
Alma sudah selesai mengemasi semua barang-barangnya dan siap pergi dari apartemen Dirga.
Alma membuka ponselnya mengecek mobile banking yang dia miliki, menghela napas lega karena dia masih punya cukup uang untuk menyewa tempat tinggal sementara, dia tidak mungkin kembali ke rumah lamanya, terlalu banyak kenangan Arlan disana walaupun itu rumah milik orang tua Alma.
Alma menyeret kopernya keluar dari apartemen tersebut, dia berjalan dengan langkah gontai seolah tahu kemana dia akan datang tapi dia tidak perlu memikirkan apapun.
"Bu Alma?"
Suara Deno membuat Alma mengangkat kepalanya menatap sosok asisten dari Dirga itu. "Den, kamu sudah datang?"
"Ada apa yah, Bu Alma memanggil saya?" tanya Deno yang membuat Alma tersenyum.
"Saya mau kamu memberikan ini kepada Pak Dirga, Deno, mungkin saya tidak akan bertemu dengan dia lagi dalam waktu lama," Alma menyodorkan kartu acces dari smart door apartemen milik Dirga.
"Tapi, ada apa Bu, bukannya Bu Alma adalah kekasih Pak Dirga?" tanya Deno terkejut.
"Awalnya, tapi saya kira saya tidak pantas, Den."
Alma menunduk perlahan, Deno menerima kartu acces tersebut. "Bu Alma sekarang mau kemana?"
Alma terdiam, dia tidak tahu harus kemana sekarang, semuanya terlalu mendadak untuk Alma jelaskan dan akhirnya Alma memilih menggeleng.
"Saya tidak tahu."
"Saya punya Apartemen yang tidak terpakai, mungkin Bu Alma mau tinggal disana untuk sementara?" tawar Deno.
Alma tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Terimakasih Den, tapi saya masih bisa berusaha sendiri, kalau kamu mau membantu saya, bisa carikan saya rumah atau tempat tinggal yang bisa saya sewa?"
Deno berpikir sejenak. "Saya ada Bu, ini kost-kostan tapi fasilitasnya lumayan Bu, ini milik teman saya, kalau Bu Alma tertarik bisa saya antar."
Alma mengangguk, Deno kemudian membantu Alma mengangkat kopernya, Alma berjalan menyusul Deno menuju parkiran dimana mobil Deno berada.
__ADS_1
Mereka berdua kemudian masuk ke dalam mobil dengan kondisi Deno yang mengendarainya.
"Maaf Bu Alma, bukannya saya lancang atau bagaimana, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Deno dengan sedikit hati-hati.
"Biarlah menjadi cerita saya Den, maaf saya tidak bisa cerita sekarang," jawab Alma yang membuat Deno mengangguk.
"Maaf, Bu."
"Kamu pernah tidak Den, merasa berjuang tapi tidak di perjuangkan?"
Deno menatap kedepan. "Bedanya apa?"
"Berjuang sendiri itu melelahkan yah, Den."
Deno tersenyum tipis. "Terkadang orang ingin memperjuangkan kita tapi dia tidak tahu bagaimana caranya memulai."
"Maksudnya?"
"Saya berada diposisi sulit, Den, mungkin setelah ini saya ingin pergi keluar kota saja, memulai kehidupan baru setelah resmi bercerai dengan Arlan, dan tentang perusahaan orang tua saya-"
"Bu Alma, akan berjuang mendapatkannya kembali?"
"Itu hak saya kan, Den?"
"Dan itu milik Bu Alma, seperti Pak Dirga."
Alma tertawa kecut. "Kamu bercanda."
"Pak Dirga kalau menginginkan sesuatu pasti akan berkata ini Milik Dirga, apa Bu Alma pernah mendapat kalimat itu?"
"Milik Dirga?"
__ADS_1
Alma terdiam sejenak, dia flashback kemudian menunduk dalam. "Sayangnya dia sudah melepas miliknya."
"Kalau dalam agama kita kan jodoh setiap orang sudah tercatat dalam Lauhul Mahfudz, Bu."
"Tapi jika dia sendiri ragu akan nama saya yang ada di Lauhul Mahfudznya apakah pantas saya bertahan, disaat istikharah saya gagal menemukannya, apakah harus tahajjud saya yang menjemputnya?"
"Bu Alma tahu jawabannya."
Tidak ada lagi percakapan diantara mereka berdua.
•
•
•
TBC
Assalamualaikum
Jangan Lupa Like
Kasian Alma :)
Nungguin apa?
- Alma Jodoh sama orang lain.
- Dirga perjuangin Alma
- Alma pergi meninggalkan Dirga
__ADS_1