
Saat Laura terbangun dari tidurnya ia segera mencari keberadaan Darren di seluruh sudut kamarnya, ia juga mencari ke kamar mandi serta ruang ganti yang berada di kamarnya. Namun batang hidung Darren tidak terlihat sama sekali.
Laura di buat panik takut Darren hilang, entah akan menjadi seperti apa nazibnya di tangan kedua mertuanya saat Darren benar-benar hilang, apa lagi Nadhira, ibu mertuanya pasti akan mengulitinya hidup-hidup jika Darren sampai benar-benar hilang.
"Darren."
"Darren."
Laura keluar kamar berharap ia segera menemukan pria lumpuh itu, ia juga menanyai beberapa pelayan dirumahnya. Tapi tidak ada satupun dari mereka mengetahui keberadaan Darren.
Rumah mulai terlihat ramai, juga beberapa hidangan sudah terhidang di meja makan entah sejjak kapan sungguh Laura tidak tau, ternyata ia terlelap lebih dari tiga jam. Bahkan senjapun sudah menyapa, sang surya juga sudah memudarkan sinarnya.
Sebentar lagi acara pernikahan Liora di mulai, tapi ia belum menemukan keberadaan Darren.
"Darren kau di mana?" Laura semakin panik saat ibu mertuanya melakukan panggilan vidio, keringat sebesar biji jagung sudah keluar dari seluruh tubuhnya terutama di bagian dahinya. Laura memilih mengabaikan panggilan ibu mertuanya hingga panggilan itu masuk berulang kali
"Mom, liat Darren?" Laura menghampiri Mommynya yang tengah membujuk Liora yang terlihat menangis.
"Tidak, kau telpon ke ponselnya." Astaga Laura sampai melupakan hal itu.
Saat panggilan pertama terlewat begitu saja. Belum sempat Laura memanggil kembali ponselnya kembali berbunyi, Laura pikir mertuanya yang menelpon, ternyata tebakannya salah. Ternyata yang menelpon adalah Darren sendiri.
"Kau dimana?" tanpa basa basi Laura membentak Darren, sampai di sebrang sana Darren menjauhkan ponsel dari jangkawan telinganya. Kenan di buat terkekeh dengan tindakan putrinya itu.
"Aku di ruang kerja Daddy."
"Tunggu aku jangan berkeliaran jika kau tak ingin kehilangan kedua kaki tak bergunamu itu." Laura membentak Darren kembali. Dan mengakhiri panggilan.
"Dad, apa putri sulungmu seorang psycopath?" Darren bertanya ngeri, ancaman Laura terdengar tak main-main.
"Hmm, aku tak ingat."
Baaammm ...
Pintu di buka secara kasar menampilkan Laura dengan aura menakutkan, sepertinya gadis itu benar-benar marah terlihat dari cara gadis itu mengatur napasnya yang memburu.
__ADS_1
"Darren, beraninya kau pergi tanpa seijinku!" Suara Laura menggelegar memecah kesunyian di ruang kerja Kenan, dengan berkacak pinggang Laura mendatangi Darren yang tersenyum kikuk.
Tanpa pikir panjang Laura menarik sebelah telinga Darren sampai pria itu meneleng karna kuatnya tarikan Laura.
"Aw ... Aw ... Sakit Ra, sakit." Darren mengaduh, ia tak bercanda akan rasa sakit yang mendatanginya, Darren menggosok telinga sebelah kanannya sampai memerah.
"Kau melakukan Kdrt terhadap suamimu sendiri!" Kenan mengkritik putrinya.
"Itu hukuman untuknya Dad, Darren pergi tanpa mengatakannya padaku aku lelah mencarinya." Laura bahkan mengeplak bisep siaminya beberapa kali.
"Kau tidur Ra, bagaimana aku ijinnya?" Darren masih mengusap-usap telinganya yang panas.
"Ayo kita mandi! Sebentar lagi acaranya di mulai." Laura mendorong kursi roda Darren. "Kami pamit Dad."
Saat Laura tengah membawa Darren menuju kamarnya tiba-tiba panggilan seseorang menghentikan langkahnya. "Laura." panggilan lembut serta mendayu itu selalu memporak porandakan rungu Laura, Laura selalu terhanyut akan tutur kata yang selembut sutra itu.
"Da-Daniel ka-kau di sini?" tanyanya kikuk, sial Laura selalu sulit mengendalikan tingkahnya saat di hadapkan dengan pria yang masih bersemayam di hatinya entah sebagai apa.
"Ya, aku di sini. Papaku akan menikah mana mungkin aku tidak hadir." Daniel tersenyum. "Sebentar lagi kau akan menjadi tanteku." Daniel semakin terkekeh yang luarbiasa membuat Darren semakin muak padanya.
