Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh

Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh
Apa rasanya masih sama?


__ADS_3

Laura sudah pulang ke rumahnya beberapa minggu yang lalu. Meski sudah terlewat 8 minggu Laura belum bisa mengembalikan bentuk tubuhnya seperti semula.


Tubuhnya kini terlihat seperti kolong wewe, setidaknya itu menurut Laura sendiri. Padahal Darren selalu memujinya, mengatakannya semakin seksi. Tapi sungguh pujian Darren terdengar seperti bualan di telinga Laura.


Berat badan Laura kini mencapai 67 kilo gram, padahal sebelumnya Laura selalu ideal di angka 50kilo gram. Mungkin berat badan Laura juga terpengaruh dari dirinya yang menyusui, Darren juga melarangnya untuk melakukan diet karna tak ingin membatasi nutrisi untuk putranya. Bahkan Darren kerap kali memasakkan Laura makanan enak, agar produksi Asi Laura semakin melimpah.


Darren memboyong keluarga kecilnya ke rumah baru yang ia siapkan. Rumah yang Darren desaign senyaman mungkin dengan halaman dan taman yang luas. Darren mengerjakan beberapa orang di rumahnya hanya agar Laura benar-benar menjadi ratu.


Pagi-pagi Laura di buat kesal karna melihat berat badannya yang kembali naik dua kilo di minggu sebelumnya.


"Ya Tuhan kapan berat badanku akan berkurang?" Alexa terlihat frustasi menatap bayangan dirinya di depan cermin, bisa bisa ia stres memikirkan berat badannya.


Darren membuka pintu kamar mandi dan mendapati Laura yang terlihat muram.


"Ada apa? Hmmm ..."


Darren menyampirkan dagunya di pundak Laura, bibirnya mengecup pipi Laura yang sedikit chabi. Sebenarnya Laura tidak gendut, hanya semok sedikit karna Laura memiliki tinggi badan yang tergolong tinggi.


"Berat badanku naik lagi Darren." Laura menyentuh lengan kekar yang membelit pinggang dan perutnya.


"Terus kenapa jika naik lagi? Kau tetap terlihat cantik di mataku." Darren mengeratkan pelukannya.


Laura terlihat murung dengan tatapan sayu yang membingkai wajahnya. Entah mengapa dirinya takut jika Darren berbuat curang di belakannya. Darren bahkan tidak menyentuhnya sejak setelah dirinya melahirkan.


Kadang kala Laura menduga-duga jika di luar sana Darren memiliki wanita lain yang lebih cantik dan pintar darinya. Itu sebabnya Darren tak mempermasalahkan penampilannya. Laura berpendapat jika Darren hanya memerlukan dirinya untuk merawat dan menjaga putranya saja.

__ADS_1


Darren kaya raya juga dengan wajah tampan tubuh Darren juga kekar semakin gagah jika mengenakan stelan kerjanya. Laura bahkan merasa tak cocok bersanding dengan Darren. Dari pantulan cermin dirinya melihat perbedaannya.


Laura terlihat kusam karna belum perawatan, rambutnya juga terlihat lepek. Kuku kukunya juga polos, dudah lama Laura tidak kesalon karna menikmati perannya sebagai ibu. Pantas saja Darren tidak meminta haknya sudah hampir dua bulan, Laura menyadari dirinya memang jelek sekarang.


"Laura .."


"Sayang ..."


Beberapa kali Darren memanggil Laura. Tapi istrinya malah terlihat melamun.


"I-iya ada apa?"


"Kenapa malah melamun?"


Laura diam. Tapi ia penasaran dengan jawaban dari pertanyaan yang mengganjal di hatinya. Laura bahkan menanyakan pada Mommynya saat setelah melahirkan seorang pria akan segera meminta haknya setelah nifasnya berlalu. Kadang ada pula yang meminta lebih awal dengan cara lain misalnya berkaraoke.


"Tentu saja, banyakpun boleh sayang."


"A-apa kau memiliki wanita lain di belakangku? Emm mak-maksudku-"


Darren terlihat tak suka dengan pertanyaan Laura, pria berusia 25 tahun itu melepas pelukannya dan memutar tubuh Laura ke arahnya.


"Apa aku terlihat semurahan itu? Apa aku terlihat seperti pria belang di matamu?"


Laura mengatupkan mulutnya kemidian membukanyanya dengan ragu-ragu. "Kau, kau tidak meminta hakmu padaku sudah dua bulan Darren."

__ADS_1


"Baru dua bulan. Aku bahkan sebelumnya tidak pernah menyentuh wanita selama 22 tahun. Juga setelah menikah denganmu aku tidak menyentuhmu selama dua tahun meskipun pada akhirnya aku tak sanggup. Aku tak pernah berpikir untuk berbuat culas Laura. Mengingat kau koma dua bulan lalu membuatku berpikir untuk tidak memiliki anak lagi. Aku masih berkonsultasi dengan dokter untuk mencari alat kontra sepsi terbaik."


"Aku pikir kau memiliki wanita selain aku, sehingga kau tak menginginkan aku lagi."


"Tidak menginginkanmu? Itu mustahil Laura.


Darren meraih tengkuk Laura dan menciumnya dengan panas juga tangannya yang di penuhi urat mulai menyentuh tempat-tempat yang ia sukai. Darren melepas tautan bibirnya kemudian menatap Laura.


"Aku Selalu menginginkanmu lagi dan lagi. Baiklah kita buktikan sekarang. Tapi aku akan membuangnya di luar, aku tak ingin menempatkamu dalam bahaya wanita." Darren mencium bibir wanitanya dalam.


Laura cukup terharu dengan pemikiran suaminya.


"Jangan lama! Bayi kita takut bangun." Laura berbisik di antara cumbuan suaminya.


"Ya, tak akan lama. Dua bulan puasa pasti keluarnya cepet paling sepuluh menit. Tapi rode kedua bisa tembus dua jam Yang."


Darren mengecup perut Laura yang terdapat jaitan yang meninggalkan jekaknya. "Maaf sudah meninggalkan bekas luka."


"Tubuhmu semakin menggemaskan. Aku menyukainya."


Darren memposisikan Laura untuk membelakanginya, kali ini Darren akan mencoba gaya baru. Ia belum pernah melakukannya sambil berdiri.


"Sayang aku akan masuk."


Laura mengangguk menginyakan juga mempersilahkan suaminya.

__ADS_1


"Shhh,,, ughhh ..." Darren melenguh tertahan.


"Bagaimana apa rasanya nasih sama?" Laura merusak suasana saja


__ADS_2