Dituduh Selingkuh

Dituduh Selingkuh
Part 6 Kehilangan Cinta Pertamaku


__ADS_3

Alin POV


Aku sudah sampai dikantor suamiku tempat yang belum lama menjadi tempat kerjaku, aku berjalan melewati lobi menuju ruang kerjanya yang berada dilantai atas.


"Maaf mbak pak Raffan nya ada"


Tanyaku pada salah satu staf karyawannya


"Ada yang bisa saya bantu mbak" Dia malah balik bertanya.


"Saya mau ketemu sama pak Raffan" Ucapku lagi.


"Apa sudah buat janji sebelumnya" Dia balik bertanya.


Aku menggeleng.


"Tapi mbak saya istrinya pak Raffan apa perlu saya buat janji dulu" Ucapku lagi


"Tapi maaf mbak setahu saya pak Raffan itu belum menikah" Ucapnya


"Tapi mbak saya bener-bener istrinya pak Raffan, saya mau ketemu suami saya.. Ada hal penting"


"Mbak jangan ngaku-ngaku ya kalo mbak istrinya pak Raffan apa mbak ada bukti surat nikah atau foto pernikahan" Ucap karyawan suamiku itu dia terlihat tersenyum meremehkanku.


Aku terdiam karna aku memang tidak punya semua itu, aku hanya menikah siri lagian sudah jelas disini tidak ada yang mengetahui kalo Raffan sudah menikah itu artinya memang Raffan tidak mau mengumumkan pernikahannya.


Aku seperti istri yang tidak diakui, tapi aku sadar diri siapa aku...


Ponselku berdering aku merogoh tasku dan mengangkat telepon menjauh sedikit dari staf karyawan suamiku.


"Hallo bibi"


"Alin" Terdengar suara bibi tercekat menahan tangis.


"Bibi kenapa... Ada apa?" Tanyaku


"Cepet kamu kesini" terdengar suara bibi terisak.


Perasaanku tidak enak aku mematikan telepon bibi dan buru-buru pergi dari kantor itu... masa bodo aku pergi ke kampung tanpa memberitahu Raffan yang penting sekarang aku mau melihat keadaan bapak.


Aku sudah sampai dikampungku kota Tasikmalaya, aku menelusuri jalan menuju rumahku dari jauh sudah terlihat tapi yang kulihat kenapa banyak sekali orang dirumahku dan yang membuat aku kaget kenapa ada bendera kuning... aku berlari buru-buru agar segera sampai.


Deg!


Aku menatap tidak percaya kakiku rasanya lemas sekali ketika aku masuk kedalam kerumahku... aku melihat sosok yang sudah terbaring terbujur kaku wajahnya ditutupi kain berwarna putih dan terlihat disekitarnya beberapa orang sedang membacakan ayat-ayat. Al-Qur'an.


Bapakku sedang di ngajikan!


Aku terjatuh beringsut kelantai airmataku tumpah...


"Nggak mungkin" lirihku


"Bapak"


Seseorang langsung menubruk tubuhku memeluk dengan erat.


"Alin kamu yang sabar yaa nak"


"Ini mimpikan" Ucapku


Bibi menggeleng sambil menangis dia mengusap rambutku terlihat ibu juga menangis disamping jenazah bapak.


"Bapak kamu udah gak ada... kamu yang ikhlas ya nak"


Aku meraung menangis sejadi-jadinya, bibi semakin memelukku dengan erat.


Pemakaman bapak dilakukan sehabis ashar sedikit rintik gerimis mengiringi pemakaman, Ibu sempet pingsan tadi aku hanya menangis memeluk foto bapak didalam kamarku.


Bibi dan guna terlihat memasuki kamarku, guna juga tadi menyusul kesini ketika selesai pemakaman dia baru Sampai... disusul dengan ibuku.


Aku langsung memeluk ibuku.


"Bu apa ibu masih marah sama Alin" Tanyaku


Karna semenjak Alin datang ibunya belum bicara apa-apa pada Alin.


"Bu.. maafin Alin ya" Ucapku lagi


Ibu menggeleng sambil menangis.


"Ibu juga minta maaf ya atas sikap ibu waktu itu.. sebenarnya ibu gak marah kok sama kamu waktu itu ibu kebawa emosi aja" Ucap ibuku


Aku menangis kembali memeluk ibuku, aku rindu pelukannya.


