Dijual Suamiku Dibeli Pamanku

Dijual Suamiku Dibeli Pamanku
BAB 47. Sukses Besar


__ADS_3

"S-saya sedang push up."


Dirga jadi gerogi sendiri kenapa sih asisten dan sekretarisnya itu harus datang disaat yang bersamaan.


"A-alma, bisa kamu keluar sebentar saya ingin bicara dengan Deno."


Alma mendelik, dia kesal, apasih maksud atasannya ini, tadi dia yang memintanya datang sekalinya datang malah di suruh keluar, dengan langkah malas, Alma berjalan keluar.


Deno berjalan ke arah Dirga dan menatapnya dalam. "Ada apa pak Dirga?"


"S-saya mau coba ungkapin perasaan saya ke Alma, kamu mau bantu saya?" jawab Dirga.


Deno menatap curiga, kok tiba-tiba bukannya atasannya itu masih plin-plan sedari tadi, Deno merotasikan matanya mengecek arah lain, dan dia melihat buku yang tadi dia keluarkan dalam keadaan terbuka di sofa.


Deno tersenyum lebar. "Boleh."


"Bagaimana caranya?"


Deno mengeluarkan sebuah klip suara dari dalam sakunya, entah sejak kapan Deno menyimpannya, asisten serba bisa itu memasangnya ke telinga Dirga dan telinganya.


"Sekarang kita saling terhubung Pak, nanti saya akan membantu bapak dari jarak jauh, lebih baik kita sekarang menuju ruangan meeting, Tuan Asgard sudah menunggu."


Dirga bingung, tapi dia menurut saja, aneh sih bagi Dirga ibarat menjilat ludah sendiri, tapi dia ingin setidaknya dia harus berjuang mendapatkan cinta Alma.


Walaupun Alma sudah pasti menerima Dirga, tapi dia ingin ungkapan cinta itu bukan karena Alma menerima tapi karena dirinya berjuang untuk mengungkapkannya.


"Makasih Alma sudah datang."

__ADS_1


Alma tidak menjawab, raut wajahnya dingin karena dia terpaksa datang, dia memilih berjalan disamping Deno yang memisah jarak dengan Dirga menuju ruangan meeting.


Wajah Dirga memurung, Deno yang menangkap kontak mata itu langsung mengisyaratkan kepada Dirga bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Saling memberi isyarat yang mereka tahu itu hanya berlangsung beberapa detik karena mereka langsung masuk ke ruangan meeting.




"Pak Dirga, bisa dibantu membuka tabel powerpointnya?"


Alma menatap Dirga yang sedari tadi diam, ada yang salah dengan pria ini, semenjak masuk ke ruangan meeting dia lebih banyak diam, lagipula bukan rahasia lagi jika Dirga hemat bicara.


Dirga membuka powerpoint yang menampilkan data presentasi karena hari ini mereka akan membahas dan menegosiasi dana yang akan dikeluarkan tender ini.


Dirga dan Deno terkejut, ini tidak sesuai briefing, penawaran dari perusahaan Dirga hanya delapan bukan sepuluh, tapi kenapa Alma malah mengatakan fakta terbalik.


Dirga hendak angkat bicara namun Alma langsung menyikutnya dan berbisik. "Kita akan mendapatkan yang lebih dari ini."


Tuan Asgard di ujung sana tampak berpikir sejenak, mengenai penawaran Alma. "Bagaimana kalau delapan, budget segitu terlalu besar untuk kerjasama pertama."


Mendengar jawaban Tuan Asgard membuat Alma berdiri. "Tuan, anda tidak akan mendapatkan kualitas yang seperti kami di perusahaan lain, apakah anda yakin tidak ingin menanamkan lebih banyak?"


"Ini baru awal, saya coba sedikit saja dulu.," jawab Tuan Asgard.


"Yakin? Bagaimana kalau yang anda tanamkan ini sukses besar, dan ketika anda ingin menanamkan lagi, kami sudah memiliki tender lain, kenapa tidak sekalian saja," jelas Alma.

__ADS_1


"Bagaimana kalau gagal?"


"Kalau anda berpikir gagal, anda mungkin tidak mungkin memilih perusahaan kami."


Skakmat! Alma menang!


Tuan Asgard terdiam, dia menatap Alma dan berdiri. "Dua puluh Miliar, Deal?"


Alma tersenyum lebar.


"Deal!" Alma menjabat tangan Tuan Asgard.


Dirga dan Deno hanya bisa melongo disana, jiwa bisnis Alma memang turunan dari kedua orang tuanya.





TBC


Assalamualaikum


Jangan Lupa Like


Beberapa bab lagi End :)

__ADS_1


Pov Om Dirga terpesona:


__ADS_2