Dituduh Selingkuh

Dituduh Selingkuh
Part 10 Gara-gara pesan


__ADS_3

Alin hanya tersenyum getir menanggapi ucapan sepupunya, guna.


"Udah ah yuk kita kembali kerja"


"Yuk"


Alin dan guna kembali pada tugasnya masing-masing.


Sepulang kerja Alin menunggu Raffan dipinggir jalan yang tidak jauh jaraknya dari kantor, Ia seperti itu agar orang-orang dikantor tidak ada yang melihat kalo mereka pulang bersama.


Alin memasuki mobil milik Raffan ketika mobil itu sudah berada didepan nya.


"Udah lama nungguinnya" Ucap pria itu


"Lumayan" Ucap Alin


"Mas nanti mampir sebentar di minimarket ya, aku mau beli kebutuhan aku"


"Oke"


Sesampainya didepan minimarket Raffan memarkirkan mobilnya.


"Kamu turun sendiri aja aku tunggu dimobil"


"Iya mas"


"Nitip minuman ya"


"Oke mas" Ucap Alin membuka pintu mobil


Tingg!


Bunyi ponsel mengalihkan perhatian Raffan, Ia melirik ponsel Alin yang tertinggal dikursi mobil.


Dengan ragu Raffan mengambil ponsel milik istrinya Karena terlihat ada notifikasi chat WhatsApp masuk, Raffan dapat membuka isi chat itu karna ponsel Alin tidak menggunakan pola.


Chat itu dari nomer yang tidak memiliki nama atau Alin tidak menyimpannya.


Nomer tidak dikenal


"Hai Alin lagi apa? Kenapa chat mas gak dibales"


"Mas kangen Alin"


"Bales chat mas ya, kalo kamu lagi gak sama suamimu"


Orang itu mengirimi pesan sebanyak 3x.


Raffan tahu pemilik nomer itu ia terlihat kesal dan meremas ponsel Alin, ia merasa geram ternyata kakak iparnya itu masih mengejar Alin meskipun dia sudah menjadi istrinya.


"Berani-beraninya dia" Ucap Raffan menggertakkan gigi nya.


Dari dalam mobil Raffan bisa melihat Alin sudah keluar dari dalam minimarket, buru-buru Raffan meletakkan ponsel Alin ketempat semula, Alin memasuki mobil suaminya.


"Nih mas minumannya" Alin menyodorkan minuman pada suaminya.


Raffan menerima nya tanpa berucap apapun, ia langsung menyalakan mobil melanjutkan perjalanannya.


Ponsel Alin berdering tanda ada panggilan masuk, Alin melotot kan matanya melihat nomer yang tertera dilayar ponselnya.


Alin berdecak 'mau apa sih dia' ucapnya dalam hati.

__ADS_1


Alin melirik ke arah suaminya yang terlihat memasang wajah datarnya, Alin memutuskan menekan tombol merah.


"Kenapa gak diangkat" Ucap Raffan tanpa menoleh masih focus melihat kearah depan.


"Nomer gak dikenal mas, gak penting"


"Siapa tau itu beneran penting"


Raffan tau nomer tidak dikenal itu nomer yang tadi mengiriminya pesan pasti itu nomer Bram kakak iparnya, Raffan sengaja ingin memancing Alin dia ingin tau bagaimana reaksi istrinya itu.


"Angkat aja siapa tau penting" Ucap Raffan lagi ketika mendengar ponsel Alin kembali berdering.


Alin terdiam dia ragu mana mungkin dia mengangkat telepon dari Bram pasti suaminya akan kembali salah paham.


"Sini biar aku yang angkat" Raffan merebut ponsel Alin dari tangannya.


"Jangan mas.. ini beneran gak penting" Alin buru-buru mengambil ponselnya kembali.


"Kamu fokus nyetir aja mas" Titah Alin lagi langsung mematikan ponselnya dan memasukkan kedalam tas.