"Tapi kenapa ibu gak ngabarin aku soal keadaan bapak" Tanyaku lagi


"Ibu gak mau kamu jadi khawatir"


"Pasti bapak jadi drop gara-gara aku"


"Enggak nak, ini udah takdir"


"Apa bapak masih kecewa sama aku Bu"


"Enggak sayang bapak sangat menyayangi kamu dan ini...."


Ibu mengeluarkan sebuah kertas dari dalam sakunya.


"Ini surat dari bapak buat kamu"


Aku menangis memegang selembar kertas itu rasanya aku masih belum sanggup untuk membukanya, aku kembali memeluk ibu.


"Oya... Alin mana suami kamu" tanya bibi


"Kamu kesini tadi sendirian"


Aku mengangguk.


"Aku gak ngasih tau dia" Jawabku


"Kenapa harusnya kamu kasih tau suami kamu"


"Aku gak sempet menghubungi dia sebelum kesini aku udah mampir dulu ke kantor dianya gak ada" Ucapku


"Yaudah Sekarang kamu telepon suami kamu" Ucap bibi


'Bagaimana ini aku kan gak punya nomernya aku gak mungkin bilang jujur nanti ibu kepikiran soalnya rumah tanggaku' Ucapku dalam hati.

__ADS_1


"Emmm ituuu... tadi waktu naik bis hape aku jatoh terus mati" Ucapku bohong untung saja hapenya sudah aku nonaktifkan.


"Guna kamu punya nomer bos kamu gak" Tanya bibi pada guna


Guna hanya menggeleng, terlihat bibi menghembuskan nafas kasar.


"Nanti suami kamu nyariin gimana nak" Tanya ibu


Aku menggeleng tidak tahu.. aku tidak terlalu memikirkannya hati aku masih sedih ditinggalkan bapak untuk selama-lamanya aku menatap secarik kertas itu aku membukanya membaca setiap huruf yang ditulis oleh bapak.


Alina Putri Azalea anakku.


ketika kamu membaca surat ini mungkin bapak sudah tidak ada disamping kamu lagi...


Alina anakku... bapak harap kamu bahagia selalu bapak sangat menyayangi mu...


Bapak senang kamu sudah menikah sudah ada yang menggantikan bapak untuk menjaga mu, bapak jadi bisa pergi dengan tenang...


Alina... ingat pesan bapak jadi istri yang baik kamu harus bisa menjalankan kewajiban sebagai seorang istri dengan benar jaga nama baik keluarga dan jaga ibumu ya...


Alin menangis memeluk surat itu.


"Alin juga sayang sama bapak" Alin mengecup kertas itu.


Sementara Raffan dia baru pulang dari kantor pukul 22.00 kerjaan menumpuk setelah beberapa hari libur membuat dia harus lembur... Raffan langsung menuju kamar karna dia merasa sangat lelah ketika dia membuka pintu kamarnya suasana begitu hening dia membuka jas dan dasi nya menggulung lengan kemejanya keatas lalu merebahkan tubuhnya di ranjang dan memejamkan matanya sejenak.


Raffan membuka matanya dia baru sadar daritadi dia tidak melihat Alin kemana dia, Raffan mencoba menelpon Alin namun nomernya tidak aktif!


"Kemana Alin apa dia belum pulang" Raffan teringat tadi pagi Alin izin kerumah bibinya.


Raffan menyambar konci mobilnya bergegas pergi keluar.


didalam mobil Raffan terus menggerutui istrinya.


"Awas aja dia berani-beraninya gak pulang" Ucap Raffan geram.


Raffan sampai dirumah bibinya namun rumah itu terlihat sepi karna tidak ada cahaya lampu yang dinyalakan, Raffan berusaha mengetuk-ngetuk namun tidak ada jawaban sepertinya memang tidak ada orang.


'Kemana Alin' Raffan menggeram 'Apa dia coba-coba untuk kabur' Raffan membanting setir mobilnya.


Raffan tidak tahu kerabat Alin yang ada diJakarta selain bibinya.


'Jangan-jangan dia pulang ke kampungnya' Pikir Raffan. "Aku akan kesana besok pagi saja" Guman Raffan


Raffan memutuskan pulang ke apartemen nya dia tidak mau kakaknya curiga kalo Alin tidak ada, Raffan mengirimkan chat kalo dia menginap dirumah bibinya Alin bersama istrinya.


Raffan terpaksa berbohong!


