Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh

Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh
Menghalalkan semua cara


__ADS_3

Darren tak mampu lagi menahan laju kaca-kaca bening yang menghiasi bingkai manik matanya.


"Kumohon Dad, jangan mengatakan itu!" Darren beranjak mendekat ke arah Laura.


"Sayang aku minta maaf, jangan melukaiku seperti ini. Jika kau ingin memukulku bahkan menikamku lakukan saja Sayang, asal jangan meninggalkanku." Darren semakin mendekat sedangkan Laura malah beringsut memeluk Daddynya.


"Tolong suruh dia pergi Dad." Laura terlihat ketakutan saat Darren menjekat.


"Menjauhlah dari putriku!"


Darren terkesiap kala Ayah mertuanya mendorong tubuhnya hingga terjungkal ke belakang.


"Dad, Darren memiliki alasan mengapa Darren kelepasan menampar Laura." Darren berusaha membela diri.


"Laura menghina Mamaku, Dad. Laura mengatakan jika mulut Mamaku berbisa dan busuk sehingga Tuhan tak memberikan dirinya anak. Darren emosi dan, dan Daren malah kelepasan menamparnya. Darren minta maaf Dad." Darren bersimpuh di hadapan semua orang.


"Sudah kukatakan putriku bukan wanita baik. Apa lagi penurut, itu sebabnya aku akan mengambil putriku kembali. Lagi pula kau sudah normalkan?" Tidak tampak keraguan di setiap kalimat yang Darren lontarkan.


Rega mengabaikan Kenan dan Darren ia menatap ke arah menantunya. Ia lumayan tersinggung jika Laura memang mengatakan hal itu. Tapi Rega memilih merendahkan emosinya.


"Apa alasannya kau berkata demikian terhadap ibu mertuamu sendiri, Nak?"


"Haruskah aku diam saja ketika istrimu menghinaku, bahkan istri Anda sudah meludahi wajahku. Aku bisa saja memaklumi hal itu karna dia tidak menyukaiku. Tapi di saat istrimu merendahkan orang tuaku aku tak bisa memafkannya." Tangan Naya mengepal saat mengatakan itu.


Darren mematung, benarkah ibunya berlaku demikian terhadap istrinya.


"Seandainya saja bisa, aku ingin memvisum untuk membuktikan jika ucapanku benar. Namun sayangnya yang akan tervisum hanya luka yang di tinggalkan putramu saja. Lalu salahku jika aku membela diri?" ucapan Laura membuat semua orang bungkam.


"Maafkan Mamamu Laura. Nanti Papa akan menegurnya." Papa Rega mencoba menenangkan menantunya. Rega tau hormon ibu hamil kerap kali membuat moodnya berubah-ubah.


"Ya, Anda memang harus menegurnya. Dan tolong sampaikan maafku pada istri anda." Laura kembali diam.


"Rega, aku rasa pembicaraan kita sudah selesai. Baik Darren dan Laura sama-sama mengakui perbuatan mereka. Putriku tetap ingin berpisah dari anakmu." Kenan ingin cepat-cepat menyudahi perbincangan mereka.


"Tidak Dad, aku tidak mau berpisah dengan Laura." Darren tidak berdiri, ia berjalan menggunakan lututnya dan memegwasngi kaki mertuanya.


"Beri aku satu kesempatan Dad. Hany satu, ku mohon!" Darren mendongak dengan air mata di wajahnya.


"Sudah lah Darren, percuma kau memohon. Ceraikan saja putriku. Bukan aku ikut campur hanya saja tindakanmu memang keterlaluan." Kenan meraih bahu Darren dan membawanya berdiri, ia tak tega juga melihat Darren memohon.


"Sekali saja Dad, ku mohon."

__ADS_1


"Darren,,, watak putriku memang seperti itu. Sekuat apapun kau ingin merubahnya kau tak akan bisa, kau menyayangi ibumu kan. Carikan ibumu menantu sesuai inginnya. Jangan lagi menginginkan putriku, Laura keras kepala hanya akan ada perdebatan antara Laura dan ibumu." Kenan menepuk bahu Darren, ia tak menyalahkan sepenuhnya sikaf Darren karna ia juga mengetahui watak putrinya seperti apa. Namun saat putrinya terluka tentu saja ia yang akan merasa tersakiti.


"Dad, aku akan melakukan apapun untuk Laura. Tolong katakan pada Laura untuk tidak mencampakan aku. Tolong Dad!"


Laura muak melihat Darren yang memohon seperti itu, pria itu terlihat seperti memang mencintainya. Lalu siapa kemarin yang akan mematahkan kedua kakinya jika ia lari. Namun saat Laura berlari ke arah Daddynya ia pastikan tak akan ada yang bisa melukainya sedikitpun.


Regantara tak tega melihat putranya memohon sampai seperti itu. Darren adalah anak yang tertutup dan tak pernah meminta apapun darinya. Sebelumnya Darren selalu melakukan apapun keingin Regantara.


Melihat Daddy Kenan yang kukuh mendukung Laura untuk berpisah darinya membuat Darren merasa tak berdaya, hampir saja ia putus asa. Dan segera berlari menghampiri Papanya.


"Pa, Darren mohon bujuk Daddy Ken dan istriku Pa."


"Pa, bukankan selama inkm Darren selalu menurut keinginan Papa, maka untuk kali ini saja Darren mohon jangan biarkan Darren berpisak dengan istri dan calon anak Darren Pa. Darren tak ingin anak Darren kekurangan kasih sayang Pa. Lakukan apapun agar Laura tak memiliki pilihan sehingga ia terap bersamaku." Kali ini Darren memohon pada Papanya sendiri.


