
"Lepaskan mas atau aku akan teriak" Alin melototkan matanya menatap Bram ia mengancam karna dia juga takut ada yang melihatnya mau dikata apa dia nanti kalo dia tengah dipeluk suami orang, dasar mas Bram tidak tahu diri! Alin mengumpat dalam hati
Mas Bram pun melepaskan Alin ingin sekali Alin menamparnya, karna sudah berani kurang ajar tapi dia tidak ingin membuang tenaganya.
"Maafin mas ya Lin, mas gak bisa bohong kalo mas masih memiliki rasa sama kamu mas kangen apa bisa kita seperti dulu" Ucap Bram dengan tidak tahu dirinya
"Jangan ngaco kamu ya mas, kamu itu sudah punya istri" Jawab Alin kesal
Alim tidak habis pikir mas Bram tidak berubah, sudah punya istri masih terus mengejar dirinya
"Mas sebenarnya gak bahagia sama dia Lin, dia tidak bisa memberi mas seorang anak"
Anya memang tidak bisa mempunyai keturunan, karna dulu dia pernah mempunyai riwayat kanker rahim, namun dia sudah memberi tahu kekurangannya itu sebelum menikah dengan Bram, dan Bram pun tidak merasa keberatan waktu itu.
"Mas cukup ya! aku sama sekali tidak mau mendengar cerita hidupmu itu"
"Dan satu lagi jangan pernah ganggu hidup aku..! kita sudah menjalani hidup masing-masing" Alin menunjuk memberi peringatan kepada Bram dia sudah sangat muak dengan sikap pria yang ada didepan nya.
Alin pergi meninggalkan Bram sendirian, dia akan kembali melanjutkan pekerjaannya karna sebentar lagi jam waktunya pulang.
'Aku harus benar-benar menghindari nya' guman Alin
Dia bergidik membayangkan kejadian tadi dan sepertinya setelah ini dia harus mandi kembang tujuh rupa! pikir Alin dalam otaknya
"Besok panggil dia menghadap saya"
Raffan benar-benar marah setelah melihat sejumlah foto yang ditunjukkan sekertaris nya itu, didalam foto itu ada Bram terlihat sedang memeluk Alin.
Dia akan meminta penjelasan kakak ipar nya itu besok!
Keesokan harinya
Bram memasuki ruangan raffan
"Ada apa raf, kamu memanggil mas" Tanya Bram
"Apa ini"
Tanpa basa-basi Raffan melemparkan foto-foto yang diberikan sekertaris nya semalam ke atas meja kerjanya.
"Bisa kakak ipar jelaskan" Raffan menegaskan kalimat kakak ipar
Bram menelan ludahnya kasar
"Raf, mas bisa jelasin semua ini"
"Jelaskan aku ingin dengar" Ucap raffan dengan santai
Bram tampak diam sejenak dan berpikir mencari kata-kata yang pas untuk menjelaskan pada raffan
"Raf, mas minta maaf sebelumnya karna sempat tidak jujur sama kamu, perempuan yang ada difoto itu dia Alin mantan pacar mas dulu"
"Dan untuk foto yang kamu lihat ini tidak seperti apa yang kamu pikirkan" Ucap Bram melanjutkan penjelasannya
"Jadi begini, kemarin malam dia menggoda mas, dia berusaha merayu ingin meminta balikan, padahal mas sudah bilang kalo mas sudah punya istri dan mas menyuruh nya untuk move on, ehhh dia malah menangis dan mas jadi merasa gak tega.. mas memberi pelukan itu sebagai tanda terakhir kalinya, mas sudah menanggap dia seperti adek, hanya itu saja raf" Bram menjelaskan walaupun dengan mengarang cerita dia akan menyakinkan raffan
"Apa mas tidak berpikir kalo kak Anya melihat mas memeluk perempuan lain apa yang akan kak Anya pikirkan" tegas Raffan
"Iya mas salah kemarin mas hanya reflek, mas hanya kasian saja tidak lebih"
"Mas menjelaskan apa adanya, karna itulah kenyataannya" Ucap Bram lagi
"Apa mas yakin" Raffan merasa belum yakin dengan penjelasan Bram
"Mas bersumpah raf, mana mungkin mas menghianati kakakmu mas sangat mencintai Anya"
