahkan diri ke polisi, memang sakit rasanya mengetahui Mas Arlan adalah Pembunuh Mama dan Papa, tapi itu sudah lama dan aku rasa Mama dan Papa juga tidak ingin ada dendam diantara kita."


Arlan terdiam dan bergetar mendengar penuturan mantan istrinya, dia bersimpuh dihadapan Alma dengan air mata di pipinya.


"Tapi saya bersalah, Alma."


"Semua orang punya salah Arlan!" Dirga meraih bahu Arlan dan membantunya berdiri. "Kesalahan kamu sangat fatal, tapi sudahlah, terlepas dari pembunuhan berencana pada Alma dulu, kamu sudah berubah."


Arlan menunduk malu dihadapan dua orang berhati besar itu.


"Kalau kamu butuh pekerjaan kamu bisa datang ke kantor saya, pintu kantor selalu terbuka untuk kamu," jelas Dirga yang membuat Arlan langsung memeluk Dirga.


"Makasih Pak! Makasih!" Arlan menangis didalam pelukan Dirga.




__ADS_1


Kini Alma dan Dirga sudah berada di pemakaman tepat didepan makam kedua orang tua Alma.


"Kak Alshad, saya tidak tahu kalau tidak ada Kak Alshad dulu saya mungkin tidak akan menjadi Dirga yang sekarang, Kak Alshad dan Kak Ratih mengangkat saya menjadi adik sejak SMA dan menbiayai kuliah saya, saya sangat berterimakasih, dan sekarang saya rasa saya sudah menemukan jodoh saya, anak dari Kak Alshad," Dirga berucap memegang nisan Papa Alma dan melirik Alma.


"Papa, Mama, Alma minta izin sebentar lagi pernikahan Alma dan Mas Dirga, Alma sangat berharap Mama dan Papa datang walaupun tidak mungkin, kalau Mama dan Papa ingin menyetujui, datang ke mimpi Alma, sekali aja setidaknya untuk menjawab salam Alma, Alma kangen."


Alma menangis perlahan, melihat itu membuat Dirga meraih kepala Alma dan mengusap kedua pelupuk mata Alma.


"Jangan menangis sayang, semuanya sudah selesai, ada Mas disini dan Mas gak bakal biarin kamu menangis lagi," ujar Dirga tersenyum.


Alma membalas senyuman itu kemudian bersandar pada bahu Dirga, mereka masih berada didepan pusara kedua orang tua Alma.


Mempersiapkan diri untuk melangkah ke jenjang pernikahan dalam waktu dekat ini.




__ADS_1


Assalamualaikum


Jangan Lupa Like


__ADS_2