"Ra, kau membantunya mandi?" Ada rasa tak terima saat Daniel mengatakan itu, bagai mana bisa ia terlihat biasa saja saat mendengar gadis yang ia cintai memandikan pria lain?
Belum sempat Laura menjawab Darren lebih dulu menjawab ketus pertanyaan Daniel.
"Tentu sakja selama ini yang membantuku mandi istriku sendiri kau pikir siapa, lagi pula tidak ada larangan untuknya memandikanku." Darren menatap Daniel dengan penuh permusuhan.
Laura semakin tak tahan dengan ulah Darren yang menurutnya kelewatan. Apa tujuannya Darren berkata demikian, pasti Darren ingin membuat Daniel semakin sakit hati.
"Kami permisi Daniel." Laura mendorong kursi roda asuaminya ke arah kamarnya.
"Darren berhenti bertingkah kekanakan di hadapan Daniel, tingkahmu seolah-olah tengah meledeknya karna kau berhasil menikahiku, sedangkan Daniel dia masih sakit hati padaku jangan malah membuatku semakin terlihat bersalah di hadapannya." Laura mengomeli Darren setelah sampai di kamarnya.
"Aku rasa tak ada ucapanku yang salah Laura." ucap Darren datar serta tanpa ekspresi.
"Kau berbohong padanya Darren. Kau bilang aku memandikanmu memangnya kapan aku pernah memandikanmu?"
__ADS_1
Darren diam benar juga apa yang di katakan Laura, bukankah selama ini Laura belum pernah memandikannya secara langsung maka otaknya yang cerdas langsung berputar.
"Ya sudah, agar aku tidak berbohong mandikan aku sekarang." dengan entengnya Darren berkata seraya dengan santai membuka bajunya.
"Aku ingin berendam denganmu."
Laura melotot mendengar kata tak wajar dari Darren.
"Jangan macam-macam Kau!" Hardik Laura.
Darren meraih tangan Laura dan menyentuhkannya pada bukti gairahnya. "Dia sudah berdiri sejak tadi, kau tak ingin bersilaturahmi dengannya, dia milikmu." Darren meniupkan nafas hangat di telinga dan merambat hingga ke leher Laura menciptakan gelayar-gelayar yang sulit untuk di terjemahkan.
"Darren, si Culun mesum kau, aku akan mengadukan ini pada Daddy." Acam Laura yang justru di balas gelak tawa oleh Darren,
"Katakan saja jika kau tak malu. Oh ya, semua kartumu sudah Daddy blokir atas permintaanku, termasuk Caffe Mommy untuk sementara Mommy ambil alih, kau hanya bisa berbelanja dan memenuhi kebutuhanmu dari uangku. Tapi tentu saja itu tidaklah gratis ada harga yang harus kau bayar, dari setiap uang yang kau pergunakan." ujar Darren, ia pintar dan tak ingin rugi.
"Lalu di mana tanggung jawabmu sialan! Kau berkewajiban memberiku nafkah pria licik. Dasar culas." Lara meronta dari Darren yang justru memeluknya sangat erat punggungnya menempel di dada dan perut keras Darren.
"Ya berbicara kewajiban. Kau belum menunaikan kewajibanmu sepagai istriku sepenuhnya." Darren malah semaki menjadi ia mere mass bukit kembar Laura sang sekal itu.
"Aww "
"Lancang sekali kau Darren."
"Hey ini miliku! Sah-sah saja aku menikmatinya sesukaku."
"Darren semakin kesini kau semakin kurang ajar sialan."
"Kau saja yang bodoh Laura, aku pria normal yang sudah menikah, aku membutuhkan sentuhan serta wanita untuk menuntaskan kebutuhan biologisku."
"Darren, ku pikir kau pria culun yang polos ternyata kau sama brengseknya dengan pria-pria lain sialan." Laura melemas dengan nafas ngos-ngosan meski lumpuh kekuatan Darren tak bisa di remehkan, atau di pandang sebelah mata.
"Otak kami para pria normal isinya tetap sama Laura, tak jauh-jauh dari kesenangan dan keberengsekan, justru aku yang salah paham padamu. Ku pikir meski kau bodoh dalam semua mata kuliah, ku pikir kau pintar dalam menyenangkan pria ternyata kau lebih bodoh dari dugaanku. Aku akan membuatmu pintar setidaknya untuk menyenangkan suamimu sendiri." Darren membenamkan bibirnya di ceruk leher istrinya, ia sengaja akan menciptakan tanda kepemilikan di leher putih itu.
Ya Darren ingin menunjukan pada Daniel bahwa Laura hanya miliknya.
__ADS_1