Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh

Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh
Darren Tidak melakukan apapun


__ADS_3

Kenan dan Fana bertamu ke rumah menatunya, dengan membawa berbagai makanan yang Fana masak untuk putrinya, Fana sangat bersemangat saat memasuki rumah Darren, dan di sambut langsung oleh Regantara selaku tuan rumah.


Sebelumnya baik Kenan maupun Regantara tidak mengenal satu sama lain, sampai saar meteka berbesanpun mereka tidak mengenal watak dari masing-masing. Baik Rega maupun Kenan hanya mengenal lewat penyelidikan seseorang yang mereka tugaskan.


"Selamat siang Rega." Kenan menyapa untuk sekedar basa-basi.


Rega menyambut uluran tangan besannya dan mwnjawab seperlunya saja tanpa hendak berbasa basi lebih lama.


Nadhira menyapa ramah Shafana meskipun hanya di tanggapi canggung oleh Fana. Nadhira menilai jika istri dari Kenan itu sangat hati-hati dalam berkomunikasi dengan lawan bicaranya, berbeda dengan Laura menantunya, sepertinya sifat Laura menurun dari sang ayah pikir Nadhira.


"Emh. Tuan Rega tidak ke kantor?" Kenan mencoba mencairkan suasana lebih dulu. Ia menekan keangkuhannya di tempat yang bukan wilayahnya. Kenan bertindak demikian hanya untuk memastikan jika putrinya dalam keadaan baik-baik saja.


"Ken. Jangan panggil Tuan! Panggil Rega saja supaya lebih akrab, kita kan berbesan." Sejak dulu Rega memang selalu bersikaf hangat pada semua orang.


"Kalian ke sini ingin menemui putri kalian?" tanya Rega pelan.


"Ya Tuan Rega. Kau tau suamiku sampai tidak tidur semalaman karna mwmikirkan putrinya." Fana lah yang menjawab, ia membongkar aib suaminya yang memikirkan Laura. Entah mengapa ikatan antara Laura dan Kenan sangat kuat, jika Liora akan tertutup pada siapapun, berbeda dengan Laura, gadis cantik itu lebih dekat dengan Kenan di bandingkan dengan Fana.

__ADS_1


"Fana." Kenan memperingati istrinya.


"Kemana Laura?" Fana nampak celingukan mencari putri sulungnya.


"Ada, mereka sedang di ruang makan. Laura tengah menyuapi suaminya." Nadhira terlihat seperti mertua yang sangat menyayangi menantunya di hadapan besannya padahal Nadhira sering kali cosplay jadi nenek sihir di hadapan Laura.


"Mari kita ke sana!" Ajak Rega pada pasangan besannya.


Kenan dan Fana menyaksikan putrinya tengah memisahkan buliran buah Jeruk dari kulit ari serta bijinya, terlihat Laura sangat serius melakukannya sampai tak menyadari kedua orang tuangnya hadir di sana.


Mendengar suara Daddy Laura menghentikan kegiatannya. Mungkinkan Daddy datang? Apakah Daddynya akan menjemputnya pulang? pikir Laura. Dengan hati-hati Laura berdiri, dua sosok yang ia rindukan ada di sana.


Dengan tindakan tergesa Laura menggeser kursi yang ia duduki, sekuat mungkin gadis itu berlari dan menjatuhkan tubuhnya pada sosok pria yang paling menyayanginya di muka bumi ini.


"Daddy ..." Laura memeluk punggung ayahnya dengan erat, persis seperti seorang musafir yang baru saja menemukan banyak makanan lezat.


"Daddy Laura merindukan Daddy." ucap Laura parau. Ia menahan tangis serta luapan kebahagiaan karna bertemu dengan Daddynya.

__ADS_1


Sumpah demi apapun kehadiran Daddynya mampu melenyapkan kekawatiran dalam jiwa gadis itu.


"Kau tidak merindukan Mommy?" ucap Fana dari belakan tubuh Kenan, Fana dengan mengerucutkan bibirnya main-main, ia merentakan tangan bersiap memeluk putrinya.


"Aku juga merindukan Mommy." Laura mengurai pelujannya dari Kenan dan memeluk tubuh Mommynya.


Laura menghirup dalam-dalam aroma yang ia rindukan.


"Mom selalu wangi." ucap Laura jujur.


Setelah saling melepas rindu, Rega mengarahkan menantu dan besannya ke arah meja makan.


"Sayang ... Kuku-kukumu jadi rusak." Kenan meneliti kesepuluh jemari putrinya, serta mengecup tangan kiri Laura.


"Darren! Jangan katakan jika kau mengerjai putriku!" Kenan menatap tajam menantunya yang duduk dengan tenang di kursi rodanya.


"Tidak Dad. Darren tidak melakukan apapun."

__ADS_1


__ADS_2