
Selepas kepergian Daniah dan Gevanya, Ishaya tampak frustrasi sendiri mengingat apa yang akan terjadi, buku-buku jarinya tampak meremas seprei brankar rumah sakit tersebut dengan perasaan yang tidak dapat dia deskripsikan sendiri.
"Aku harus mencari cara agar bisa menyingkirkan Alma," gumam Ishaya mengambil ponsel dari nakas samping ranjangnya.
Tangan Ishaya tampak ulet Halo?"nkan ponsel tersebut mencari kontak dari seseorang yang akan dia telepon, setelah mendapatkan kontak tersebut, Ishaya mulai meneleponnya.
"Halo?"
"Aku punya tugas untuk kalian, aku perlu kalian mencelakai seorang perempuan bernama Alma, kalau kalian berhasil aku akan membayar mahal untuk ini."
Sesaat bibir Ishaya melengkung tanda ia sedang membuat kesepakatan licik dengan seseorang, setelah menelepon Ishaya kembali menaruh ponselnya di nakas.
•
•
Jam sudah menunjukkan pukul dua malam, Alma terbangun dari tidurnya, dia tertidur dengan keadaan masih menggenggam erat tangan Dirga yang belum sadarkan diri.
"Om-"
"Om, kok tidurnya lama banget sih?"
Alma frustrasi sekarang, perasaan gamang macam apa ini, ia tidak mengerti rasanya dia ingin sekali mengatakan kepada Dirga jika dirinya takut kehilangan Dirga.
__ADS_1
"Astagfirullah," Alma memilih bangkit, dia berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam ruangan tersebut.
Kret!
Suara pintu kamar mandi yang di buka membuat hening sedikit terusik oleh decitan benda yang saling beradu, tidak lama kemudian suara hening berganti cipratan air yang menandakan Alma sedang membasuh wajahnya.
Alma menatap wajah nya sendiri di cermin yang berada di atas wastafel, selanjutnya Alma memilih mengambil air wudhu untuk melakukan sholat dalam sepertiga malamnya.
Setelah mengambil air wudhu, Alma kembali keluar dari kamar mandi, dia berjalan menuju tasnya yang berada di sofa ruangan rawat Dirga, kebetulan tadi Deno yang membawakan baju ganti beserta alat sholat untuk Alma.
Alma memakai mukenanya kemudian menggelar sajadah, setelahnya dia mulai melakukan sholat tahajjud.
Setelah melakukan sholat tersebut, Alma mengakhirinya dengan salam yang beralih ke ucapan doa. Alma menatap langit-langit ruangan tersebut, melambungkan doanya untuk dirinya dan Dirga.
Alma mengakhiri doa tersebut dengan Al-fatihah, sebelum kembali membereskan sajadah dan melepas mukenanya.
Alma berjalan ke kursi yang semalaman ini ia duduki di samping brankar Dirga, dia kembali menatap wajah Dirga membayangkan wajah tersebut membuka matanya dan menjelaskan semua pertanyaan dengan perasaan yang cenderung gamang ini.
"Hmmph!"
Tiba-tiba sesuatu membekap Alma dari belakang, dua sosok pria tidak ia kenali berusaha membawa Alma pergi dari sana, sementara satu sosok lainnya malah berjalan ke arah Dirga.
"Siapa kalian?" tanya Alma saat bekapan di mulutnya terlepas.
__ADS_1
"Jangan terlalu banyak bicara, sebentar lagi aku akan mengantarkanmu dan juga pria itu ke surga," ujar pria tersebut yang membuat Alma membelalakkan matanya seketika.
"Apa yang akan kalian lakukan?" tanya Alma panik saat pria yang tadi mendekati Dirga mengambil sebuah bantal dari sofa dan bersiap menekannya ke wajah Dirga agar Dirga kehilangan fungsi pernapasannya.
"Jangan lakukan itu-"
"Diam! Setelah ini dirimu!"
Bagaimana sekarang, Alma harus berpikir cepat agar dirinya dan Dirga bisa selamat, Alma menatap penuh sorot mata tajam saat bantal tersebut sudah bersentuhan dengan wajah Dirga.
"A-aku, bilang jangan!"
•
•
•
TBC
Assalamualaikum
Jangan lupa like
__ADS_1
Duh bagaimana nih Om Dirga sama Alma?