Raffan terdiam bingung harus percaya atau tidak, entah kenapa dia juga meragukan penjelasan kakak iparnya itu tapi karna dia tidak cukup bukti juga. sekertaris nya hanya memberi sebuah foto tanpa adanya bukti percakapan
"Untuk saat ini aku percaya pada mas, tapi kalo mas terbukti menghianati kakak aku tidak akan pernah mengampuni mas"
Ucap raffan mengancam
"Makasih ya raf, mas janji akan selalu setia sama kakakmu" Ucap Bram lega
"Hmm"
"Kamu tetap awasi mereka" Perintah Raffan kepada sekertaris nya setelah Bram pergi
Tok tok tok
"Masuk"
"Pak ini kopi nya"
Alin meletakkan kopi pesenan bos nya dimeja
"Ada yg bisa saya bantu lagi pak"
"Siapa nama kamu" Raffan balik bertanya
"Nama saya Alina pak" Jawab alin
"Kamu sudah punya pacar"
Alin mengerutkan keningnya! kenapa pak bos menanyakan mengenai masalah pribadi
"Belum pak"
"Pastikan kalo kamu memilih pacar itu yang masih lajang jangan yang sudah beristri"
kenapa bos nya berbicara seperti itu seperti sedang menyindirnya bukan terlihat seperti sedang menasihati
"I..iya pak"
"Yasudah sana keluar"
"Saya permisi pak" Alin keluar dengan berbagai pertanyaan diotaknya
__ADS_1
Memikirkan perkataan bos nya itu nadanya seperti menyindir tapi Alin tidak merasa seperti itu.
Hmm... namun Alin tidak mau perduli tentang hal itu!
"Alin" Panggil bibi
"Iya bi"
Alin baru pulang kerja dan sudah selesai mandi dia akan segera makan malam, bibinya memang baik setiap pulang kerja selalu disiapkan makanan.
"Besok malam ikut bibi yuk ke acara nikahannya anak temen bibi, besok libur kerja kan" Ucap bibi Alin
Alin tampak memikirkan ajakan bibinya
"Guna ikut gak bibi" Alin balik bertanya
"Pasti ikutlah.. kamu ikut juga ya daripada dirumah sendirian"
"Yaudah deh Alin ikut"
Malam itu Alin terpaksa ikut kondangan bersama bibi dan sepupunya, daripada dirumah sendirian dia mengunakan dres selutut berwarna putih rambutnya ia biarkan tergerai dengan sedikit polesan bedak dan liptint sudah membuat Alin terlihat begitu cantik.
Acara itu diselenggarakan digedung hotel ternama di Jakarta.
sepertinya yang hajatan ini orang kaya! pikir Alin dalam hatinya
Dipesta itu Alin banyak dikenalkan kepada teman-teman bibinya banyak yg berpikiran kalo Alin adalah calon mantu bibinya
"Makanya cepetan cari cewek, biar aku ga disangka pacarmu" Timpal Alin meledek Guna
"Emang gampang nyari cewek" balas guna
"Hahaha yaudah aku mau ke toilet dulu gun"
"Iya jangan lama-lama"
Alin sudah selesai dari toilet dia merapikan sedikit rambutnya yang agak berantakan, ketika keluar dari toilet dia terkejut melihat dua orang laki-laki berdiri didepan pintu dengan berpakaian rapi namun terlihat menyeramkan
"Nona bisa ikut kami" Ujar salah satu orang itu
"Siapa kalian" Alin bertanya
"Ada yg ingin bertemu dengan nona"
"Saya tidak mau, saya ga kenal kalian" Alin menolak perasaannya tiba-tiba saja tidak enak
"Kalo nona tidak mau dengan terpaksa kita akan memaksa" ucap salah satu dua orang itu
Dua orang itu saling melempar pandang, tanpa pikir panjang mereka mencekal tangan alin dari sisi kiri dan kanan lalu menyeretnya untuk mengikuti langkah mereka
"Lepaskan"
"siapa kalian" Ucap Alin memberontak mencoba melepaskan
Sesampai didepan pintu kamar hotel yang bertuliskan nomer 309, mereka berdua memasukan Alin ke dalam kamar itu lalu menutup pintunya mengunci dari luar.
