
Dirga menjalankan mobilnya menuju kost-kostan Alma, sedangkan Alma hanya diam disana menatap keluar dari jendela mobil.
"Kamu ngapain di pengadilan?" tanya Dirga memulai pembicaraan mereka.
"Ada urusan Om, ngurus perpisahan aku sama Arlan," jawab Alma yang membuat Dirga malah tersenyum.
"Terus kamu mau ngapain setelah ini?"
"Aku bakal ninggalin kota ini Om, besok aku bakal berangkat, maaf aku gak bilang sama Om, tapi kebetulan Om disini yasudah aku pamit sekarang," jawab Alma yang membuat Dirga terdiam.
Dirga seketika mumet, kalau Alma pergi bagaimana dia bisa berjuang, padahal Dirga sendiri tidak pernah berjuang selama ini, lantas apa yang dia katakan berjuang.
"Makasih Om, Om udah bantu aku jadi cewek yang tegas, terlepas dari belenggu Arlan dan semuanya," lanjut Alma yang membuat Dirga terdiam. "Semoga Om dapat jodoh yang bener-bener cinta sama Om, yah."
"Tapi, saya pengennya kamu." jawab Dirga dalam hati.
Ditengah situasi seperti ini, hujan bertambah deras, hingga tak lama kemudian mobil yang dikendarai Dirga tiba-tiba mogok sendiri.
"Kenapa Om?"
"Kayaknya mogok," Dirga mengeluarkan ponselnya dan menelepon montir. "Saya telepon montir dulu yah."
Alma mengangguk, Dirga tampak menelepon montir dan berbicara disana, setelah cukup lama berbicara akhirnya Dirga menghentikannya.
"Ada apa Om?" tanya Alma yang membuat Dirga menatapnya.
"Kata mereka nunggu hujan kelar, kamu gapapa kan nunggu?" jawab Dirga yang membuat Alma memilih menatap ke depan.
"Mau bagaimana lagi Om," Alma pasrah.
__ADS_1
Disaat seperti ini suasana menjadi canggung diantara mereka, Dirga menaruh ponselnya kemudian menatap Alma.
"Mau saya hibur?"
"Hm, emang Om bisa apa selain nyuruh-nyuruh doang?" jawab Alma yang membuat Dirga kagok.
"Ehm-"
Dirga menatap ke jok belakang dia mengambil gitar miliknya yang mencuri perhatian Alma.
"Sejak kapan punya gitar, Om?" tanya Alma antusias.
"Punya Deno, ini."
"Om bisa main?"
Dirga tidak menjawab dia, malah memasang posisi gitar tersebut di dadanya kemudian mulai memetiknya dengan lagu yang dia nyanyikan.
Hm Alma terhenyak, karena suara Dirga cukup bagus, Alma tidak pernah tahu dibalik sifat kulkas nya ada karisma tersendiri disana.
"... Ketemu lan kelengan ... Kabeh kui sing di arani perjalanan ..."
Alma memilih menikmati lagu yang terdengar asing itu bahkan Alma tidak mengerti artinya tapi sangat enak di dengar.
"... Mlaku bebarengan ... Bar kui kangen-kangenan ... Kadang bedo pilihan nganti .... Pedot balikan .... Mendung tanpo udan .... Ketemu lan kelangan .... Kabeh kui sing di arani perjalanan ... Oh ...."
"... Awak ... Dewe tau duwe bayangan, besok ... Yen wes wayah omah-omahan ..."
Demi apapun menurut Alma senyum Dirga saat menyanyikan lagu itu sangat menawan terlepas dari segala sikap kulkas nya sampai detik ini.
__ADS_1
"... Aku moco koran sarungan ... Kowe blonjo dasteran ..."
".... Nanging, saiki wes dadi kenangan ... Aku karo kowe wes pisahan ..."
Entah apa arti dari lirik ini, tapi di lirik ini senyum Dirga meluntur yang membuat Alma bingung.
"Aku kiri kowe kanan .... Wes bedo dalam ...."
Dirga kemudian mulai mengulang reff pertama dengan kembali tersenyum manis.
"Awak ... Dewe tau duwe bayangan ... Besok yen wes wayah omah-omahan ... Aku moco koran sarungan ... Kowe blonjo dasteran ..."
"Nanging saiki wes dadi kenangan ... Aku karo kowe wes pisahan ... Aku kiri kowe kanan wes bedo dalam ..."
"Aku kiri kowe kanan ... Wes bedo dalan ..."
Dirga mengakhiri lagunya dengan wajah rancu di lirik terakhir.
•
•
•
TBC
Assalamualaikum
Jangan Lupa Like
__ADS_1
Aku Kiri Kamu Kanan Yah Beda Jalan
2 BAB LAGI END