Raffan menahan kesalnya apa selama ini dibelakangnya Alin sering bertukar pesan dengan Bram, Raffan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat Alin merinding ketakutan.


"Mas jangan ngebut aku takut"


Raffan tak menghiraukan ucapan istrinya, dia tetap melajukan mobilnya dengan kencang, hingga akhirnya mereka sampai dirumah dan Alin baru bisa bernafas lega.


Raffan memasuki rumahnya tanpa memperdulikan Alin, terlihat raut wajahnya yang sedang kesal, Alin mengekor pria itu dari belakang, ia dapat merasakan perubahan sikap suaminya itu.


"Mas kamu kenapa" Tanya Alin.


"Aku gak papa" Jawab Raffan dengan wajah datar.


"Kamu marah sama aku" Alin bertanya.


"Soal tadi yang nelpon"


"Apa kamu sering chat-an sama dia selama ini"


"Dia? dia siapa mas" Jawab Alin tidak mengerti


"Yang tadi telpon, sebelumnya aku gak sengaja liat ponsel kamu dan membuka isi chat-nya"


Alin mengerti ia langsung membuka ponselnya dan benar tadi dia sempat mengirimkan chat via WhatsApp dan Raffan yang membukanya, Alin paham pasti Raffan sudah tau kalo yang meneleponnya tadi adalah kakak iparnya sendiri.


"Kamu udah lihat isinya? apa disitu ada balasan dari aku"


Raffan memang tidak melihat ada balasan dari Alin, isi nya hanya penuh pesan dari orang itu saja.


"Aku gak pernah membalasnya walau dia sering mengirimi aku pesan, kalo kamu gak percaya ini kamu blokir aja nomernya" Alin memberikan ponselnya pada Raffan.


"Aku gak mau kamu selalu salah paham sama aku dan nuduh aku yang enggak-enggak"


"Nih kamu blokir aja nomer dia" Ucap Alin meletakkan ponselnya di telapak tangan suaminya.


"Kamu blokir sendiri aja" Raffan mengembalikan ponsel istrinya dan pergi meninggalkannya ke dalam kamar mandi.


Alin menatap punggung suaminya yang mulai menjauh, buru-buru ia membuka ponsel dan memblokir nomor Bram.


Sementara Raffan yang berada didalam kamar mandi dia berpikir ingin memberi tahu kakaknya bagaimana kelakuan suaminya itu yang masih terus mengejar Alin, namun dia tahu bagaimana kakaknya yang sangat mencintai suaminya bahkan sangat mempercayai nya, tidak mudah bagi Raffan untuk meyakinkan kakaknya dia harus mengumpulkan bukti dulu.


Raffan menyesali dulu ia dengan mudah mengijinkan sang kakak untuk menikah dengan Bram, dulu yang Raffan tahu kakaknya terlihat bahagia bersama Bram sehingga dia tidak perduli bagaimana latar belakang pria itu yang terpenting baginya hanya melihat kakaknya bahagia itu saja.

__ADS_1


Raffan pun tidak mempermasalahkan orang itu berasal dari keluarga kaya atau bukan, pekerjaan nya apa karna uang bukan masalah bagi Raffan toh dia dan kakaknya dari kecil sudah hidup berkecukupan, yang terpenting bagi Raffan pria yang bersama kakaknya itu pria yang bertanggung jawab.


"Dasar pria gak tau diri, kalo bukan nikah sama kakakku dia juga bukan siapa-siapa" Raffan mengumpat kesal pada kakak iparnya.


Tanpa sadar Raffan mengepalkan tangannya lalu membenturkannya pada tembok sehingga membuat tangannya memerah.


Raffan pikir setelah menikah dengan Alin pria itu tidak akan berani mengganggu istri adik iparnya sendiri, dia ingin rumah tangga kakaknya berjalan baik bahkan dia rela menikahi Alin wanita yang tidak ia cintai demi keselamatan rumah tangga kakaknya karna ia ingin memberi kesempatan pada Bram kalo dia mau berubah! namun dugaannya salah pria itu masih terus mengejar istrinya.


