
Laura tengah dalam perjalanan menuju alamat yang tertera di belakang foto ibu kandung Darren.
Mobil terus melaju membelah jalanan ibu kota yang cukup terik, beruntung siang ini jalanan tidak macet sehingga Laura tidak perlu terlalu kesal. Laura pergi di antar oleh supir keluarganya, menuju kediaman Mama Darren.
Sepanjang perjalanan Laura tidak menjauhkan minyak angin dari hidungnya. Ia akan merasa mual jika tidak menghirup aroma itu.
Alamat rumah ibu Darren terbilang cukup elit dan ada pihak ke amanan saat mereka hendak memasuki perumahan. Mereka wajib melapor identitas dan keperluan pada dua securiti yang bertugas.
Laura merasa kagum saat yang pertama ia lihat di kala mobil yang di kendarai supirnya berhenti di depan rumah dengan taman yang lumayan besar yang di tumbuhi oleh berbagai jenis bunga yang tengah bermekaran.
Mata Laura tersita oleh aroma wangi yang menyerupai seperti wangi melati dengan bunga putih yang ukurannya jauh lebih besar, bunganya juga terlihat seperi mawar putih namun pohonnya berbeda, tidak ada duri sama sekali di pohonnya.
Semakin Laura mendekat wanginya semakin menenangkan indra penciumannya, Laura baru kali ini melihat bunga itu. Mata Laura bahkan terpejam menikmati wangi itu.
"Nona cari siapa? Dan ada keperluan apa?" Seorang pekerja menghampiri Laura.
"Saya mencari ibu Sarah, apa benar ini rumahnya?" Beruntung pekerja itu sangat ramah dan menyambut baik ke hadiran dirinya.
Laura memperhatikan sekitaran rumah, memang tidak sebesar rumah Daddy maupun Papa mertuanya, tapi suasananya terbilang sejuk jika di amati.
"Ya, Non ini memang benar rumah Ibu Sarah, jika sala boleh tau nona ada kepentingan apa.?"
"Namaku Laura ada hal penting yang ingin ku bicarakan dengannya." Belum sempat Laura berkata lebih jauh, seorang wanita sepantaran Mommynya mendekan.
"Cari siapa Dek?" Wanita yang Laura yakini adalah Mama mertuanya mendekat ke arahnya.
"Saya mencari ibu Sarah."
"Ya saya sendiri? Masuk dulu!" Sarah mempersilahkan Laura memasuki rumahnya, juga mempersilahkan Laura untuk duduk.
Rumah mertuanya sangat bersih dan nyaman, sayangnya bayi Darren kembali berulah, Laura tiba-tiba merasa mual saat mencium wangi bunga mawar merah yang berada di hadapannya. Setumpuk bunga di dalam sebuah vas kaca dengan air bening di dalamnya.
"Ada perlu apa Dek?"
Belum sempat Laura menjawab, Laura segera menutup mulutnya dan meraih minyak kayu putih yang sedari tadi ia genggam. Laura menghirup dalam-dalam aroma minyak itu, berharap bau minyak itu dapat menjadi penawar untuk perutnya yang mual.
__ADS_1
"Maaf Bu, saya sedang hamil muda." Laura masih menutup mulutnya dengan mengabaikan pertanyaan ibu kandung dari suaminya.
Mama Sarah mulai merasa tak beres saat toba-tiba ada seorang gadis muda mencarinya, dan apa sekarang? Gadis itu dalam ke adaan hamil.
"Usia kehamilanku memasuki minggu ke enam Bu." Laura melanjutkan pembicaraannya. Sedangkan perasaan Sarah tak karuan, wanita muda tengah hamil dan mencarinya, sedangkan dirinya tidak mengenal gadis itu karna baru beberapa bulan kembali tinggal di sana.
Tak ingin terlalu banyak berbasa-basi akhirnya Sarah segera mengambil tindakan. "Siapa Ayah dari bayimu?"
"Putramu ..." Belum selesai Laura berbicara Laura segera berdiri, ia sudah tak kuat lagi ia sangat mual dan ingin muntah. Hamil benar-benar definisi mabuk tanpa minum alkohol.
Sepertinya minyak angin tak memberikan efek apapun. Laura tetap ingin muntah. "Bu dimana toiletnya?" tanya Laura di antara bekapan tangannya.
Sarah beranjak dan terburu-buru mengantar Laura ke toilet. Sampai di toilet Laura memuntahkan cairan, meski ia sudah makam tapi yang keluar hanya cairan saja. Sarah tak tega saat melihat Laura, bagai manapun ia pernah berada di posisi seperti wanita muda di hadapannya. Dengan lembut sarah mengusap tengkuk Laura.
"Huek ..."
"Huek ..."
Laura selesai muntah dan mencuci mulutnya.
Sarah mengambilkan segelas air hangat untuk Laura.
"Terimakasih."
Sarah hanya tersenyum. "Kau benar-benar hamil oleh putraku?"
"Ya, Bu aku berani bersumpah aku hamil oleh putramu." Laura masih menyender di atas wastafel.
"Ikut aku! Kau dan putramu akan mendapatkan hakmu." Sarah membawa Laura menaiki tangga, ibu Darren itu memelankan langkahnya dan membantu Laura menaiki tangga.
Sarah membuka sebuah kamar yang mana Laura yakini penghuninya adalah seorang pria. Dari desaign dan dari aroma maskulinnya Laura menebak tepat.
"Arga bangun!"
"Arga ..."
__ADS_1
"Anak ini, benar-benar."
Bugh ...
Bugh ...
Ibu Sarah menggebugi Arga, putra angkatnya yang masih tertidur di atas ranjang, tanpa ampun dan membabi buta.
Laura hanya diam, ia membiarkan ibu Sarah melakukan hal itu pada pria yang sekarang tengah mengaduh kesakitan.
"Aduh."
"Aduh, Ma sadar. Eling Ma. Ada apa?" Pria yang di sebut Arga itu pelindungi kepala dan wajahnya yang di gebuki ibunya.
"Anak kurang ajar. Kau yang harusnya sadar Arga!"
"Ada apa Ma?"
"Anak, nakal tidak tau diri."
"Astagha Mama nyebut ada apa? Mama kerasukan jin mana?" Arga menahan kedua tangan Mamanya.
"Kau menghamili anak orang Arga, dan gadis itu sekarang di sini meminta pertanggung jawaban." Mama Sarah masih Marah dan menggebu-gebu.
Laura baru menyadari apa yang terjadi, ternyata Mama Darren salah paham dan mengira jika yang menghamilinya adalah anaknya yang lain. Bagai mana ini?
"Jika kau tak tahan ingin membuat bayi harusnya kau katakan padaku dan Papamu. Kami akan menikahkanmu."
"Ya Tuhan Mama, Arga tak menghamili gadis manapun sunghuh."
"Jangan berbohong Arga, aku lebih percaya perkataan wanita muda itu."
"Ibu Sarah." Laura yang tak enak memanggil Sarah. Sarah dan Arga menengok bersamaan.
"Saya rasa Ibu salah menyimpulkan."
__ADS_1
"Maksudku ibu salah paham." ralat Laura kembali.
Salah paham? Setelah Arga sudah babak belur, Laura baru mengatakan salah paham kenap0a tidak sedari tadi? Laura memandang takut-takut ke arah ibu Darren, Laura sungguh tak tau jika ibu Sarah memiliki putra yang lain.