
Dirga dan Deno kini telah kembali ke kantor, Dirga sedari tadi tampak mondar-mandir menunggu kedatangan Alma, dimana kata Deno, Alma akan datang.
"Deno, Alma mana?" tanya Dirga yang membuat Deno tercekat.
"S-saya gak tahu, Pak, Bu Alma gaada hubungan saya lagi," jawab Deno gugup.
Bagaimana tidak gugup, nada bicara Dirga begitu menekan ditambah tadi Deno sudah membogem atasannya itu, otomatis perasaan canggung itu ada.
"Bapak sebenarnya cinta gak sih sama Bu Alma. Kok kayak orang plin-plan begini, nanti direbut orang tahu rasa loh," tanya Deno menatap atasannya itu.
"Maksud kamu?" tanya Dirga balik kemudian duduk di sofa yang ada di ruangannya.
Dirga mengangkat sebelah kakinya diatas kaki satunya, sedangkan Deno langsung berjalan ke hadapan atasannya itu.
"Bu Alma, cantik, baik, dan pinter pasti banyak pria di luaran sana yang mau serius sama Bu Alma, kalau Pak Dirga masih aja plin-plan jangan salahkan Bu Alma kalau dia nanti sama orang lain," jelas Deno yang membuat Dirga mendelik.
"Biarkan saja, Toh Alma tidak akan bahagia dengan saya Deno, dan melepasnya adalah cara saya membuat dia bahagia," jawab Dirga.
Deno tercengang, baru kali ini Bossnya itu berbicara banyak biasanya dia hanya mengeluarkan sepatah dua patah kata yang tak bermakna.
"Bapak gak mau belajar romantis gitu?"
"Maksud kamu apalagi si Deno?" tanya Dirga yang merasa asistennya ini sudah bicara kemana-mana.
__ADS_1
"Gini loh, Pak, kalau semisalnya bapak ragu sama isi hati bapak seharusnya bapak harus belajar romantis dulu, biar tahu bagaimana rasanya itu jatuh cinta," jelas Deno yang membuat Dirga mendelik.
"Saran kamu tidak membantu."
Deno mengeluarkan sebuah buku dari dalam tas-nya yang berjudul "Meraba Jatuh Cinta" sudah bisa dipastikan buku itu berisi tips-tips menjadi romantis.
"Bapak baca dulu deh," Deno menyerahkan buku tersebut kepada Dirga.
"Saya bukan pembaca, saya pemain."
"Bapaknya aja yang plin-plan," gumam Deno yang membuat Dirga menatapnya tajam.
"Maksud kamu, apa, huh?"
Deno berjalan keluar dari ruangan kerja Dirga, meninggalkan buku tadi diatas meja kerja Dirga, tentunya dengan Dirga disana.
"Buku apa ini?"
Dirga meraih buku itu dan menatapnya dalam, dia awalnya tidak tertarik tapi apa salahnya mencoba, dia membacanya dia mendapatkan beberapa tips menjadi romantis dari sana.
"Saya bukan tidak cintakan, tapi saya bingung, tapi saya takut kehilangan dia, ARGH Bagaimana sih ini?" kesal Dirga menutup buku tersebut kemudian kembali membukanya.
-Berikan Dia Perhatian Lebih Dan Sentuhan Lembut- Dirga membaca kalimat ini dengan terbata, kurang perhatian dan lembut apa Dirga dengan Alma selama ini, tapi kenapa hatinya tetap saja ragu untuk berkata cinta.
__ADS_1
Dirga mengambil bantal sofa, kemudian mulai menindihnya dengan setengah badan sesuai petunjuk di buku itu, karena memang tidak ada manusia lain selain Dirga disana dan walaupun ada Dirga tidak ingin melakukan itu.
Setelah mendapat banyak teori, Dirga akhirnya mencoba praktek menggunakan bantal sofa, dia menekan bantal tersebut kemudian menggesekkan hidungnya dengan bantal.
"Alma, saya tidak tahu bagaimana perasaan saya, tapi andai kamu tahu saya takut kehilangan kamu, dan saya mau kamu mengajari saya apa itu cinta."
Suara Dirga sangat lembut seolah dengan perasaan padahal yang dihadapannya itu adalah bantal, bukan Alma.
"Pak Dirga, Bapak ngapain?"
Suara Deno membuat Dirga bangkit dan salah tingkah tapi bukan itu saja, ada Alma disampingnya.
"Astaga." gumam Dirga frustrasi.
•
•
•
Jangan Lupa Like
Assalamualaikum
__ADS_1
Malu banget jadi Dirga :v