
Setelah selesai meeting dengan Tuan Asgard akhirnya kesepakatan berlangsung diantara mereka yaitu Perusahaan Dirga akan memegang tender 20M untuk kerjasama ini.
Alma melepas senyum saat melepas kepergian Tuan Asgard namun wajahnya kembali membeku setelah berpapasan dengan Dirga.
"Makasih Alma," ujar Dirga yang membuat Alma menatapnya dalam.
Alma mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tas-nya berisi surat resign dan uang kompensasi karena kontrak yang Alma putus secara sepihak.
"Saya rasa gak ada urusan apa-apa lagi diantara kita Pak, saya resign dan ini uang kompensasi yang tertulis di kontrak kerja saya," Alma mendorong kedua amplop tersebut ke hadapan Dirga.
"TIDAK SAYA TIDAK INGIN MELEPAS KAMU!" Andaikan kalimat ini terucap mungkin situasi akan berbeda.
Tapi ini Dirga malah secara gugup dan tidak tahu harus bagaimana menerima surat resign tersebut.
"Baiklah."
Padahal Dirga ingin mengatakan "Tidak Boleh" tapi kenapa malah kata ini yang terucap disaat Dirga ingin berusaha.
Alma tersenyum, dia berjalan mundur dari sana, kemudian berjalan keluar dari ruangan Dirga, Dirga menatap kepergian Alma dengan wajah frutrasi karena dia tidak punya keberanian untuk menahan Alma pergi.
"Pak! Bapak! Kok dibiarin pergi?" tanya Deno tapi tidak dijawab oleh Dirga.
Dirga terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa, dia kelu tanpa suara terduduk tanpa tenaga dan tidak ada lagi yang bisa dia lakukan.
BRAK!.
Dirga menjungkirbalikkan meja kerjanya sehingga membuat benda di atas nya jatuh berserakan dilantai.
"Kenapa dia pergi Den!"
__ADS_1
Deno diam, terkadang bosnya itu bodoh dan kolot, setidaknya beginilah pemikiran absurd Deno, dan lihat saja siapa yang akan membereskan ini kalau bukan Deno.
Dirga menghela napas kasar kemudian berjalan keluar dari ruangan kerjanya dengan hentakan kaki yang mengisi derap setiap langkah.
BUGH!
Dirga meninju tembok ruangannya kemudian mengeluarkan semua tenaga kekesalan dari dalam dirinya, kenapa ini semua bisa terjadi.
"Saya benci diri saya!"
•
•
Alma baru saja keluar dari pengadilan, dia memenangkan sidang atas perusahaan milik orang tuanya dengan bantuan Daniah, tidak ada perlawanan mendalam dari Arlan karena Arlan juga koma dan semua bukti membenarkan keterangan Alma.
Hari itu juga Alma juga sudah lepas dari tangan Arlan secara agama dan negara, semua sudah usai dan Alma berencana mempersiapkan diri karena besok dia akan ke luar kota.
"Tidak, kamu duluan saja, aku ada keperluan mendadak," jawab Alma yang membuat Daniah mengangguk.
Daniah masuk kedalam mobil nya kemudian meninggalkan Alma disana, Alma sendiri memilih berjalan menyusuri trotoar di sana, dia sudah siap meninggalkan kota ini.
"Mama, Papa, maafkan Alma mungkin ini keputusan yang terbaik, Alma akan datang lagi dan menjenguk pusara Mama dan Papa, maaf Alma tidak bisa datang ke makam Mama dan Papa karena jarak yang begitu jauh," gumam Alma merasa sedih.
Ditengah kesedihan itu langit siang yang memang mendung perlahan menurunkan airnya seiring dengan air mata frustrasi dari Alma.
Alma duduk di halte pinggir jalan dia terduduk sendiri dan membuat dia perlahan menangis kembali disana.
Pit!
__ADS_1
Suara klakson mobil membuat Alma mengangkat kepala. Sebuah mobil hitam terparkir dihadapannya dengan sosok pria familiar yang turun disana.
"Om Dirga?"
Dirga berjalan ke arah Alma menggunakan payung karena hujan sudah semakin deras.
"Kamu ngapain disini? Saya antar pulang."
"Gausah Om, aku bisa sendiri," jawab Alma yang sudah tidak formal lagi.
Dirga membuang napas kasar, ia kemudian menggendong Alma dengan gaya bridal style dan masih memegang payung, dia membawa Alma masuk ke dalam mobil.
Alma yang tidak sempat melawan hanya pasrah saja saat dirinya kini berada semobil dengan Dirga.
"Om mau apa?"
"Mau makan kamu."
"Huh?"
•
•
•
TBC
Assalamualaikum
__ADS_1
Jangan Lupa Like
Dirga mode mau makan Alma: