Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh

Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh
Aku Ingin Suami Tampan


__ADS_3

"Om Eldy!" Lirih Laura, ya pria yang mengatakan ayah dari bayi yang di kandung Liora adalah Om Eldy, teman sekolah mommy dan Daddynya.


Om Eldy juga ayah dari Daniel, mungkin saja maksud Om Eldy ayah dari bayi Liora adalah Daniel kan? Bukan om Eldy sendiri. Ya pasti seperti itu maksudnya.


Liora hanya bungkam, gadis itu menunduk takut akan pandangan Mommy dan daddynya yang seakan menguliti dirinya.


Eldy adalah ayah dari Daniel mantan kekasih dari Laura yang sudah setahun menjalin hubungan dan Laura memutuskan hubungan itu secara sepihak. Bukan, bukan karna Laura tak mencintai anak dari teman Daddynya itu, hanya saja Laura terpaksa memutuskan hubungannya dengan Daniel karna desakan keluarga Darren yang secepatnya minta di nikahi Laura.


"Aku kemari untuk bertanggung jawab Kenan." ucap Eldy terdengar serius. Kenan dan Fana tentu saja berpikiran sama dengan Laura berpikir ayah dari bayi Liora adalah Daniel.


"Jika kau ingin bertanggung jawab kemana anak sialan itu!" Kenan menarik kerah kemeja Eldy sampai inpus di tangannya berdarah dan terlepas.


"Daddy." Laura menghampiri Daddynya.


"Anak siapa?"


"Anakmu yang bodoh itu, setelah di putuskan putri sulungku, dia menghamili putri keduaku brengsek! Bagaimana kau mendidik putra sematawayangmu yang bejad itu?" Kenan semakin murka karna Eldy terlihat sangat amat bodoh saat bertanya di hadapannya.


"Bukan Daniel yang menghamili Liora. Tapi aku pemilik benih janin yang ada di rahim putrimu." ucap Eldy ringan.


Kenan melemahkan cengkramannya ia masih mencerna maksud dari ucapan sahabatnya begitu juga dengan yang lainnya.


"Apa benar Liora? Dia ayah bayimu? Kau tidur dengan Eldy?" Fana bertanya dengan kekhawatiran yang membuncah takut-takut jika Liora mengatakan ya. Dan beruntung Liora tidak mengatakan ya sehingga Fana bisa bernafas dengan lega untuk sejenak, sebelum kemudian Liora mengangguk membenarkan ucapanya.


"Liora." Fana menjerit tak percaya, kemudian wanita itu tak sadarkan diri. Tentu saja ia sangat syok putrinya di hamili oleh mantan teman sekolahnya, bahkan Eldy pernah berencana melamarnya dulu.


Fana langsung di gendong Kenan dan membaringkannya di atas brankar bekas ia berbaring.


Eldy lebih cocok di katakan sebagai ayah dari Liora.


"Kau gila Eldy. Kau gila. Liora putriku, putri dari sahabatmu sendiri kau benar-benar brengsek merusak putri sahabatnya sendiri."


Bugg...


Buggg...


Kenan menghantamkan tinjunya beberapa bagian tubuh Eldy, mulai dari perut hingga ke wajahnya.

__ADS_1


Tak sekalipun Eldy melawan atau menghindar, ia menyadari dirinya salah. Tapi apa yang harus ia lakukan semua sudah terlajur dan tak ada yan bisa di rubah srlain ia harus bertanggung jawab dengan apa yang ia lakukan pada putri sahabatnya, ya Liora tengah mengandung anaknya darah dagingnya, ia tak mungkin lari dari tanggung jawab.


Setelah puas memukuli sahabatnya Kenan merosot dengan tatapan menyorat tajam di antara tubuhnya yang semakin lemah, yang terus ia paksakan. Baik Liora, Laura dan Darren tak ada yang bisa melerainya. Begitu juga sang istri Fana, biarkan saja Kenan berbuat sedemikian rupa. Ini adalah bentuk kekecewaannya pada Eldy.


"Kenapa kau tega melakukan ini pada keluargaku Eldy?" ucap Kenan parau, suaranya tercekat antara kerongkongan dan tenggorokannya, volume liurnya juga ikut menggumpal di sana.


"Daddy, ini bukan sepenuhnya kesalahan Om Eldy, aku juga bersalah." Liora memberanikan diri membela ayah dari mantan kekasih kakak kembarnya, ah apa sebutannya yang tepat rumit sekali hubungan mereka.


"Aku tidak bertanya padamu Liora." di saat ia tak menyebut diri Daddy berarti Kenan sangat marah, ia bahkan memejamkan matanya beberapa kali menahan amarah yang siap meledak kapan saja.


"Jawab aku Eldy! Apa tujuanmu merusak putriku?"


"Aku tidak memiliki maksud lain Ken. Kami melakukannya atas dasar suka sama suka, lalu Liora hamil dan aku siap bertanggung jawab. Lalu apa lagi yang salah? aku seorang duda anak satu, tidak ada larangan tertulis bagiku untuk menikahi putri dari temanku." ucap Eldy tenang, ia tak terpancing emosi meskipun Kenan memukulinya tadi, karna ia merasa memang dirinya bersalah.


"Diluar dana banyak gadis muda, kau bisa memilih satu di antara mereka. Dengan kekayaan yang kau miliki mereka akan dengan senang hati menerimamu, tapi kau malah menanam saham di rahim putriku. Kau adalah pria paling buruk yang pernah ku kenal Eldy." Tampak jelas kekecewaan itu terukir di wajah Kenan.


"Ya, Ken Aku mengakuinya."


Mereka kembali berdebat. Darren sendiri menarik tangan Laura agar menunduk ke arahnya ia ingin membisikan sesuatu.


Laura mengerti isyarat yang di berikan oleh suaminya ia menunduk.


"Aku sangat heran kenapa seorang pria tua bisa sangat tertarik dengan gadis muda?" Laura bertanya pada dirinya sendiri.


"Jangan heran Ra, namanya pria pasti berteman dengan yang namanya keberengsekan. Mau tua atau muda, jika ada kesempatan yang menggiurka jika tidak memiliki komitmen kuat mereka akan cepat tertarik dari satu gadis ke gadis lainnya. Bagi kebanyakan dari kami yang seorang pria jika tidak terikat pernikahan maka kami akan sangat mudah melalui cinta satu malam. Setidaknya itu yang ku dengar dari Papaku. Papaku tidak mencintai ibu kandungku tapi buktinya aku hadir sampai sekarang. Itu adalah bukti keberengsekan pria."


"Lalu apa bukti keberengsekanmu."


"Entahlah belum terlihat, nanti jika aku sembuh aku akan mencobanya padamu." Kelakar Darren.


"Aku ingin ke toilet." Darren sudah melajukan kursi rodanya.


"Biar ku antar."


Wah sepertinya otak Laura sedang konslet, tiba-tiba ia berubah manis, jika ia manis seperti ini bisa-bisa Darren terjebak oleh rencananya sendiri, berniat membuat Laura menderita, cih siapa yang akan menderita sesungguhnya.


"Menurutmu seperti apa orang baik?" tanya Liora, di tengah kesibukannya mendorong kursi roda.

__ADS_1


"Orang yang selalu berhati-hati dengan ucapannya takut kalimatnya melukai orang lain."Jawab Darren. Ia seakan menyindir Laura secara langsung.


"Lalu menurutmu bagai mana?"


"Orang baik versiku, selama orang itu tidak merugikan orang lain itu adalah orang baik." ujar Laura singkat.


"Berarti kau sama sekali bukan orang baik, baik menurut versiku atau menurut versimu sendiri." Skak mat, Darren benar.


"Ya Kau, benar."


Liora mengantarkan Darren sampai ke pintu toilet, ia menunggu di depan toilet pria.


Banyak orang yang memuji Laura diam-diam. Sudah cantik baik pula begitulah gambaran yang tidak mengetahui prangai Laura.


Setelah selesai Darren dan Laura kembali ke ruang tunggu, makanan pesanan Darren belum juga sampai di sana. Sepertinya sebentar lagi.


Darren membenarkan kakinya, terlalu lama duduk di kursi roda terasa sangat tak nyaman sakit dan pegal, apalagi kursi roda yang di tempatinya mulai terasa panas.


"Kau pegal?"


"Hem."


"Mari pindah." Darren pindah ke kursi tunggu di bantu Laura.


"Jika aku sembuh, apa yang akan kau lakukan pertama kali?" tiba-tiba saja Darren bertanya tentang itu.


"Bercerai darimu."


"Bercerai dariku?"


"Ya."


"Kau ingin kembali pada Daniel ya?"


"Tidak, aku akan menikahi pria kaya raya yang tampan, supaya hidupku terjamin sampai akhir hayat."


"Aku juga kaya."

__ADS_1


"Tapi kau culun, dan dekil. Aku ingin suami tampan."


__ADS_2