Regantara mengetahui pasti bagaiman rasa cinta seorang pria. **** Kenan menyuruh Darren mencari istri yang penurut dan yang di sukai ibunya, namun jika yang Darren inginkan hanya Laura maka perkataan Kenan akan sia-sia.


"Ken. Mereka tidak bisa berpisah. Setidaknya sampai bayi itu lahir." Rega membawa tubuh putranya untuk duduk di sampingnya. Darren adalah putranya satu-satunya ia akan melakukan apapun untuk kebahagiaannya.


"Kita tidak perlu memberitahu hakim jika putriku tengah mengandung. Prosesnya akan cepat Rega."


"Tidak Dad. Aku sendiri yang akan mengatakan jika Laura hamil, aku akan mengatakannya pada semua orang, lagi pula bayiku bukanlah aib yang harus di tutupi." Darren protes.


"Kau sudah bermain tangan."


"Diam Darren!" Laura menyentak Darren.


"Tentu sayang aku akan diam dan menurut asalkan kau mau pulang bersamaku. Aku juga akan membuat Mama meminta maaf padamu. Pulang bersamaku Ya?"


Laura memalingkan wajah, ia semakin muak terhadap Darren yang pandai berlakon.


"Kau tidak sebentar mengenalku Ken. Tantu kau mengetahui sedikit tentang diriku. Aku bisa melakukan apapun untuk keluargaku." ucap Rega tenang.


"Kau pikir hanya kau saja yang bisa melakukan apapun untuk keluargamu? Aku juga menyayangi putriku. Tentu aku akan melakukan apapun untuknya."


"Dengan keadaanmu yang hampir bangkrut begitu? Aku bisa saja membuat putrimu berbalik memohon pada putraku. Jika tidak maka ayah kebanggaannya ini akan mendekam di balik jeruji." Rega mau tak mau harus mengatur siasat agar Darren bisa membawa Laura pulang.


"Apa maumu?" Kenan mengerti Rega tengah membuatnya tak berkutik.


"Inginku cukup sederhana. Katakan pada putrimu untuk tetap bersama putraku."


"Tidak. Putramu bersalah."

__ADS_1


"Darren sudah mengaku dan memohon maaf."


"Apa maksud Anda dengan mengatakan jika Daddyk akan di penjara."


"Daddymu terbukti bersalah akan hilangnya dana dalam peroyek dan semua bukti mengarah ke besanku itu."


"Regaaa, kau bahkan tau aku di jebak." Kenan menggeram marah.


"Ya, aku sangat tau Kenan, dan apa salahnya jika putrimu berbakti padamu. Aku berubah pikiran untuk membantumu, jika Laura tetap melayangkan gugatan terhadap putraku aku bersumpah. Fyuhh,,, kau akan menghabiskan masa tuamu di dalam sel." Rega memang semengerikan itu jika menyangkut putra dan istrinya. Dan saya rasa sema memang seperti itu. Sayangnya kondisi Kenan tengah terjepit.


Laura tak mengira jika Daddynya benar-benar berada dalam masa sulit. Tapi dirinya malah menambah benan.


"Daddy,,," Laura berkata pelan seberat ini masalah yang menimpa keluarganya.


"Tenanglah sayang. Semua akan baik-baik saja, Daddy tak akan melibatkanmu dalam urusan Daddy." Kenan memeluk putrinya mencoba menenangkan putrinya yang khawatir.


"Papa memberimu waktu 1x24 jam untuk berpikir Laura sayang. Jika kau masih keras kepala ingin berpisah maka Daddymu akan merasakan dinginnya lantai penjara. Hanya Papa yang bisa menyelamatkannya."


"Diamlah Rega! Jangan membuat putriku semakin tertekan. Kau tidak lupa bukan jika Laura tengah mengandung cucumu!" Kenan amat kesal dengan Regantara. Tidak tahukah jika putrinya mudah setres.


Rega juga sebenarnya terpaksa melakukan hal ini, ia tak bisa membuat Darren hancur saat Laura tak ingin lagi bersamanya.


"Baiklah. Papa dan suamimu akan pulang. Tolong jaga calon cucu Papa! Besok kami akan kembali." Rega mengelus puncak kepala Laura di pelukan Kenan.


"Ayo Darren kita harus pulang.!"


"Darren ingin pulang bersama istri Darren Pa." Darren menatap sendu Laura yang tengah menangis di pelukan mertuanya.


"Kita harus pulang Darren!" Rega kembali duduk di samping putranya.


"Bujuk Mamamu untuk meminta maaf pada istrimu. Kau tau Mamamukan? Pantang baginya untuk meminta maaf." Rega berbisik.


"Darren takut Laura benar-benar pergi."


"Laura tak akan pergi jika kau mau menuruti perkataan dan rencana Papa." Rega berujar pelan tak terdengar oleh Besan dan menantunya yang mulai meninggalkan ruangan.


"Papa janji?"


"Ya Papa janji. Laura akan tetap menjadi milikmu bagaimanapun caranya." itulah Janji seorang Ayah terhadap putra tunggalnya.


Rega tak menutup mata jija putranya bersalah, tapi ia juga tak bisa membiarkan hidup Darren berantakan dan hancur.

__ADS_1


Papa akan menghalalkan semua cara agar Laura tetap dalam pelukanmu, bathin Regantara bulat.


__ADS_2