Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh

Dipaksa Menikahi Si Culun Lumpuh
Sandiwara


__ADS_3

Darren sudah menunggu di parkiran kampus sekitar setengah jam yang lalu, tapi Laura belum juga muncul entah kemana istri cantiknya mampir.


Darren turun dari mobilnya. Berjalan menuju ruang mahasiswa, Darren celingukan mencari keberadaan istrinya, meskipun dirinya pernah menjalani pendidikan di kampus itu tapi sekarang Darren tidak tau di mana kelas Laura.


Tatapan mata penuh ke kaguman di tunjukan banyak pasang mata ke arah Darren.


Darren tau tatapan-tatapan mata yang memujanya sedari tadi.


Darren akui berada di posisi ini memang menyenangkan. Pantas saja Laura selalu bangga akan pesona kecantikannya, Darren juga merasa senang saat menjadi pusat perhatian. Ketampanan Darren kini tidak bisa di ragukan lagi, wanita mana yang akan menolaknya dengan ke adaan Darren sekarang.


Semua wanita yang menatap ke arah Darren tidak ada yang menyadari jika pria muda nan tampan yang berjalan di hadapan mereka adalah Darren sang pria culun yang selalu menjadi pusat hinaan dan makian dua tahun silam.


Darren benar-benar merubah penampilannya menjadi pria rupawan dan berkharisma, rupanya Darren memang berniat membuat Laura tergila-gila oleh pesonanya, Darren bahkan membentuk tubuhnya dengan sangat sempurna di sela kesibukannya, semua itu Darren lakukan demi memikat istri cantiknya. Bukankah Darren sudah pernah mengatakan akan memantaskan diri untuk berada di sisi Laura.


Inilah yang membuat Darren tak bisa melepaskan Laura, ia sudah berkorban banyak hal untuk wanita itu. Padahal Laura tidak menjanjikan atau meminta apapun dari Darren, Darren melakukan itu tanpa permintaan dari siapapun. Biarlah semua orang menganggap Darren Egois, nyatanya memang seperti itu


"Darren kau mau kemana?" Laura tiba-tiba sudah berada di samping Darren ia, segera memeluk bisep suaminya dengan erat dan membawa Darren menjauh dari perkumpulan gadis-gadis yang menatap Darren penuh kekaguman, dengan cara menyeret lengan suaminya keluar ke arah kampus.


Laura menatap mata-mata itu penuh peringatan. Seakan menegaskan jika pria tampan yang ia peluk lengannya adalah milknya.


Darren melipat bibirnya, ia mengulum senyumnya dengan sangat kentara, Darren tau tanpa Laura sadari wanita itu sudah menyukainya. Bolehkah Darren berbangga hati? Dengan mengatakan Laura tengan mencemburuinya.


"Apa yang kau lakukan di wilayah kampus? Ingin menggoda para gadis? Ingin menunjukan pada mereka jika kau sudah tampan!" Laura bersungut-sungut.


"Apa menurutmu aku tampan?"


"Tidak kau sangat jelek. Aku harap bayiku mirip denganku." Laura berujar, bukannya tersinggung Darren justru malah tertawa ringan.


"Aku ayahnya, pasti bayi kita akan mirip denganku. Tapi meski bayi kita mirip denganmu aku sungguh tidak keberatan kau benar-benar sangat mempesona." Darren menjawil dagu runcing istrinya dengan gemas.


Laura bahkan menghempas tangan Darren saat sudah berada di dekat mobilnya. Dengan kesal Laura melipat tangannya di atas perut juga membuang pandangan dari arah Darren, seakan Laura jijik saat menatap manik teduh Darren.


Darren menikmati ekspresi Laura, menurutnya wanita itu nampak menggemaskan saat tengah kesal padanya.


"Kau cemburukan? Mengaku saja!" Darren malah semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


"Tidak. Untuk apa aku cemburu terhadapmu."


"Hidungmu memanjang itu artinya kau berbohong." Darren menunjuk hidung mungil Laura, Repleks Laura menyentuh hidungnya membuat Darren semakin meledakkan tawanya.


"Ha haha haha"


"Darren!"


Tuh kan, Darren sangat manis saat tertawa apalagi dengan smike box yang ia miliki.


"Ayo pergi!" Laura segera memasuki mobil suaminya, ia tak ingin semakin lama berada di sana dan suaminya menjadi pusat perhatian.


Darren menyetir mobilnya dengan hati-hati menuju rumah ibunya, ia tak ingin membuat Laura mabuk atau tak nyaman saat tengah bersamanya.


"Kau belum menjawab pertanyaanku!" Laura berujar ketus, karna sedari tadi Laura bertanya, tidak ada satupun pertanyaannya yang di jawab Darren.


"Pertanyaan yang mana yang ingin kau dengar jawaban dariku." Darren melirik sekilas ke arah Laura.


"Semuanya. Kau pikir bertanya tidak memerlukan tenaga." Laura masih bersikap ketus.


"Baiklah. Pertanyaan pertama mengapa aku memasuki wilayah kampus? Jawabannya aku mencari istriku, karna kau terlalu lama berada di sana, aku lelah menunggumu lebih dari setengah jam." Darren menjelaskan tanpa membuat mobilnya berhenti berjalan.


"Maaf, aku tadi menemui dosenku terlebih dahulu untuk menyerahkan sekripsi akhirku." Laura berujar pelan, juga dengan nada menyesal.


Semenjak hamil mood Laura memang kerap kali berubah-ubah seperti saat ini.


