
Mendengar kabar bahwa Ishaya sudah meninggal benar-benar membuat kedua orang tua Ishaya sangat terpukul.
Memang Ishaya pergi terkesan dengan begitu mudahnya, setelah melakukan banyak tindak kejahatan, tapi bukankah ini seperti buah karma, dan Ishaya sendiri yang sudah menentukan nasibnya.
"Ishaya!"
Teriakan histeris dari Mama Ishaya terdengar menggema di jam-jam dini hari seperti ini, Papa Ishaya menghampiri Mama Ishaya kemudian membantunya berdiri sebelum membawanya masuk untuk menemui jasad anak mereka.
Alma terdiam, ia tidak tahu akan seperti ini jadinya, sedangkan Dirga dia tampak speechles dengan semua sampai dia tidak tahu harus berkata apa setelah mendengar fakta ini.
Berbeda dengan Deno, tampak senyum psikopat disana, apakah salah bagi Deno bahagia atas kematian Ishaya setelah semua yang sudah Ishaya lakukan, rasanys Ishaya memang pantas mendapatkan itu.
Setidaknya begitulah isi kepala Deno sekarang tentang Ishaya yang sudah menghadap ke penciptanya.
Alma dan Dirga menyusul kedua orang tua Ishaya masuk ke dalam ruangan tersebut dan hanya bisa melihat tubuh Ishaya terbaring tak bernyawa padahal beberapa jam lalu dia hendak mencelakai Alma dan Dirga.
Hukum tanam tuai? Begitulah yang akan ada dipikiran setiap orang saat mengetahui kronologi kisah Ishaya sendiri.
Semuanya sudah selesai, Alma hanya bisa menatap Ishaya, sosok wanita yang menghancurkan rumah tangga nya itu sudah berlalu pergi.
•
•
Cuaca mendung padahal hari masih siang, saat Alma, Dirga, Deno dan kedua orang tua Ishaya berdiri disamping makam Ishaya yang masih basah.
Mama Ishaya tidak henti-hentinya menangis sedangkan Dirga? Hah rasanya juga sedikit ada yang janggal karena kepergian istrinya yang sudah bersama dirinya selama dua belas tahun lamanya.
"Dirga?"
Suara Papa Ishaya membuat Dirga menatap ke arahnya, Dirga berjalan ke arah Papa Ishaya dan menatapnya dalam.
__ADS_1
"Iya Pa?"
"Ishaya sudah tidak ada, mengenai tawaran Papa, apakah kamu mau mengurus perusahaan Papa?"
Dirga terdiam dia menggeleng. "Rasanya saya tidak pantas."
"Tolong, Papa sudah tidak bisa mengurusnya lagi."
Dirga terdiam, dia tidak tahu akan apa yang harus dia jawab sekarang. "Dirga akan memikirkannya, Alma ayo pulang."
Dirga menarik tangan Alma pergi dari sana meninggalkan kedua orang tua Ishayax Deno yang ditinggal atasannya memilih pergi juga setelah merasa puas karena hama sudah tidak ada.
Dirga sendiri mengajak Alma masuk ke dalam mobil hendak mengantar Alma pulang ke apartemennya.
"Om?"
"Hm."
"Bagaimana dengan hubungan kita setelah Ishaya meninggal."
Deg!
Belum sempat Dirga menyalakan mesin mobil ia malah terlonjak kedepan seolah ada tubrukan dari pertanyaan anopsis itu.
"Kita sudah Membicarakannya Alma."
Dirga memilih acuh sejenak dia tidak tertarik untuk membahas hal seperti ini setidaknya untuk saat ini.
"Aku butuh kepastian, Om cinta sama aku atau tidak?"
Dirga terdiam.
__ADS_1
"Saya tidak tahu Alma! Saya tidak tahu!"
"Kenapa Om seolah tidak bisa melepasku ketika aku butuh kepastian!"
"Kalau kamu mau pergi, silakan, saya sudah melepas mu waktu itu."
"Itu bukan dari hati Om, bagaimana jadinya nanti kalau aku kembali ke Arlan atau Dar-"
Dirga menarik wajah Alma dan menangkupnya. "Jangan sebutkan nama itu!"
"Arlan! Arlan! Arlan!"
"Argh!"
Dirga memukul setir setelah melepaskan tangkupannya sementara Alma hanya menatap malas.
"Om, cuma ada dua Halalkan atau Ikhlaskan."
•
•
•
TBC
Assalamualaikum
Jangan Lupa Like
Gemes sama Om Dirga :)
__ADS_1