Klakk!!!
Seseorang menyalakan lampu kamar itu yang tadinya gelap kini menjadi terang dan Alin bisa melihat ada orang disitu.
Alin membulatkan matanya dengan wajah orang yang dia lihat.
Alin mendekati orang itu
"Pak Raffan" Ucap Alin
"Kenapa bapak ada disini" Alin kembali bertanya
Raffan tertawa, Alin menatap raffan heran
"Alina Putri Azalea, seharusnya aku yang bertanya apa yang kamu lakukan dihotel ini bersama Bram" Raffan berbicara sambil berjalan ke arah Alin dengan tatapan yg sulit diartikan.
Ada tatapan tajam dan juga tatapan liar.
Alin berjalan mundur ketika raffan mencoba mendekatinya
"Bram" Alin mengerutkan keningnya
"Maksud bapak apa" tanya Alin, dia dibuat tidak mengerti
Alin tetap waspada karna bagaimanapun dia sedang berada didalam kamar hotel berdua saja dengan bosnya
"Jangan pura-pura! habis melakukan apa kamu dengan Bram dan dibayar berapa kamu sama dia" Rafa memperhalus kata dibayar berapa seakan-akan dia ingin menghina Alin
"Apa maksudnya aku gak ngerti dengan ucapan bapak"
"Bram.... aku tidak bersama dia" Ucap Alin lagi, jujur saja dia takut dengan tatapan Raffan yang sulit diartikan dan terlihat menyeramkan
"Jangan berbohong... dasar ******!" ucap Raffan dengan membentak
Deg! ******
Alin melebarkan matanya
Kenapa dia menyebut aku ******!
Alin terus saja mundur sampai dia tidak bisa mundur lagi karna sudah kepentok tembok, Raffan semakin mendekat dengan tatapan yg mengerikan menurut Alin.
Alin memiringkan wajahnya dan memejamkan mata ketika raffan mengunci tubuh Alin dengan kedua tangannya
"Kamu tau apa salahmu, kamu sudah berani berselingkuh dengan suami orang" Raffan kembali membentak Alin
"Dan aku akan memberi kamu pelajaran" Ucap Raffan sambil menyeringai wajahnya terlihat begitu menyeramkan Alin tidak berani menatapnya
Alin menggeleng
"Aku tidak berselingkuh dengan siapa-siapa" tubuh Alin bergetar dia ketakutan
__ADS_1
"Mana buktinya kalo kamu tidak selingkuh dengan Bram" Raffan berteriak
Alin terdiam dia tidak tau harus menjelaskan apa yang jelas memang dia tidak ada hubungan apa-apa dengan Bram
"Kenapa diam saja, kalo gitu biar aku saja yang membuktikan nya sendiri" Raffan tersenyum jahat
Breeetttt!!!!
Alin terkejut Raffan merobet baju bagian lengannya sehingga memperlihatkan bahunya yang putih
"Apa yg bapak lakukan hmmfff"
Raffan mencium bibir Alin ********** dengan kasar, tangannya mencekal kedua pergelangan tangan Alin seketika tubuh Alin bergetar airmata yang ia tahan sedari tadi lolos begitu saja.
Flashback
Raffan mendapat laporan bahwa Alin sedang berada di hotel x, Raffan belum sepenuhnya mempercayai kakak iparnya itu makanya dia masih menyuruh seseorang untuk tetep mengawasi Alin dan Bram.
"Apakah dia bersama mas Bram" Tanya Raffan pada seseorang lewat sambungan telpon
"Saya tidak melihatnya pak"
"Yasudah kamu awasi terus" perintah Raffan
"Baik pak"
Tring
Ada notifikasi masuk ke ponsel Raffan.
