Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh

Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh
Aku Ingin Menyenangkanmu


__ADS_3

Darren tetap memaksa. "Aku ingin di mandikan olehmu."


"Ya Tuhan, bisakah aku berganti suami? Aku lebih rela bersuamikan Jeon jungkok dari pada memiliki suami kurang akhlak sepertimu." Laura menggigit lengan tangan Darren yang sedak tagi menahan pergerakannya.


"Gigitnya jangan di sana cantik, di leher atau di dada boleh?" Bukannya kesakitan Darren justru semakin menggoda istrinya.


"Darren, kau semakin mesum sialan!"


"Sah-sah saja mesum pada istri sendiri."


"Darren."


"Menurutlah. Atau aku akan mengadukanmu pada Mama dan Papaku." Acam Darren tak main-main.


Mendengar Darren yang akan mengadukannya pada kedua mertuanya sukses membuat Laura ketakutan. Bayangan mertua kejam yang kadang di lihat Laura di sinetron ikan terbang menghantuinya, sebenarnya bukan tipenya takut pada seseorang tapi mengingat Nadhira adalah mertuanya sukses membuat Laura menurut.


"Ba-baiklah ayo biar ku mandikan." Laura bak kerbau di cucuk hidungnya, langsung menurut dan patuh saat mendengar nama mertuanya di sebut.


Darren mengulum senyumnya ternyata kali ini kelemahan Laura ada pada ibu tirinya, sepertinya ada sesuatu yang membuat Laura menjadi takut akan ibu sambungnya itu, dan Darren tak ingin ambil pusing yang terpenting Laura mengikuti apa keinginannya.


"Ayo." Darren melepaskan rengkuhannya.


Laura menghembuskan nafas kasar, mau tak mau ia harus melayani Darren untuk mandi.


Dikasih hati malah minta jantung itulah gambarsn yang tepat untuk Darren. Pria itu benar-benar tak tahu malu meminta Laura untuk ikut berendam bersamanya di dalam bathup, Laura dengan tegas menolak tapi Darren tanpa permisi menarik tangan Laura hingga Byurr ...


Laura terjatuh tepat di hadapan Darren, sampai air di dalamnya tumpah-tumpah karna gelombang tubuh Laura yang mengenai air dengan tiba-tiba.

__ADS_1


"Darren!!" Laura terpekik marah pada pria itu.


"Sial. Takdir macam apa yang ku jalani? Aku ingin sekali mengutuk sekenario kehidupanku yang berantakan ini." Laura tidak perduli sekalipun Darren tersinggung oleh kalimatnya.


"Kau tidak pandai bersyukur Laura! Harusnya kau merasa beruntung karna aku memperlakukan dengan manusiawi."


"Bersyukur? Haruskah aku bersyukur dengan pernikahan neraka ini?"


Hmmmppp ....


Mulut Laura segera di bungkam oleh bibir Darren.


"Kau terlalu banyak berbicara." Gunam Darren kesal.


"Kau juga terlalu banyak menciumku!" Laura mendorong dada bidang Darren sampai membuat jarak di antara mereka.


"Lakukan saja jika kau mampu." Laura tersenyum meremehkan ucapan Darren yang terdengar hanya isapan jempol belaka.


Pada akhirnya Laura mandi bersama dengan Darren untuk mempersingkat waktu karna sebentar lagi acara akan di mulai.


Sesekali Laura melirik Darren, bahkan Darren mendapati Laura beberapa kali mencuri-curi pandang ke arahnya.


Darren menebak jika Laura sebenarnya penasaran akan bentuk senjata laras panjangnya yang tegak sedari tadi, sekalipun ia sudah mandi air dingin. Ya jika di pikir bagai mana senjatanya akan tertidur jika penyebab benda itu bangun terpampang nyata di hadapannya.


"Ra, aku pinjam tanganmu boleh?"


"Nggak, nggak. Apaan sih?" Laura menepis tangan Darren yang menuntun tangannya menuju sesuatu yang menyembul di balik busa sabun.

__ADS_1


"Ayolah Ra, ini juga kewajibanmu!" Darren terlihat memelas. Sesekali menggunakan tangannya sendiri untuk memainkan senjatanya.


Darren menarik tutup saluran air bathup itu sehingga airnya menyurut seketika membuat Laura kelimpungan saat seluruh tubuhnya terpampang di hadapan suami lumpuhnya.


"Astagha Darren." Laura hendak mengambil handuk tapi secepat kilat Darren menghentikan gerakan tangan Laura.


Darren juga mengambil shower untuk membilas tubuhnya juga tubuh Laura.


"Aku bisa memuaskanmu!" Bisik Darren.


Yang benar saja? Memuaskan dalam keadaan lumpuh itu tidak mungkin. Begitulah benak Laura berpikir.


"Aku tak yakin dengan kondisimu yang seperti ini." Laura tersenyum sumir, seakan mengejek jika Darren tak akan bisa melakukan apapun.


Merasa di remehkan Darren segera mendorong Laura hingga terbaring di atas bathup kosong, hampir saja kepalanya terhantuk bagian bathup itu.


Darren mulai menyentuh tempat-tempat yang bisa ia jangkau, tak banyak yang bisa ia lakukan karna keterbatasan yang ia miliki saat ini. Menurutnya ia terlalu memaksakan diri.


Darren mengecupi bagian tubuh Laura dengan sangat menggebu dan berutal terutama di bagian tungkai kaki serta sampai ke perut. Sealan seperti seorang cassanova, Darren begitu pandai mempermainkan Laura, sampai gadis itu yang semula berontak kini di buat bungkam oleh setiap sentuhannya.


"Darren apa yang kau lakukan?" Suara Laura tercekat saat ada benda lunak terasa menyentuh dan menyingkap kelopak mawarnya, menggunakan indra perasanya yang terasa panas di celah sempitnya.


Darren mengangkat wajahnya sebentar.


"Aku ingin menyenangkanmu." kemudian ia kembali membenamkan mulutnya yang seketika mwmbuat Laura berteriak tertahan.


"Da-Darren."

__ADS_1


__ADS_2