"Dan untuk pertanyaan kedua, aku sama sekali tidak menggoda gadis manapun. Jangankan untuk tebar pesona dengan gadis lain, aku bahkan tidak bisa menaklukan wanitaku sendiri." Laura menoleh kala Darren mengatakan tak bisa menaklukan dirinya. Darren pembual yang ulung, jika tidak bisa menaklukan mana bisa Laura sekarang mengandung benihnya. Percayalah itu hanya bahasa kiasan karna Laura tidak pernah mengakui perasaan terhadapnya.


Tapi lagi-lagi hati Laura menghangat saat Darren menyebut dirinya sebagai wanitanya.


"Lalu kau namai apa jika menyangkal aku tidak bisa kau taklukan. Buktinya benihmu tengah berkembang di rahimku." Laura mengelus perusnya pelan dengan penuh perasaan.


"Itu karna kecerdasanku sayang. Aku yakin jika aku tidak mencuri hakku malam itu mungkin kau masih perawan sampai saat saat ini." Darren membawa jemari tangan Laura untuk kemudian ia kecup, dengan gaya nakal.


"Dasar nakal!" Meski sangat nakal Laura sangat menyukai perlakuan Darren padanya.

__ADS_1


"Serumit apapun hidupku bersamamu, percayalah aku tak ingin mengakhirinya walau sementara." Darren meletakan tangan Laura di pangkuannya dengan masih ia genggam erat.


"Kau gila Darren. Kau sudah sudah tidak bisa di selamatkan." Laura terbahak, sedangkan Darren hanya mengangguk untuk mengiyakan.


.


"Dhira kau harus makan." Regantara sudah kehabisan cara untuk membujuk istrinya yang tidak mau makan.


Nadhira menyalahkan apa yang terjadi pada keluargannya merupakan kesalahan Regantara. Seandainya saja Rega tidak memaksa Laura untuk bertanggung jawab dan menikahi Darren semuanya tidak akan seperti ini. Darren akan tetap menjadi putranya tapi Regantara mengacaukan semuanya.


"Kembalikan Darren padaku. Kau berlaku kasar padanya bukan malah malah menahan Darren untuk tetap bersama kita, kau malah membuangnya." Dhira menatap tajam suaminya, sedangkan Regantara hanya menghembuskan nafas lelah.


Papa Rega bingung harus sedih atau bahagia di satu sisi ia tak tega melihat putranya yang terluka karna tindakannya yang terkesan kejam. Tapi Regantara berbuat demikian hanya untuk menyadarkan istrinya yang terlalu jauh bertindak dengan memfitnah Laura. Di sisi yang lain pula Rega merasa bahagia, putranya ternyata benar-benar menvintai Laura. Rega hanya ingin Dhira menyadari jika tempat seorang ibu dan seorang istri memiliki tempat yang berbeda di hati seorang pria, meskipun dengan kasih sayang dan cinta yang sama besarnya.


Nadhira terlalu merasa paling berhak atas diri putranya. Regantara tau Dhira melakukan semua itu karna bentuk cinta seorang ibu terhadap putranya, tapi tindakan Dhira yang memfitnah Laura jelas membuat Rega kecewa. Tapi meski begitu rasa cintanya tidak berkurang sedikitpun Nadhira tetap menjadi pemenang di hatinya. Bahkan Rega sendiri yang menyuruh pekerjanya agar menyembunyikan rekaman cctv, itu semua Rega lakukan agar istrinya tidak di benci oleh Darren serta menantunya.


"Aku akan membawa Darren kembali, asalkan kau mau berubah dan berdamai dengan Laura. Meminta maaflah kau bersalah Dhira!" ujar Rega tegas, sembari meletakan mangkuk buburnya ke atas nakas.


Jantung Dhira berdetak dengan sangat cepat, ia ketakutan sungguh Dhira takit suaminya mengetahui kebohongannya.


"Aku mengenalmu hampir seluruh usiamu Dhira. Aku tau kau tengah berbohong atau jujur terhadapku sekalipun aku memejamkan mata." Kalimat Rega terdengar penuh kekecewaan. Wanita yang cintai puluhan tahun tega mematahkan kepercayaannya.


"Aku hanya ingin Darren berpisah dari wanita itu." Dhira menunduk dalam.


"Itu tidak akan terjadi Dhira. Putramu seorang yang normal, dia menginginkan pasangan di dalam hidupnya, untuk mencurahkan setiap rasa, termasuk cinta dan gairahnya. Darren perlu menumpahkan perasaannya ke tempat yang seharusnya. Sadarlah Dhira." Rega memberi pandangan terhadap istrinya.


"Aku bisa mencarikan istri yang tepat untuknya." Dhira tidak ingin mengalah.


"Kau tak akan bisa Dhira. Nyatanya Darren lebih memilih kehilangan semuanya di bandingkan ia harus melepaskan istrinya."


Mama Dhira diam, ia tetap masih pada egonya yang terlanjur meninggi.


Papa Rega tidak benar-benar mengusir putranya. Papa Rega juga menyesal sudah menuduh menantunya sebelum mengetahui kebenarannya. Tapi setelah kebenarannya ia ketahui dengan jelas Rega tetap menjalankan sandiwaranya semoga saja dengan Darren menjauh darinya dan sang istri, istrinya akan menyadari dan mau mengakui kesalahannya.


Rega bersandiwara memutus hubungan dengan putranya, siapa juga seorang ayah di dunia ini membuang putra tunggal yang sangat ia sayangi demi sebuah kekeliruan. Sedangkan Darren berpikir Papanya sudah benar-benar membuangnya dan tak menginginkannya.

__ADS_1


__ADS_2