Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh

Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh
Akan mengambil kembali putriku


__ADS_3

"Papa, Darren mohon temani Darren menemui Daddy Kenan, besok pagi pukul sembilan. Darren tau Darren bersalah, dan Darren ingin minta maaf. Bawa juga Mama Dhira ya Pa." Darren mengirimi Sang ayah pesan, berharap Papanya mau membantunya.


Sekujur tubuh Kenan terasa sakit, apalagi di bagian punggung. Papanya tak main-main saat menghajar tubuhnya, wajahnya juga di hiasi dengan warna biru karna memar.


Darren kembali mengingat-ingat kalimat yang Laura lontarkan terhadap ibu, terdengar sebuah hinaan, yang mana Laura mengatak jika mulut Mamanya berbisa dan buruk sehingga Tuhan tak berkenan memberikannya seorang anak, tapi apa mereka berdebat sebelumnya?


Tapi Laura benar-benar diam tak membela diri saat Darren menamparnya, padahal biasanya Laura akan membantah, bahkan saat Laura terbukti bersalah karna sudah menggeser kursi yang hendak Darren duduki sampai Darren lumpuh beberapa waktu, Laura masih membela diri dengan alasan tak sengaja. Tapi tadi apa Laura hanya diam tanpa pembelaan sepatah katapun.


Darren menangis sampai kelelahan, sampai entah pukul berapa Darren mulai memejamkan matanya dengan posisi terduduk.


.


Sinar matahari pagi menembus kaca jendela di kamar Darren, hangat mulai menyapa dari terpaan sinar matahari pagi namun Darren enggan terbangun.


Suara bising terdengar dari bel apartemennya, dengan Enggan Darren meregangkan otot-ototnya tubuhnya terasa kaku juga dengan leher yang lumayan berat.


Darren berjalan perlahan, untuk sejenak Darren belum mengingat apapun, kesadarannya belum kembali sepenuhnya.


"Lelah sekali." Darren memegang lehernya yang terasa di gantungi beban berat puluhan kilo.


"Darren kau belum bersiap?" Papa Rega masuk saat Darren baru selesai membuka pintu.


"Cepat! Bukankan kau ada janji dengan mertuamu." Rega berujar malas.

__ADS_1


Darren terkesiap saat mengingat segalanya. Darren melirik jam di ruangannya, matanya semakin membola saat jarumjam menunjukan pukul setengah sembilan. Dengan terburu-buru Darren memasuki kamar mandi dan bersiap untuk pergi.


Butuh waktu empat puluh menit untuk sampai di kediaman keluarga Moses.


Tangan dan tubuh Darren mulai berkeringat, ini kali pertama Darren akan di sidang oleh seseorang mengenai kelakuannya yang tidak terpuji.


Saat memasuki rumah mata Darren langsung tersita kepada Laura yang tengah memangku keponakannya Gian. Darrentak dapat mengalihkan tatapannya dari sebelah wajah Laura yang terlihat semakin membengkak. Darren bisa membayangkan rasa sakit Laura, jangankan sampai membengkak seperti itu, wajah Darren yang memar sedikit saja Darren merasa sakit apa lagi Laura yang merupakan seorang wanita.


Darren membenci dirinya sendiri, mengapa ia tega melakukan hal paling memalukan.


Kenan mempersilahkan kedua tamunya duduk. Juga menyuruh agar sang istri Fana membawa Gian untuk masuk ke rumahnya, karna ibu balita itu tidak ada di sana.


Selepas kepergian Gian dan Mommynya Laura hanya memegangi tangan Kenan saja. Tidak sekalipun Laura menatap ke arah Darren yang sedari tadi menatap ke arahnya dengan manik berkaca-kaca.


"Daddy." lirih Laura.


"Tenanglah semua akan baik-baik saja." Kenan mengusap lembut puncak kepala putri sulungnya.


"Dhira tidak ikut Ken." Rega akhirnya berani membuka suara. Sedangkan Darren tak lepas memandangi Laura yang terlihat gelisah.


"Aku tau, makanya aku bertanya. Kemana istrimu!" suara Kenan terdengar sarkas dan membekukan.


"Bukannya aku sudah memintamu membawa istrimu, untuk masalah ini." Kenan menatap besannya dengan tatapan intimidasi.

__ADS_1


"Semua yang terjadi ada kaitannya dengan istri dan putramu." Sambung Kenan kembali.


"Aku minta maaf Ken."


Hening, tak ada yang berbicara Laura menggerak-gerakan kakinya, Kenan yang mengenal putrinya lebih baik dari siapapun membisikan sesuatu.


"Daddy janji, semua akan baik-baik saja. Ini pertama dan terakhir kalinya Darren melukaimu sayang." Seandainya saja Kenan tau jika ini adalah kali kedua Laura mengalami luka yang disebabkan oleh Darren, mungkin Kenan takan mengampuni menantunya itu.


Pertama kekerasan itu terjadi saat Darren masih lumpuh, Darren mendorong Laura hingga kening Laura terhantuk mengenai kloset dan mengeluarkan darah. Dan kali ini Darren menampar Laura hingga wajahnya membengkak.


"Darren apa benar kau menampar putriku?"


"Darren memiliki alasan Dad!"


"Jawab saja pertanyaanku Darren.!"


"Ya Dad, aku tidak sengaja melakukannya." Darren menunduk dengan penyesalan yanh terlihat jelas di matanya.


"Maafkan putraku Kenan. Aku sudah memberikannya pelajaran, aku janji ini yang terakhir kalinya Darren melalukan hal ini."


"Ya Rega, ini memang terakhir kalinya putriku di sakiti oleh putramu karna setelah ini aku akan mengambil kembali putriku, aku masih mampu menghidupinya." Perkataan Kenan membuat seluruh tubuh Darren melemas seketika. Tidak ini tidak boleh terjadi.


"

__ADS_1


__ADS_2