
"Sayang kau mau kemana?"
"Pulang."
"Pulang? Kau belum pulih Nak." Papa Rega meletakan makanan yang ia bawa dan mencoba menghalangi langkah Laura.
"Tetaplah di sini. Oke, kau akan pulang setelah kau sehat."
"Yang ada aku semakin sakit jika berada di sini."
Darren masih bergeming ia bertanya-tanya, sekeras itu tamparannya sehingga wajah Laura membengkak juga sudut bibirnya yang sobek.
"Nak Papa mohon kembali ke tempatmu."
"Jangan halangi aku. Aku akan pulang aku tak ingin berada di sini, Daddy dan Mommyku sangat menyayangiku mereka akan menerimaku."
"Apa yang terjadi? Katakan pada Papa?"
Laura tak menjawab ia menarik langkahnya yang tertatih menuju keluar. Dalam hati, ia bertanya-tanya kema Om Arven kenapa lama sekali.
"Laura kembali ketempatmu. Jika kau tak ingin keluargamu jatuh miskin." Darren mengancam Laura, ia memiliki kelemahan istrinya.
Sejenak Laura diam. Kemudian ia mengingat jika Daddynya sangat menyayanginya ia yakin Daddynya akan menerimanya sekalipun Daddynya tak memiliki apapun Daddynya tak akan menukarnya dengan harta. Ya bagi Daddynya hanya anak-anaknya harta yang paling berharga.
"Lakukan apapun maumu Darren aku tidak perduli."
Darren panik, ia takut Laura benar-benar pergi kerumah ayahnya dalam ke adaan kacau seperti ini. Ia menyesal sudah emosi dan menyakiti istrinya yang bahkan tengah hamil anaknya.
"Papa pasti sangat bangga pada putra papa itu. Papa lihat!" Laura menunjukan wajahnya.
__ADS_1
"Dia pelakunya."
Papa Rega mematung lututnya terasa lemas ia malu karna putranya bertindak demikian.
"Laura. Kita bisa bicara baik-baik, jangan memancing amarahku." Laura tak memperdulikan omongan Darren baginya jika Darren sudah bermain tangan maka selanjutnya akan demikian.
"Laura."
"Nona muda."
"Om Arven."
Laura memeluk tubuh asisten Daddynya. "Ayo Om Laura mau pulang."
"Setidaknya obati lukanya Nona." Arven menangkup dan menyentuh pipi nona mudanya dengan perlahan.
Ucapan sarkas Laura berhasil membuat Darren menggigil ketakutan.
Laura pergi. Darren yang hendak menghentikan langkah istrinya malah mendapat serangan bertubi-tubi dari Papanya.
"Apa pernah, aku mengajarkanmu bermain tangan anak sialan. Istrimu bukan samsak Darren yang kau pukuli se enak jidatmu." Tinjuan dan tendangan Rega layangkan terhadap putranya.
"Berhenti Pa, jangan biarkan Laura pergi. Aku tak bisa melepaskannya."
Bukkk
Bukkk
Duakkk
__ADS_1
"Kau terlalu berambisi Darren, kau seperti ibumu yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang kau inginkan. Kau bahkan memper-kosa istrimu sendiri, membuatnya masuk rumah sakit. Dan sekarang kau melukainya kembali. Jangankan Laura wanita yang tidak mencintaimu, gadis lain yang bahkan mencintaimupun bisa pergi dengan caramu yang terkesan pemaksanya." Rega dibuat kalap saat memukuli putranya.
"Sudah Pa." teriakan Nadhira tidak Rega hiraukan ia tetap menhajar putranya.
Darren berpikir harus melarikan diri ia harus menemui mertuanya, atau semuanya akan terlambat. Ia tak ingin berpisah dari Laura apa lagi wanita itu tengah mengandung darah dagingnya.
.
Darren berhasil meloloskan diri. Tujuan utamanya adalah rumah mertuanya.
Kenan malah mengusir Darren yang kukuh ingin menemuinya.
"Pergilah. Aku tak ingin menerima tamu. Jika kau ingin bertamu datanglah esok hari." Sekuat mungkin Kenan menahan amarah juga tangannya agar tidak memukili menantunya. Kenan yakin Regantara sudah lebih dari cukup untuk menghajarnya.
Kenan harus menjadi pria yang bijaksana dalam memecahkan masalah. Meski ia mempercayai putrinya, tapi Kenan harus mendengarkan setiap alasan orang yang terlibat. Agar dirinya bisa menyimpulkan langkah mana yang terbaik.
Darren yang melihat reaksi Kenan yang berusaha menahan amarah sangat yakin jika istrinya sudah mengatakan segala sesuatunya tentu saja kesaksian versi Laura.
"Bukankankah aku pernah mengatak 2 hal yang tak bisa ku maafkan? Bermain tangan dan bermain perempuan. Pulanglah, aku tau putriku pembangkang jika kau mencari istri penurut carilah wanita lain. Sungguh aku tidak papa." Kenan menemuin menantunya di depan rumahnya.
"Dad, tolong beri aku kesempatan sekali lagi Dad, aku menyesal aku tak akan mengulanginya lagi Dad aku bersumpah. Dad kumohon!" Darren melutut di hadapan ayah mertuanya.
"Ini sudah malam, putriku butuh istirahat jangan mengganggu. Jika kau memiliki pembelaan kembali besok jam 9 pagi." Setelah mengatakan itu Kenan kembali menuju rumahnya.
Akhirnya Darren mengalah, ia memilih pulang ke apartemen yang ia tempati bersama sang istri. Pikirannya benar-benar kacau bayangan tentang Laura yang tak ingin lagi bersamanya mulai mengganggu otaknya.
Darren melangkah menuju kamarnya, ia mengingat dengan jelas bagaimana tadi pagi mereka bercinta, hingga matanya dapat melihat noda darah di seprai yang ia gunakan tadi. Tangannya terulur mengusap noda darah itu, ini terjadi karna keserakahannya. jika Laura sampai benar-benar meninggalkannya ia tak akan mengampuni dirinya sendiri.
Darren meraung di tengah malam, ia menyesal. Niat hati ingin mendidik istrinya Darren malah benar-benar terancam menjadi duda.
__ADS_1