
Hari ini Darren sangat bahagia, bisa di terima di antara ibu dan saudara angkatnya membuat Darren tak henti-hentinya melebarkan senyum.
"Darren. Menginap lah di rumah Mama, Mama ingin mengenalkanmu pada papa angkatmu. Dia baik, Papa sambungmu juga pernah memperjuangkan hak Mama meskipun tidak berhasil." Sarah benar-benar ingin putranya menginap di rumahnya, rasanya Sarah tak rela jika mereka harus kembali berjauhan.
"Ma sebenarnya Darren ingin menginap di rumah Mama, tapi malam ini Darren sudah janji akan menginap di rumah Papa." Darren menggenggam tangan sang ibu, juga mengusap tangannya secara perlahan.
"Mungkin besok, kami akan menginap di rumah Mama." Darren menghibur ibunya yang terlihat sedih.
"Memangnya kalian tak tinggal di rumah papamu?"
"Tidak Ma, kami tinggal di rumah mertua Darren untuk sementara waktu. Tapi malam ini Darren akan membawa Laura untuk menginap di rumah Papa." jelas Darren.
"Apa? Aku harus ikut menginap di rumah Papa?" Laura memberenggut tak suka, ia yang sedari tadi bersemangat menyantap makanannya menjadi lesu, bahkan ia melemaskan bahunya dan bersandar di atas kursi dengan lemas.
"Ya, Sayang kau harus ikut. Masa aku menginap sendiri." Darren mengambil alih makanan istrinya dan menyuapi Laura.
"Tapi aku tak mau Darren, kau sendiri saja yang menginap di rumah Papa." Laura memalingkan wajah, ia tak mau menerima suapan dari Darren.
Mama Sarah menyadari jika menantunya tak menyukai jika harus menginap di rumah mertuanya. Tapi untuk bertanyapun Mama Sarah belum sedekat itu dengan Laura. Ia takut di katai sebagai mertua kepo.
"Sayang. Kita sudah lama tidak menginap di rumah Papa, sudah lebih dari sebulan mereka pasti merindukan kita." Darren berusaha membujuk dengan suara lembut. Arga bahkan di buat salut oleh Darren seorang pria kekar sepertinya bisa selembut itu saat berbicara dengan seorang wanita.
"Kau saja yang mereka rindukan. Aku tetap tidak mau." Laura melipat tangan di atas perutnya.
"Ayolah sayang. Kau tau aku tak akan pergi tanpa dirimu." Darren menatap istrinya penuh harap.
"Baiklah, tapi aku ingin beli banyak makanan untuk di bawa ke rumah papa." Laura selalu mengalah atas apa yang di inginkan Darren.
__ADS_1
Darren tersenyum dengan tubuh yang semakin mendekat. Ia tak tahan jika tak memeluk istrinya. "Terimakasih."
Sarah dan Darren harus kembali berpisah setelah makan siang, Darren bahkan memilih mengantarkan Mama Sarah kerumahnya sebelum menuju rumah Papanya untuk menginap.
Setelah mengantarkan Mamanya Darren melirik ke arah Laura yang sudah terlelap, Darren hendak membangunkan Laura untuk menanyai makanan apa yang ia inginkan, tapi saat melihat Laura terlelap dengan sangat nyenyak Darren tak tega, sehingga ia memilih menunggu Laura bangun saja dan akan membelikan makanannya nanti dengan aplikasi yang terdapat di ponselnya.
Nyenyak sekali Laura tertidur bahkan sampai ia sudah sampai di rumah Papanya Darren, Laura masih tertidur pulas. Sehingga Darren menggendong tubuh yang ia rasa semakin berisi itu.
Rega dan Nadhira menyambut kedatangan Darren, di depan pintu. Meski Dhira tidak menyukai Laura tapi ia tak menunjukannya, Nadhira malah sudah menyiapkan kamar di bawah agar Darren dan Laura tidak kelelahan jika harus naik ke lantai 3 meskipun menggunakan lift tetap saja, itu memakan waktu yang lumayan.
"Dia kenapa?" Nadhira bertanya, apa Laura pura-pura pingsan atau pura-pura tertidur hanya agar tidak bertemu dengannya.
"Istriku tertidur Ma." terdengar suara nafas teratur dari hidung Laura, yang menunjujan jika Darren betkata benar.
"Kalian istirahat dulu nanti bertemu saat makan malam." Papa Rega bahkan membuka dan menutupkan pintu intuk putra dan mensntunya.
