
Benar.
Itu adalah Diandra yang Alma dan Deno maksud, Alma dan Deno berusaha bersikap biasa saja, kehadiran Diandra setelah kematian Ishaya tidak boleh dianggap remeh mengingat bahwa Diandra langsung menerobos masuk menembus mereka langsung, orang-orang yang merupakan bagian dari saksi kematian Ishaya.
"Bu Diandra, Maaf saya telat," Dirga menjabat tangan Diandra.
"Tidak apa-apa, Pak Dirga, saya juga baru datang," Diandra menekan erat tangan Dirga.
Mungkin bagi Dirga itu biasa saja, tapi bagi Alma itu sudah seperti sinyal genderang perang yang baru, Alma mendelik tajam, mungkinkah Diandra ingin bermain dengannya. Setidaknya itu yang ada di pikiran Alma.
Mereka pun memulai presentasi, Alma sengaja mengajukan harga rendah untuk tawaran kerja sama itu, lantas Dirga dan Deno terkejut, cukup rendah bahkan lebih rendah dari delapan milyar Tuan Asgard dulu, tentunya Alma punya tujuan tersendiri.
Dia tahu kalau Diandra benar-benar ingin melakukan balas dendam dengan memulai menjadi partner kerja perusahaan Dirga, tentunya dia tidak punya modal banyak karena dari data yang Alma baca, Diandra bukanlah wanita yang mempunyai banyak uang.
'Dua Milyar," Alma mengajukan.
Diandra tampak terkejut dan antusias, mungkin dia merasa penawaran ini membuka jalan baginya karena dia sempat mengira akan diajukan harga sepuluh milyar keatas.
"Saya setuju!" Diandra hendak menjabat tangan Alma namun Alma menepis.
__ADS_1
Beberapa detik kemudian Alma tersenyum manis dan balik menjabat tangan Diandra kali ini dengan sedikit menekan persis yang Diandra lakukan kepada Dirga, seolah itu menjawab bahwa Alma menerima genderang perang yang Diandra ajukan.
"Senang bisa bekerjasama, denganmu," jawab Alma balik.
Mereka berempatpun bubar setelah mendapatkan keputusan, Diandra pamit pergi, sedangkan Deno dan Dirga memilih duduk dulu di ruangan tersebut, Alma berjalan keluar untuk menemui Diandra yang sedang berjalan di koridor.
"Ada agenda apa kau sebenarnya?" Alma menghentikan langkah Diandra.
Diandra membalikkan badannya dan menatap Alma yang sedang menatapnya tajam. "Bu, Alma, maksud Bu Alma apa?"
"Hm, tidak usah drama Diandra, atau bisa kusebut kakak Ishaya?" Alma meraih tangan Diandra dan mengangkatnya.
Diandra memberontak hendak melepaskan diri tapi tenaga Alma lebih kuat disini, Alma mendorong Diandra sedikit.
"Rupanya kau ini gadis yang pintar, tidak kusangka, aku tertebak, jadi kalau begini, kau mau apa, hah?" tanya Diandra balik.
Alma mendelik tajam dan menunjuk Diandra. "Jauhi keluargaku! Om Dirga dan Deno, jangan mencoba bermain-main denganku Diandra."
"Kau siapa?" Diandra menolak.
__ADS_1
"Kau tanya aku siapa? Aku adalah pemeran utama di dalam skenario ini, bahkan didalam skenario yang sudah kau buat."
Diandra mengercap sejenak, dia melipat kembali kedua tangannya dan menatap tajam Alma.
"Tidak ada seorangpun yang bisa menghalangi diriku, bahkan itu dirimu, jadi jangan mencoba menghalangiku!" Diandra mengancam Alma.
Alma tersenyum dan tertawa sejenak, meremehkan Diandra. "Arlan dan Ishaya saja bisa aku kalahkan, bukannya sombong, tapi kau pemain baru disini, dan aku seniornya!"
Diandra tertekan, dia memilih pergi darisana meninggalkan Alma berdiri dengan mata tajam, Alma benar-benar akan waspada sekarang, karena Diandra sudah sangat berani pada langkah pertamanya.
Dan membiarkan Diandra menang, bukanlah opsi dari hidup Alma, tidak ada siapapun yang bisa mengusik ketenangan Alma sekarang.
•
•
•
TBC
__ADS_1
Assalamualaikum
Jangan Lupa Like