Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh

Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh
Jadilah rumah dan obat


__ADS_3

"Sayang belum tidur?" Darren keluar dari kamar mandi setelah menggosok gigi. Laura hanya menggeleng pelan.


Laura tengah berbaring menyamping.


"Atau mau di tidurin?" Canda Darren setengah serius, sebenarnya ia sangat ingin mengulang percintaan mereka kemarin.


"Otakmu me sum sekali Darren."


"Ya, iseng-iseng berhadih Ra, siapa tau kamu juga ingin." Darren itu benar-benar tak bisa jauh-jauh dari hal itu.


"Dasar."


Darren duduk dan meraih kaki Laura "Sini biar ku pijat." Darren memijat pelan kaki Laura.


"Ya begitu harus pengertian jika jadi seorang suami. Biar aku sayangnya ga sia-sia." Laura menikmati pijatan lembut di kakinya.


"Kakimu indah juga lembut Ra. Aku benar-benar menyukainya." Darren memuji istrinya.


"Tentu saja kakiku indah Darren aku merawatnya." Laura berujar dengan percaya diri.


Beberapa waktu sudah berlalu Darren masih saja memijat kaki istrinya. "Terimakasih sudah membiarkan darah dagingku tumbuh di rahimmu Ra."


"Ya kau tenang saja ini juga bayiku, aku juga akan menyayanginya. Sudah Darren kita tidur saja, aku sudah mengantuk." Laura menggeser tubuhnya, memberikan tempat untuk Darren terbaring di sampingnya.


Laura mematikan lampu utama dan otomatis lampu tidurnya menyala remang-remang.


Darren membaringkan tubuhnya di samping Laura. "Ra, boleh aku memelukmu." Darren meminta ijin ia takut jika sembarangan memeluk tubuh itu, Laura akan tak nyaman dan meninggalkannya.

__ADS_1


"Hem, peluk saja. Sepertinya bayimu juga menginginkan pelukan Papanya." Laura mengulum senyumnya lagi dan lagi oa mengkambing hitamkan bayinya untuk menutupi gengsinya yang juga ingin di peluk oleh Darren. Laura terlelap dengan sangat cepat di antara pelukan suaminya.


Menyadari istrinya sudah tertidur, Darren malah terbangun ia menatap selembar potret ibunya juga terdapat sebuah alamat di belakang foto itu.


Darren terduduk di atas lantai di dawah tempat tidurnya ia menatap potret ibunya dalam keremangan lampu tidur.


"Ma, Darren merindukan Mama. Darren ingin memeluk Mama, tapi Darren tidak memiliki keberanian sebesar itu." Katakan saja Darren lemah, seorang pria dewasa yang berumur 24 tahun menangis di tengah malam hanya ingin menemui ibunya. Tapi ia merasa takut di kecewakan oleh takdir.


Darren larut dalam kesedihannya, tanpa orang lain yang mengetahui beban hidup dan perasaannya. Tentang bagaimana Darren menjalani hari-hari yang sulit selama ini. Di usianya yang sudah dewasa Darren bahkan nyaris tak memiliki teman dekat. Ia tidak menikmati masa mudanya, dunianya hanya terbelenggu dengan perpisahan kedua orang tuanya.


"Darren menjadi seorang anak yang tidak beruntung. Darren bahkan tidak pernah mengadukan apapun pada Papa Ma, Darren memiliki orang tua lengkap tapi Darren merasa kesepian. Darren sering kali merasa sendiri meski berada di antara keramayan. Darren tak mengerti dengan hidup Darren sendiri, tak ada yang bisa Darren banggakan untuk kalian." Darren turus saja bergunam sendiri.


Tanpa Darren ketahui Laura sudah sedari tadi bangun saat tak merasa pelukan di tubuhnya. Laura meraba diri tentang betapa kerasnya dirinya terhadap Darren. Yang mana Darren sangat rapuh dan kekurangan kasih sayang.


"Darren bahkan tak mengenal arti sesungguhnya dari rumah Ma, Darren selalu menghabiskan waktu sendiri. Apa kesalahan Darren hingga Mama tak menginginkan Darren?" Darren menenggelamkan wajahnya di antara lutut yang sengaja ia tekuk kemudian ia peluk erat.


Darren terus berbicara dan bertanya sendiri, meski ia merasa itu tindakan konyol.


Hati Laura terenyuh bahkan terasa tercubit saat Darren menangis dengan begitu lirih punggung dan bahunya berdetar hebat. Laura baru tau serapuh apa pria itu. Meski terlihat menyebalkan.


Laura tak kuat melihat Darren seperti itu sehingga ia pura pura menggeliat dan memanggil nama suaminya. "Darrennn." suara Lauea di buat seserak mungkin untuk memuluskan ektingnya.


Darren langsung menghentikan tangisnya. Sebelum beranjak ia membersihkan sisa-sisa air mata di mata dan pipinya. Ia tak ingin Laura mengetahui jika dirinya habis menangis."


"Ya, Sayang ada apa? Kau haus? Atau ingin ke kamar mandi?" suara Darren terdengar parau di telinga Laura.


"Kau sedang apa?" Laura pura-pura bertanya.

__ADS_1


"Tidak sedang apapun aku hanya bermimpi tadi."


"Kemari." Laura merentankan tangannya meminta di peluk.


"Mau minum dulu?" Darren bertanya.


"Tidak, aku hanya ingin tidur di pelukanmu. Maksudku bayimu, ingin tidur sambil kau peluk."


Darren terkekeh, menurutnya tindakan Laura yang ini benar-benar menggemaskan.


"Kau menganggapku apa Darren?"


"Wanita yang ku inginkan."


"Aku ingin menjadi rumah untukmu kembali berpulang." Laura membisikan hal itu.


"Jadilah rumah dan obat untuk setiap pesakitan yang pernah ku lalui." Darren memeluk erat tubuh Laura.


"Aku bukan rumah sakit Darren."


"Ya. Kau hanya wanitaku. Tempatku menumpahkan cinta dan sper maa."


"Darren!" Laura memukul dada suaminya dengan repleks.


"Cepat tidur! Sebelum milikku ikut bangun.,"


Ambyar sudah, kalimat Laura yang sudah ia rangkai untuk menghibur Darren, kini kembali tertelan.

__ADS_1


__ADS_2