
Seisi rumah di buat panik saat Liora tidak di temukan di seluruh penjuru rumah, entah kemana wanita hamil itu pergi di malam yang sudah larut.
Eldy, Daniel dan juga Kenan memasuki mobil untuk mrncari Liora.
Darren hanya bisa menatap nanar saat semua orang pergi mencari adik iparnya sedangkan dirinya hanya bisa membatu di kursi rodanya.
Laura juga sepertinya turut mencari adiknya, terbukti dari kamar istrinya yang kosong, tidak terdapat Laura di sana.
Malam semakin larut tapi Laura tidak juga pulang, entah kemana istrinya pergi, membuat Darren sedikit khawatir pasalnya tadi mereka sempat berdebat, bahkan Darren memperlakukan Laura dengan sangat kasar.
Pagi sudah menjelang jarum jam menunjukan pukul empat dini hari tapi sekejappun Darren tidak bisa memejamkan matanya.
Sampai hangatnya sang surya menyapa Laura belum juga kembali begitu juga dengan semua orang. Di rumah ini Darren merasa asing, ia merasa tak ada satupun yang perduli terhadapnya. Sepahit inikah takdirnya, pada akhirnya Darren memeluk dirinya sendiri.
Jika di ingat jangankan orang lain, Darren bahkan tidak merasakan kasih sayang ibu kandungnya yang entah berantah berada di mana. Kali ini Darren ingin menangis tak perduli siapa dirinya, dengan kondisi cacat tanpa orang lain yang peduli, hal ini cukup memukul mundur mentalnya.
Sampai setelah beberapa menit. Ponselnya berbunyi, Papanya akan membawa Darren berobat ke rumah sakit terbaik di singapore.
Tanpa pamit tanpa kata Darren terbang ke negri singa hari itu juga.
Saat Laura kembali ke rumahnya diang hari, wanita itu tak menemukan Darren di sana, ia bertanya pada beberapa pelayan di rumahnya tapi mereka tidak ada yang mengetahui keberadaan Darren, mereka hanya mengatakan jika Darren di jemput seseorang yang merupakan ayah kandung pria itu.
Tanpa kabar tanpa ada pesan atau apapun pria itu hilang bagai di telan bumi. Membuat Laura di kerubuni rasa bersalah.
Laura tidak dapat melakukan apapun, percuma ia bertanya pada ibu mertuanya, yang ada hanya cacian dan makian yang keluar dari mulut mertuanya.
Istri Darren sudah pasrah seandainya Darren ingin memenjarakannya.
.
Dua tahun telah berlalu.
Selama itu pula Laura tinggal di rumah Daddynya sedangkan Liora tinggal di rumah suaminya, dengan seorang anak laki-laki buah hatinya bersama Eldy. Tapi selama itu pula Liora membencinya, menurut adiknya Lauralah penyebab kehancuran masa depannya.
__ADS_1
Sore hari saat Laura pulang dari aktifitasnya ia terpekik kaget saat seorang pria tinggi dengan bahu lebar berada di kamarnya.
Pria yang bertelanjang di bagian atas tubuhnya dengan otot-otot yang terlatih. Bagian bawahnya pria itu mengenakan handuk putih sebatas pinggang hingga ke lututnya.
"Siapa Kau sialan?"
pria itu berbalik, dengan seringaian tipis di wajah tampannya.
"Apakah waktu dua tahun mampu menghilangkan ingatanmu tentang aku?"
Pria itu mendekat membuat Laura mundur dengan waspada. "Jangan mendekat!"
Laura hendak menggapai pintu, tapi secepat kilat pria itu mendekat mengunci pintunya.
"Kau melupakan aku hmm?"
Pria tampan itu terus mendekat dan menarik pinggang Laura hingga terhimpit je tubuhnya.
"Lepaskan!" Laura terus memberontak.
"Lepaskan brengsek ... Atau aku akan berteriak!" Ancam Laura tak main-main.
"Teriak saja! lagi pula siapa yang melarangmu." ucap pria itu datar. Tubuh Laura semakin menempel pada pria asing menurutnya ia tak mengenali pria di hadapannya. Membuat Laura semakin tak nyaman, tapi percuma saja seandainya ia berteriak kamarnya kedap suara.
Cup.
Dengan tanpa basa basi pria itu mengecup permukaan bibir Laura. Kemudian menyesapnya secara rakus dan menggebu.
Laura naik pitam akan tindakan pria di hadapannya, ia marah dengan wajah memerah. Sekuat mungkin Laura melepaskan diri dan ...
Plakkk
Tanpa babibu, Laura melayangkan tamparan menyakitkan pada rahang tegas pria itu.
__ADS_1
"Lancang kau mencium wanita yang sudah bersuami."
Pria itu berdecih pelan.
"Kau masih ingat memiliki suami? Lalu di mana suamimu?" tanya pria itu telak. Sungguh Laura tidak mengenali pri di hadapannya.
"Bukan urusanmu sialan!" Laura hendak keluar dan lagi pria itu selalu menggagalkan rencananya.
Pria itu menggendong Laura layaknya karung beras, kemudian sedikit membantingnya ke arah ranjang sampai tubuh itu memantul, dengan cepat pria jangkung itu mengunci pergerakan gadis di bawahnya.
Pria itu kembali membenamkan ciuman di antara belahan bibir gadis di bawahnya. Membuat Laura nenangis ketakutan. Tenaganya yang lemah tidak sebanding dengan tubuh yang berada di atas tubuhnya.
"Aku ingin! sungguh aku sangat menginginkannya." tangan pria itu tidak diam mulai menyentuh titik-titik yang ia inginkan.
Tok ... Tok ...
"Sayang ini Daddy."
"Sayang buka pintunya!"
Darren mendengus dan segera turun dari atas tubuh Laura dan memasuki ruang ganti. Ya pria tampan itu adalah Darren, dan pria itu kini sudah sembuh dan kembali normal.
Ia kembali dengan ketampanan yang berkali-kali lipat.
Laura melangkahkan kakinya untuk membuka pintu, karna ada Daddynya di balik pintu itu.
Daddy Kenan menceritakan apa yang terjadi dengan Darren pada putrinya.
"Daddy ..."
Laura sangat senang mendengar Darren telah sembuh, akhirnya sebentar lagi statusnya akan jelas. Ternyata pria tadi adalah Darren. "Yey, sebentar lagi aku menjadi Janda." saking senangnya Laura melompat-lompat, bahkan jika bisa ia ingin salto untuk mengekpresikan kebahagiaanya.
"Yeyeye yeyeyey aku akan jadi janda." teriaknya semakin girang.
__ADS_1
"Jangan mimpi!"