Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh

Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh
Sudut pandang Laura


__ADS_3

Laura mamanut dirinya di hadapan cermin meja riasnya. Gadis itu sesekali menyentuh pelan memar yang terdapat di sekitar rahang serta lehernya.


Ini menyakitkat, tapi hatinya lebih tersayat, telinganya masih mendengar kata ja-lang yang Darren sematkan untuk dirinya. Heh ja-lang perawan miris sekali. Laura tersenyum masam.


Laura menatap pantulan dirinya di cermin, baru beberapa waktu ia di peristri Darren, beberapa luka pula di hadiahkan pria itu, belum sembuh luka di dahinya kini sudah ada memar baru di tubuhnya yang lain.


Laura terisak, ia bertanya pada dirinya sendiri kapan ini akan berakhir? Neraka yang Darren kalungkan padanya kini semakon erat mencekiknya sehingga ia kesulitan membebaskan diri.


Gadis itu mengambil pakaiannya jiga pakaian Darren kemudian ia letakan di atas ranjang.


Laura tak berucap sepatah katapun saar Darren keluar dari kamar mandinya beserta kursi rodanya, meski Darren sudah tumpah tak sedikitpun wajah tampannya menunjukan kepuasan yang ada hanya wajah yang di penuhi rasa sesal karna tindakan tak sopannya.


Darren menatap Laura yang baru menyekesaikan mengenakan pakaiannya, gadis itu mulai menyisir rambutnya.


Laura juga mendekat kearah Darren membatu pria lumpuh itu mengenakan pakaiannya.


Gadis itu membaluri area dada dan perut Darren dengan minyak kayu putih, lotion khas Darren dengan wangi maskulin, Laura pakaikan di tangan dan kaki suaminya. Darren akui Laura mengurusnya dengan baik, tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya. Tanpa canggung lagi Laura membuka handuk Darren sehingga seluruh tubuh Darren terpampang di hadapannya, satu persatu pakaian Laura kenakan pada tubuh Darren termasuk ********** juga.

__ADS_1


Laura juga membubuhkan minyak rambut di surai hitam milik Darren dan menyisirnya sesuai yang Darren tampilkan selama ini, kacamata tebal Darren juga Laura pasangkan di hidung bangir itu.


Ya harusnya Laura jangan terlibat terlalu jauh dengan Darren, pernikahan ini hanya sebagai bentuk penebusan dosanya pada pria itu, setelah ia selesai menjalani hukumannya Laura akan kembali pada dunianya.


Darren mencekal tangan Laura, ia menurunkan egonya sedikit, ia merasa bersalah dan harus meminta maaf pada gadis itu.


"Maaf." Darren beucap pelan, manik sekelam malamnya tak ia alihkan dari diri Laura, yang tengah memasangkannya Dasi.


"Apa sakit?" Darren meraba pelan leher dan rahang Laura.


"Tidak." pungkas Laura cepat. Tak percaya dengan kalimat Laura, Darren sedikit menekan memar itu terdengar desisan dari mulit mungil gadis itu. "Shhh."


Laura bungkam tak menanggapi pertanyaan Darren, sebenarnya bukan sakit hanya ngilu dan terasa pegal terutama di bagian rahang yang di paksa terbuka selama beberapa menit.


Tok ... Tok ...


Suara ketukan pintu membuyarkan kebungkaman, Laura beranjak membuka pintu.

__ADS_1


"Nona ini pastanya." seorang pelayan menyerahkan sepiring pasta lengkap dengan segelas air putih. "Tuan Kenan berpesan, satu jam lagi acara di mulai." Laura mengangguk dengan enggan, pun ia menutup pintu setelah mengambil alih nampan dari pelayannya.


Rasanya Darren lebih baik mendengar Laura memakinya dari pada mendiamkannya seperti ini.


"Tuan, buka mulutmu!" pelan tapi menusuk kalimat yang Laura katakan menyentak kewarasan Darren.


Tuan? Kata itu terdengar seperti sangat formal untuknya, seakan Darren adalah sang majikan gadis itu.


Tak mendapt respon dari Darren, Laura meletakan garpu yang berisi mie dengan surai lurus itu dengan warna kekuningan.


"Laura jangan seperti ini!" erang Darren frustasi.


Laura menghirup nafas perlahan dan mengkembuskannya sampai terdengah helaan nafas jengah.


"Lalu? Kau ingin bagai mana hubungan kita berlangsung? Antara pelayan dan majikan? Atau antara ja-lang dan pelanggannya." tanya Laura menohok, sampai Darren tersentak mendengarnya apa Darren benar-benar kelewatan?


"Laura aku tidak bermaksud-"

__ADS_1


"Ya, tidak papa aku faham dari arah sudut pandangmu." tanpa emosi tanpa amarah tapi kata-kata itu begitu menusuk dan membekukan membuat Darren membisu dengan segala keterkejutannya.


Ya setiap orang memiliki sudut pandang masing-masing menyikapi apa yang terjadi di sekitarnya. Tapi melihat dari sudut pandang Laura, Darren tetap akan melakukan penyiksaan padanya persis dengan apa yang Darren katakan sebelum pernikahan di lakukan.


__ADS_2