Raffan membuka isi pesan itu sebuah foto lagi, foto Bram hendak memasuki hotel x.
Lalu ada sebuah panggilan telpon masuk
"Hallo pak apa perlu saya melakukan sesuatu" Tanya orang itu lewat telepon
"Tidak perlu saya akan pergi kesana sendiri" Raffan mematikan telepon nya
'Rupanya mereka ingin main-main denganku' ucap Raffan dalam hati dia mencengkram stir mobil lalu membantingnya dan melajukan mobil miliknya ketempat yang akan dia tuju.
"Dan kamu wanita ****** aku akan memberi peringatan untukmu"
Raffan melajukan mobilnya ke tempat hotel x, sesampainya disana Raffan bertanya pada resepsionis apakah ada riwayat cek in atas nama Bram disini, resepsionis itupun memberitahu Raffan nomor kamar yang sudah dibooking bram.
Raffan mengepalkan tangannya sangat mudah untuk Raffan menemukan Bram karna kekuasaan yang ia miliki cukup berpengaruh.
'Aku akan memberi pelajaran buat kalian.!'
Raffan menghentikan langkahnya ketika melihat seorang wanita cantik memakai dres putih hendak masuk ke dalam toilet, Raffan menyeringai sepertinya dia mempunyai ide yang sangat gila.
Flashback off
Raffan terus saja ******* bibir Alin dengan kasar dia mendorong tubuh Alin jatuh diatas kasur lalu menindihnya, Alin memberontak namun tenaganya tidak bisa menyeimbangi tenaga Raffan.
Raffan sudah membuka kemejanya dan bertelanjang dada, Raffan memaksa membuka dress yang dikenakan alin hingga merobeknya yang akhirnya hanya menyisakan pakaian dalamnya saja.
"Pak jangaaaannn" Alin memohon sambil menangis
"Diam" bentak Raffan
"Apa dia menciummu seperti ini" Rafa kembali ******* bibir Alin namun tidak sekasar tadi ciuman itu menuntut ingin dibalas
"Atau dia menyentuh mu seperti ini" Raffan meremas dada Alin pelan, dia tampak tersenyum jahat
Tubuh Alin seketika menegang ketika Raffan memegang bagian sensitifnya airmatanya membanjiri wajah cantiknya, Alin menggeleng pasrah
Ceklek
Tiba-tiba pintu terbuka
"Aliiiinnnnnn" Suara bibi nya menggema
Dua insan itu sama-sama terkejut Alin langsung menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya
Flashback
"Gunaa kemana Alin kenapa kamu sendiri" Bundanya bertanya pada guna karna tidak melihat Alin sedari tadi dia bersama guna, pikirnya
"lagi ke toilet Bun, guna juga mau ke toilet deh"
"Ohh yasudah sana"
Guna sudah selesai dari tolilet dia berjalan ke arah toilet wanita berniat untuk menunggu Alin didepan namun guna tampak menemukan sesuatu dilantai depan pintu toilet.
"Ini kan tas nya Alin, kenapa ditinggal disini"
"Mbak tunggu" Guna menghentikan langkah seorang yg baru saja keluar "Apa didalem masih ada orang"
"kosong mas, tadi hanya ada saya aja"
'Loh, terus kemana alin kenapa dia meninggalkan tas nya aja disini' guna membatin
Guna langsung buru-buru pergi mencari Alin, disaat dia melewati lorong dia melihat dua orang pria seperti sedang memaksa seseorang wanita untuk masuk ke dalam kamar hotel.
Namun guna tidak bisa melihat jelas siapa wanita itu karna terhalang tubuh besar salah satu dari dua orang itu.
Tapi guna tidak mau tahu urusan orang karna pikirannya saat ini hanya kemana Alin pergi kenapa meninggalkan tas nya.
'Ah mungkin dia sudah kembali ke acara dan sudah bersama bunda' pikir guna dalam hati
.
.
.
.
__ADS_1
tbc