Dijual Suamiku Dibeli Pamanku

Dijual Suamiku Dibeli Pamanku
BAB 26. Mengatur Siasat


__ADS_3

Setelah mendapat bisikan tersebut, membuat Ishaya berdecak kesal, dia berjalan meninggalkan tempat tersebut dengan perasaan kalah penuh kekesalan.


"Apa lagi yang kalian lihat, sudah tahu sendiri kan faktanya?" Dirga menatap para ibu-ibu yang tadi anarkis.


Ibu-ibu tersebut menunduk malu atas tuduhan mereka kepada Alma, mereka kemudian melakukan bubar jalan meninggalkan tempat tersebut.


Setelahnya Dirga langsung menghampiri Alma dan meraih wajahnya. "Kamu tidak apa-apa, mereka ngelemparin kamu tadi, saya panik jadinya."


Alma menatap wajah Dirga yang khawatir, cukup lama mereka dalam posisi seperti ini yang membuat Alma berdehem. "Om?"


Dirga segera melepaskan tangkupan tangannya pada wajah Alma yang membuat Alma langsung memberikan tatapan smirk kepada Dirga. "Om, kenapa?"


"S-saya gak kenapa-napa, katanya kamu mau ambil sesuatu, sudah kamu ambil?" jawab Dirga mengalihkan pembicaraan mereka.


"Belum, kalau gitu, aku naik dulu yah," Alma segera berjalan meninggalkan Dirga.


Sementara itu Dirga hanya menatap punggung Alma yang semakin menjauh. "Dirga! Bagaimana sebenarnya perasaanmu!"


Dirga jadi frustrasi sendiri jadinya atas tingkah yang tidak bisa dia kontrol sendiri, Dirga kembali masuk ke mobil sembari menunggu Alma kembali.




Ishaya berjalan dengan langkah kesal masuk ke dalam rumah Arlan, sedangkan di dalam sana sudah ada Arlan yang menunggu kabar dari nya.


"Bagaimana?" tanya Arlan antusias.


"Gagal," jawab Ishaya duduk di sofa.

__ADS_1


Arlan berdiri di tempat tanpa melakukan apapun mendelik dengan tatapan malas ke arah Ishaya. "Bagaimana kau bisa gagal?"


"Yasudah, kalau kau merasa bisa, kau saja yang melakukannya, kau lupa, Alma yang sekarang bukan Alma yang dulu."


Ishaya menatap tajam Arlan yang tidak mau menghargai usahanya dalam membantu dirinya, Arlan menghela napas panjang, ia berjalan duduk di samping Ishaya.


"Sekarang bagaimana, besok adalah sidang yang harus aku lewati, kalau sampai Alma menang bisa gawat."


Ishaya tampak berpikir sejenak, dia merencanakan sesuatu yang keji di atas kepalanya yang membuat Arlan meliriknya.


"Apa, yang sedang kau pikirkan?" tanya Arlan pada Ishaya.


Ishaya memberikan senyum licik. "Kita celakakan saja Alma, kalau dia celaka dia tidak akan bisa hadir dalam sidang dan sidang akan di batalkan."


Arlan mendelik ragu. "Kau gila?"


"Kenapa, apakah kau mencintai mantan istrimu itu sehingga kau tidak ingin mencelakakannya?" tanya Ishaya menatap penuh pertanyaan.


"Lalu?"


"Oke, aku akan menuruti rencanamu!" jawab Arlan final.


Sementara itu di lain tempat, disebuah ruangan, seorang wanita dengan jabatan notaris tengah membaca sebuah proposal ditangannya.


"Almaira Alshad, sahabatku, aku tidak menyangka kau akan terjebak dalam situasi seperti ini," ucap sang notaris merasa iba atas kasus yang akan dia tangani.


"Bu Daniah?" Wanita tersebut menengadahkan kepalanya menjawab panggilan dari asistennya.


"Iya?"

__ADS_1


Wanita bernama Daniah tersebut menaruh proposal ditangannya kemudian menatap asistennya.


"Ada telpon dari Bu Alma."


Daniah mengangguk dan mengambil ponsel yang sudah terhubung dengan Alma. "Assalamualaikum, Alma."


"Waalaikumsalam Dan, bagaimana menurutmu kasus hak saham pada perusahaan almarhum kedua orang tua ku, apakah bisa di terima?" tanya Alma diseberang sana.


"Kau sahabatku, kedua orang tuamu sangat berjasa padaku, jadi aku akan pastikan kau akan mendapatkan hak-hakmu."


"Terimakasih Dan," jawab Alma.


Daniah mengangguk walaupun tidak bisa diliat oleh Alma. "Sore ini aku akan menjemputmu, kita akan menemui pria brengsek itu dan menyelesaikan semuanya secara baik-baik dan membawanya ke jalur hukum."


"Aku bisa mengandalkan, kalau begitu sampai ketemu nanti, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Daniah mengembalikan ponsel tersebut kepada asistennya kemudian kembali membaca proposal Alma. "Arlan Megantara, kau sudah terlalu banyak menyakiti sahabatku."





TBC


Assalamualaikum

__ADS_1


Jangan Lupa Like


__ADS_2