"Hallo Rey"


"Selamat malam pak ada yang bisa saya bantu"


"Besok aku tidak masuk kantor, ada urusan"


"Tapi besok kita ada meeting penting loh pak"


"Kamu handle aja"


"Tapi ini klaen penting pak dia tidak mau diwakilkan"


"Kalo gitu undur jadwalnya"


Tut!


Raffan memutuskan telepon secara sepihak.


.


.


.


Keesokan harinya


"Nak, kamu gak mau pulang dulu.. nanti suami kamu nyariin pasti dia khawatir dari kemarin kamu belum pulang" Ucap ibu Alin.


Alin menggeleng 'Mana mungkin dia khawatir sama aku paling juga dia gak perduli' Ucap Alin dalam hati.


"Alin masih mau disini Bu.. Alin masih kangen sama bapak" Alin mengusap airmatanya menatap sosok yang ada dibingkai foto itu.


Ibunya mengusap rambut anaknya.


"Kamu jangan gitu inget pesan bapak harus jadi istri yang baik"


Alin memeluk ibunya, ibunya tidak tahu bagaimana nasib rumah tangga Alin yang sebenarnya.


Tok tok


Terdengar ada yang mengetuk pintu Alin dan ibunya menoleh.


"Sebentar ya ibu bukain pintu dulu"


Alin menganguk dan kembali memeluk foto Almarhum bapaknya.


Ketika ibunya membukakan pintu yang dilihat pertama kali oleh Raffan adalah istrinya sedang duduk di kursi ruang tamu yang sudah usang wanita itu tengah memeluk foto dengan wajah sembabnya.


Raffan yang tadi berniat ingin menyeret Alin pulang pun mengurungkan niatnya... Raffan mengecup punggung tangan ibu mertuanya.


"Assalamualaikum Bu"


"Walaiqumsalam"


"Apa yang terjadi Bu" Pertama kali nya Raffan berbicara dengan mertuanya setelah pertemuan nya yang kedua.


"Kemarin...bapaknya Alin meninggal" Ucap ibu


"Inalillahi wa Ina ilaihi Raji'un..."


Raffan menghampiri Alin.


"Kenapa kamu gak bicara" Ucap Raffan pada Alin


"Kita bicara dikamar aja" Ucap Alin


"Bu aku ke kamar dulu ya"


"Iya nak"

__ADS_1


"Kenapa kamu gak ngomong apa-apa sama aku sih" Pungkas Raffan ketika sudah berada didalam kamar istrinya.


"Aku gak punya nomer hape kamu mas... dan kemarin aku udah nyamperin kamu ke kantor tapi staf kamu gak ngijinin aku masuk"


"Aku tuh bilang kalo aku ini istri kamu mereka malah gak percaya"


'Wajar mereka gak tau aku sudah menutup berita itu rapat-rapat' Ucap Raffan dalam hati.


"Ya aku sadar siapa aku dan pernikahan ini memang tidak diinginkan" Ucap Alin lagi terdengar menyakitkan memang!


Alin memang mulai menyukai Raffan walaupun pria itu selalu bersikap dingin padanya... terus terang saja entah sejak kapan perasaan itu mulai tumbuh.


"Terus kemana ponsel kamu kenapa gak aktif-aktif" Raffan mengalihkan pembicaraan dia tampak tidak perduli dengan perasaan Alin.


"Aku sengaja mematikan nya"


"Aku semalem nyariin kamu... sampe aku harus tidur di apartemen karna gak mau kakakku curiga"


"Maafin aku"


"Yaudah gakpapa... sekarang kamu temenin aku ke makam bapak kamu"


Alin menganguk lalu menemani Raffan ke makam bapaknya, dia kembali menangis melihat gundukan tanah yang masih basah itu... Raffan seakan mengerti dia membawa Alin kedalam dekapannya..


"Aku pernah merasakan diposisi kamu.. rasanya menyakitkan ditinggalkan oleh orang yang kita cintai"


Alin mendongak wajahnya menatap wajah tampan suaminya.


"Aku bahkan harus kehilangan dua orang sekaligus disaat bersamaan" Ucapnya lagi


Raffan menghembuskan nafas beratnya mengingat dia dulu ditinggalkan oleh kedua orangtuanya karena kecelakaan.. dia tidak mau memperlihatkan wajah sedihnya didepan Alin.


"Kalo kamu mau nangis, nangis aja" Ucap Alin yang melihat raut wajah suami terlihat menahan sedihnya.