Raffan baru sadar selama ini Alin tidak seperti apa yang dia pikir, dulu dia termakan omongan Bram yang pria itu katakan kalo Alin yang menggodanya duluan tapi Raffan tahu sekarang itu hanya siasatnya untuk membela dirinya sendiri.


Terlihat kalo pria itu yang terus-menerus mengganggu Istrinya, selama Alin bersamanya dia tidak pernah melihat istrinya itu menanggapi kakak iparnya, malah yang Raffan lihat Alin terkesan membenci pria itu terlihat dari sikapnya.


Ceklek


Raffan membuka pintu kamar mandi dia sudah selesai dengan ritual mandinya wajahnya terlihat lebih segar, dia hanya menggunakan handuk yang melilit pinggang nya.


"Kenapa lama sekali, aku mau mandi" Tiba-tiba saja Alin sudah berada didepan nya.


Raffan tidak menjawab dia melonggos pergi meninggalkan Alin menuju ruang ganti.


Alin mengangkat kedua bahunya menatap suaminya heran lalu dia masuk kedalam kamar mandi karena tubuhnya sudah sangat gerah.


Ketika sudah selesai memakai pakaian Raffan melirik ponsel Alin yang tergeletak dimeja riasnya, dia ingin memastikan kalo Alin sudah memblokir nomor pria itu.


Raffan tersenyum melihatnya dia meletakkan lagi ponsel istrinya "Ternyata dia sudah memblokir nya"


Sementara Anya sudah menunggu dua Adiknya dimeja makan untuk makan malam bersama, namun yang ditunggu tak kunjung keluar kamar.


Tak lama setelah itu mereka terlihat baru turun tangga dan menghampiri kakaknya yang sudah sejak tadi menunggu nya.


"Ciee pasangan yang lagi bucin-bucinnya sampe betah banget didalam kamar, kakaknya sampe nungguin lama disini" Ucap Anya menggoda Adiknya


"Apaan tuh bucin" Ucap Raffan dengan wajah datarnya.


"Budak cinta masa gak tahu sih mas" Ucap Alin tersenyum


"Mana aku tau bahasa Alay itu"


"Bukannya Alay kamu aja yang terlalu kaku dek" Ucap Anya tertawa


Seperti biasa dimeja makan itu tidak akan sepi selalu ada obrolan atau candaan ringan, apalagi Anya sangat senang kalo sudah menggoda Adiknya.


Sifatnya Anya itu sangat menuruni ibunya ramah pada setiap orang dan sangat penyayang, sementara Raffan menuruni Ayahnya yang terkesan pendiam dan irit bicara apalagi pada orang yang tidak ia kenal ia akan menunjukkan sikap dingin nya, namun dibalik itu semua dia sangat menyayangi keluarga, apalagi saat ini dia hanya mempunyai Anya kakak perempuan satu-satunya apapun itu dia akan selalu menomor satukan kakaknya.


"Weekend ini mbak mau ngajak kalian dinner couple date sekalian ngerayain Anniversary mbak sama mas Bram yang ke 5 tahun, gimana kalian bisakan? semenjak kalian nikah kita belum pernah loh pergi bareng ber empat"


"Mbak mau ngerayain dimana nanti biar aku boking tempatnya" Ucap Raffan


"Gak usah dek, mas Bram udah ada review tempat nya kok, kalian nanti tinggal Dateng aja"


"Hmm..yaudah"


"Pokonya mbak mau kita couple date"


Alin hanya terdiam dan menganguk saja, sejujurnya dia merasa tidak nyaman kalo menyangkut soal Bram ia sangat ingin menghindar dari orang tersebut, apalagi melihat kakak iparnya yang sangat baik ia merasa kasihan orang sebaik Anya malah mempunyai suami yang tidak bersyukur memiliki nya.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2