
"Om Dirga," Alma menatap Dirga yang masih terus memukuli Arlan.
Sementara itu Ishaya yang melihat Arlan di pukuli berusaha melakukan sesuatu, sedangkan Alma sendiri memilih untuk melepaskan diri dari jeratan yang mengikat tubuhnya.
Ishaya terdiam sejenak sebelum mengambil balok kayu dari sudut ruangan yang tadi di buang Arlan, Ishaya mengambilnya kemudian berjalan ke arah Dirga yang fokus memukuli Arlan.
"Om, awas!" teriak Alma saat Ishaya mengangkat tinggi balok kayu tersebut yang membuat Alma merasa gemetar.
BUGH!
Teriakan Dirga yang dipukul tepat dibagian kepala membuat Alma histeris, Alma berhasil melepaskan ikatan tersebut, sementara Dirga sudah tumbang tak sadarkan diri atas pukulan itu.
"Lan, kamu tidak apa-apa?" Ishaya berjalan ke arah Arlan yang sudah terluka parah.
"Kita pergi dari sini," Arlan berdiri di papah Ishaya.
Mereka berdua meninggalkan unit apartemen Alma dengan keadaan Dirga yang tidak sadarkan diri.
Alma berjalan ke arah Dirga, meraih wajah Dirga yang meringis tidak kuat, Alma perlahan menangis dan menaruh kepala Dirga di pangkuannya.
"Om, Om gapapa kan?" tanya Alma dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
Rasanya Alma kebas dan tidak sanggup lagi memikirkan ini semua, bagaimana bisa Dirga melakukan ini semua untuknya.
__ADS_1
"Om, jawab aku."
Dirga membuka matanya perlahan kemudian menatap Alma. "Kamu gapapa?"
"Harusnya aku yang nanya, Om gapapa kan?" tanya Alma yang sudah menangis sejadi-jadinya. "Hiks, Om jahat, Om kenapa sih, kadang Om bikin aku khawatir, kadang bingung, kadang kesal, aku cinta sama Om, aku takut Om kenapa-napa."
"M-maaf," jawab Dirga yang membuat Alma melupakan semua ini.
Dirga perlahan menutup matanya dan merasakan sakit di seluruh badannya. "Saya ngantuk, saya mau tidur."
"OM GA BOLEH TIDUR!" teriak Alma yang kini merubah posisi memeluk wajah chinnese oriental itu.
Air mata Alma kini tidak hanya membasahi wajahnya tapi juga wajah Dirga, bahkan janggut tipis Dirga sudah basah akan air mata ketakutan Alma.
"Om, jangan bikin aku takut," Alma terisak memeluk Dirga yang membuat Dirga perlahan membuka matanya kembali.
"Ada kok, aku Om, aku mau sama Om, aku cinta sama Om, aku takut kehilangan Om, terus harus apalagi yang harus aku ungkapkan supaya bisa meyakinkan Om bahwa aku GAK BISA HIDUP TANPA OM!" Alma berujar penuh penekanan.
"Saya juga cinta sama kamu."
Alma mendelik dengan mata terbuka lebar, apa yang baru saja Dirga katakan padanya, Alma meraih wajah Dirga kemudian menatapnya dalam. "Om gak ngelantur kan?"
Dirga tidak menjawab, mungkin Dirga hanya berkata diantara alam bawah sadarnya, karena Dirga sekarang tidak sepenuhnya memiliki kemampuannya.
__ADS_1
Alma berpikir ini bagian dari segala ilusi yang terjadi, tidak ada jawaban lagi dari Dirga, Alma merogoh saku celana Dirga dan mengambil ponsel Dirga.
Dengan terisak, Alma mencari nomor Deno dan setelah mendapatkannya Alma segera menelepon nomor tersebut.
"Deno, kamu dimana?" tanya Alma saat sambungan telepon tersebut tersambung.
"Di kantor Bu menyelesaikan rewatch yang Pak Dirga suruh," jawab Deno pada Alma. "Bu Alma tidak apa-apa?"
"Saya tidak apa-apa, tolong kamu ke apartemen sekarang, Pak Dirga butuh dokter," jawab Alma.
"Apartemen?"
"Iya! Apartemen saya."
"Baik, Bu Alma saya akan segera menuju ke sana," jawab Deno saat Alma mematikan sambungan telepon tersebut secara sepihak.
•
•
•
TBC
__ADS_1
Assalamualaikum
Jangan Lupa Like