"Aku gak cengeng kaya kamu" Raffan tidak mau memperlihatkan sisi lemahnya dia hanya akan menangis didepan kakaknya saja jika sedang mengingat kedua orang tuanya.


"Bapak adalah sosok laki-laki yang menjadi cinta pertama aku.. dari kecil aku sangat dekat dengan bapak.. bapak itu sosok laki-laki yang penyabar gak pernah aku liat bapak kasar sama ibu" Ucap Alin menceritakan sosok bapaknya.


Alin tersenyum menatap Raffan dia mengusap airmatanya.. Raffan mengusap rambut Alin lembut.


"Iya seorang Ayah itu akan selalu menjadi cinta pertama anaknya.. sekarang tugas kamu itu mendo'akan beliau" Ucap Raffan.


Alin menatap suaminya yang terlihat bersikap lembut tidak dingin seperti biasanya.


"Kenapa menatapku seperti itu"


"Eumm.. enggak kenapa-kenapa kok" Jawab Alin gugup.


Mereka sudah kembali dari pemakaman.


"Alin ayo kita makan dulu ajak suami kamu" Ucap ibu Alin


"Iya buk"


Untuk pertama kalinya mereka makan bersama sebagai keluarga.


"Emm.. mas aku boleh gak disini dulu sampai selesai acara 7hari tahlilan bapak"


Raffan tampak menimbangkan lalu akhirnya dia mengangguk.


"Makasih ya mas" jawab Alin tersenyum menatap suaminya.


Raffan menatap istrinya nya heran. 'Kenapa akhir-akhir ini dia jadi banyak tersenyum padaku' Guman Raffan dalam hati.


"Tapi besok mas harus kembali ke Jakarta banyak pekerjaan yang sudah tertunda dan harus diselesaikan, nanti mas kesini lagi buat jemput kamu"


"Tapi malam ini mas nginep kan"


"Iya"


Malam itu Alin Dan Raffan pertama kali nya tidur seranjang karna dikamar Alin sempit tidak ada sofa.. Raffan masih terjaga dia tidak bisa memejamkan matanya karna rasa gerah, kamar Alin tidak ada AC.. Raffan bangun dan duduk ditepi ranjang dia melepaskan bajunya.


"Mas kamu mau ngapain" Tanya Alin


"Aku gerah" Jawab Raffan


"Sebentar aku pindahkan kipas angin yang ada diruang tamu"


"Gimana udah gak gerah lagi" Tanya Alin ketika sudah menyalakan kipas angin.


"Emm lumayan"


Ketika Alin hendak kembali ke ranjangnya kakinya tersandung sesuatu dia terhuyung kedepan dan menubruk tubuh Raffan.


Posisi Alin saat ini berada diatas tubuh suaminya.. Alin menatap wajah suaminya yang sangat tampan matanya bibirnya tak luput dari pandangan Alin.. pemilik wajah yang entah sejak kapan mulai mengisi hatinya.


Raffan mengubah posisinya menjadi berada diatas.. Alin yang kini berada dibawah kukungan suaminya itu merasakan jantungnya yang berdegup kencang, Raffan menatap bibir Alin lalu mendekatkan wajahnya.. Alin memejamkan matanya.. dan cup!


Raffan mengecup bibir Alin singkat!


Raffan tersadar dengan tindakannya dia buru-buru bangun dan duduk bersandar di dinding ranjang.


"Maaf" Ucap Raffan pelan


Alin pun menyamakan posisi nya sama seperti Raffan.


"Iya gakpapa"


Ada rasa kecewa dihati Alin.. padahal dia menginginkan lebih tapi dia juga sadar Raffan tidak memiliki perasaan yang sama dengannya.. terlebih lagi dia sudah pernah mengatakan kalo dia tidak mau disentuh... Kalo dia bisa menarik ucapannya waktu itu dia akan dengan suka rela memberikan hak Raffan jika suaminya itu menginginkannya saat ini.


"Yaudah kita tidur"


Raffan membaringkan tubuhnya membelakangi Alin.


'Hampir saja aku tidak bisa menahan diri' Guman Raffan dalam hatinya.


Walau pun kecupan itu terasa singkat namun rasa manis bibir Alin masih terasa.


Alin hanya menatap punggung suaminya dia pun membaringkan tubuhnya dan mulai memejamkan matanya.


.


.


.


.

__ADS_1


tbc


Author mengubah panggilan bude menjadi bibi karna menyesuaikan asal kota tokoh utamanya🙏


__ADS_2