Darren meletakan Laura di atas ranjang dengan sangat hati-hati, sebelum turut merebahkan diri Darren membersihkan tubuhnya lebih dulu. Baru saja Darren hendak beristirahat Rega sudah mengiriminya pesan untuk bertemu sebentar. Entah apa yang ingin Rega bisarakan dengan putranya, Papa Rega bahkan meminta Darren ke ruang kerjanya, Darren menduga Rega akan berbicara hal penting.
Hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk Laura membersihkan diri. Laura keluar dari kamar mandi hanya dengan sehelai handuk yang menutupi dada hingga ke perpotongan pahanya. Membuat Darren yang sudah kembali menelan salivanya berkali-kali.
Darren benar-benar menginginkan istrinya kali ini, dan tak tahan untuk membendungnya lebih lama. Darren mendekat dan langsung memeluk istrinya dengan senjata yang sudah siap tempur.
"Kau merasakannya? Dia menginginkan pemiliknya." Darren berkata dengan suara berat juga dengan miliknya yang ia gosokan dengan sengaja di bagian tubuh Laura.
Laura sangat mengenali duara dan tingkah Darren yang tengah menginginkan dirinya.
Darren bahkan sudah melempar handuk Laura den mere mas dua kelembutannya. Mulutnya vajkan sudah mencumbu Laura dengan sangat panas, leher Laura menjadi sasaran hasrat pria itu. Darren menciptakan jekak kepemilikan di leher istrinya dan menggigit cuping telinga Laura.
__ADS_1
"Jangan menolakku lagi!" suara Darren terdengar sangat dalam.
"Tapi Darren, aku takut kau akan mengenai bayi kita."
"Tidak akan. Aku akan melakukannya dengan hati-hati, ini akan aman aku janji." Darren menggiring tubuh Laura ke atas ranjang, dupaya ia lebih leluasa menikmati tubuh ranum itu.
Dengan sangat hati-hati Darren merebahkan tubuh Laura, ia merangkak di atas tubuh indah isyrinya kemudian berhenti di perut istrinya. "Papa akan datang menengokmu, papa janji tak akan menyakitimu." Darren mencium perut itu dengan lembut.
Darren menyentuh tempat-tempat yang ia kehendaki, jejak-jejak percintaan Darren ciptakan, sampai ke tungkai kaki Laura tak luput dari tanda cintanya. Setelah puas Darren berniat menyatukan diri. Laura baru sadar sekarang Darren dalam ke adaan polos dengan benda keras yang mengacung di hadapannya. Membuat Laura gelagapan, ia masih mengingat bagaimsna kuatnya benda itu meluluh lantahkan kewarasamnya beberapa waktu lalu.
Tangan Darren terulur meraba tempat yang akan menjadi pusat kenikmatannya. "Wah, kau sudah basah. Bersiaplah, aku akan masuk." Darren memposisikan miliknya tepat di hadapan lu bang sang istri.
"Darren aku takut." cicit Laura.
"Pegang tanganku." Darren membawa tangan Laura untuk berpegangan di tangannya yang kekar juga di penuhi dengan urat-urat.
Darren membuka lebar pangkal paha istrinya, memasukan miliknya secara perlahan-lahan ke tempat seharusnya, dan bless.
"Ahh,, Darren sakit. Aku takut kena bayinya." Laura menggeliat, ia tak nyaman dengan adanya milik Darren dalam tubuhnya.
"Shuut. Tidak akan aku pelan-pelan kok." Darren menenangkan istrinya dengan mengecupi wajah sang istri. Ini untuk ke lima kalinya ia mendatangi sang istri tapi Rasanya masih srmpit seperti pertama kali Darren merasakannya.
Setelah mulai tenang, Darren menggerakan tubuhnya dengan perlahan. Darren juga bertanya berkali-kali dengan kenyamanan sang istri. Setelah dirasa istrinya juga menikmati permainan mereka, Darren mempercepat gerakannya.
Tanpa merubah gaya Darren begitu menikmati kegiatannya. Hingga saat puncak itu hampit tiba, membuat Darren memekik dengan sangat keras, menyerukan nama istrinya berulang-ulang.
"Laura, Laura, Lauraaaa ..."
__ADS_1
Darren mencabut miliknya dan melelehkan cairannya di atas perut rata istrinya. Ia tak ingin acara menengok sang bayi melukai calon bayi mereka. Karna Darren sudah mencari tahu apa saja yang yang harus di hindari saat berhubungan, termasuk membuang benihnya saat melakukan hal itu.
"Terima kasih." Darren mencium kening Laura, dan menjatuhkan tubuhnya di samping sang istri. Nafas keduanya memburu, acara menengok dedek bayi kali ini sukses.