Dituduh Selingkuh

Dituduh Selingkuh
Part 9 Bekerja Kembali


__ADS_3

"Udah belum" Ucap Alin sambil menutupi matanya dengan tangan.


"Bentar jangan ngintip"


"Astaga.. nggak"


"Udah nih"


Alin membuka mata


"Ayo" Alin memegangi tangan Raffan membantunya berjalan.


Alin hampir saja terpeleset kalo Raffan tidak menangkap tubuhnya, mata mereka bertemu saling memandang, jantung Alin berdegup kencang tak kala Raffan menatap matanya begitu dalam.


"Hati-hati" Ucap Raffan


"Eh..iyaa" Jawab Alin gugup


'Huh jantung aman' Ucap Alin dalam hati.


"Kamu jangan kemana-mana.. nanti kalo aku butuh sesuatu gimana" Ucap Raffan baru saja istrinya itu mau keluar kamar.


"Aku mau ngambil makan buat kamu"


"Gausah aku udah chat mbak Anya suruh pelayan nganterin makanan kesini"


Alin kembali mendekat pada Raffan.


"Yaudah..tapi aku boleh kan ke kamar mandi, badan aku gerah"


"Iya tapi jangan lama-lama"


"Iyaa"


"Emm..tunggu dulu"


"Apalagi"


"Tolong ambilkan dulu laptop aku diruang kerja"


"Mas kamu baru mendingan, jangan dulu ngurus kerjaan"


"Aku mau cek laporan aja"


"Yaudah sebentar"


Alin keluar dari dalam kamarnya sejak sedari pagi Alin sama sekali belum keluar kamar karna suaminya yang tidak mau ditinggalkan.


Alin menggelengkan kepalanya, manjanya bener-bener melebihi anak kecil.


Alin berpapasan dengan Bram.


'Kok dia ada disini' Guman Alin dalam hati.


Alin baru ingat kalo hari ini hari Sabtu pantas saja dia ada dirumah.


"Alin katanya Raffan sakit" Ucap pria itu


"Ya" Jawab Alin malas.


"Mas" Panggil Anya menghampiri Alin dan Bram.


Alin melihat Anya sudah berpakaian rapih dan cantik.


"Alin gimana keadaan Raffan"


"Udah mending mbak demamnya udah turun"


"Syukurlah.. mbak mau keluar dulu sama mas Bram"


"Kamu jagain Raffan ya"


"Iya pasti mbak"


"Yaudah.. Assalamualaikum"


"Walaiqumsalam" Jawab Alin melihat dua orang itu pergi.


Alin hendak kembali ke kamar


"Oya aku kan mau ngambil laptop"


.


.


.


.


Keadaan Raffan sudah benar-benar fit dia sudah memakai pakaian kerjanya, hari ini dia akan pergi ke kantor.


"Mas kamu gak lupakan"


"Iya aku gak lupa.. yaudah kamu siap-siap"


Hari ini Alin akan kembali bekerja, dikantor Alin dan Raffan akan bersikap layaknya seorang bos dan karyawan, tidak ada yang tahu kalo mereka sudah menikah kecuali sekertaris Raffan dan sepupunya Alin, Guna.


Sekertaris Raffan sudah pasti tidak akan mengatakan semua tentang pernikahan itu karna dia sendiri yang sudah menutup beritanya rapat-rapat, dan Guna, biarkan itu menjadi urusan Alin.


"Mas aku pergi ke kantor nya naik ojek online aja ya"


"Kenapa gak bareng aja"


"Nanti yang ada semua karyawan kamu jadi curiga"


"Nggak akan, nanti kamu turun dijalan deket kantor"


"Iya terserah kamu aja mas"


"Yaudah kita sarapan dulu"


Dimeja makan


"Alin kamu jadi mau kerja lagi"


"Jadi mbak, ini aku udah siap"


"Kenapa gak dirumah aja sih nemenin mbak"


"Hehe aku minta maaf ya mbak"

__ADS_1


"Kamu tuh dek kok istrinya dibiarin kerja"


"Ini kan kemauan dia mbak" Ucap Raffan merilik Alin.


'Aku ingin kerja agar nanti kalo kita benar-benar pisah, aku masih bisa melihat kamu mas' Alin membatin.


Alin menundukkan wajahnya "Gakpapa kan mbak"


"Iya terserah kamu aja, kalo itu bisa membuat kamu nyaman" Anya tersenyum mengusap lembut rambut adik iparnya.


Alin tersenyum "Makasih mbak"


"Kalian jangan lupain sesuatu" Ucap Anya


"Lupa apa mbak?" Tanya Raffan.


"Kapan kalian kasih mbak keponakan" Rengek Anya


"Keponakan?" Alin dan Raffan menjawab berbarengan.


"Iya anak kalian"


"emm..ituu.." Raffan merilik istrinya yang hanya diam menundukkan wajahnya.


"Secepatnya do'ain aja ya mbak" Jawab Raffan.


"Emm..mbak jadi ga sabar deh.. hehe"


"Oya, kapan kalian mau honeymoon? jangan sibuk kerja terus ajak istri kamu liburan sekalian honeymoon" Anya mengedipkan matanya pada sang adik.


Raffan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Emm..iya mbak nanti aku pikirin"


"Jangan cuma dipikirin tapi dilakuin"


Raffan menghembuskan nafasnya berat, kakaknya ini terus mencercanya menuntut untuk diberi keponakan.


'Apa bisa harapan kakaknya itu dia wujudkan' Raffan membatin.


"Iya mbak aku nyari waktu luang dulu, sekarang kan masalah dikantor belum selesai"


"Yaudah mbak do'ain semoga secepatnya selesai masalah kantor"


"Aamiin"


Alin dan Raffan berangkat kerja bersama dimobil Raffan hanya diam saja memikirkan keinginan kakaknya yang mungkin tidak akan terwujud.


"Mas.. kenapa diem aja"


"Gakpapa"


"Mas kepikiran ucapan mbak Anya"


"Menurut kamu gimana"


"Aku juga gak tau, kita mana mungkin bisa ngasih keponakan sama mbak Anya pernikahan kita aja cuma sandiwara"


"Mungkin aja bisa"


"Maksud kamu mas"


"Enggak..lupain aja"


Alin membuka handphone nya karna ada notifikasi chat WhatsApp masuk


Nomer tidak dikenal


"Alin, kamu sedang apa?


Nomer tidak dikenal


"Alin, mas rindu"


Alin melotot kan matanya melihat isi chat itu dia membuka foto profil nomer WhatsApp itu, ini nomer mas Bram!


Buru-buru Alin memasukan handphone nya ke tas dia tidak mau membalas chat dari pria itu, Alin merilik suaminya yang masih fokus menyetir.


Alin takut pria itu kembali macem-macem dan mengganggu nya lagi disaat hubungan nya dengan Raffan sudah lebih baik.


Sesampainya dikantor Alin bertemu dengan Rita kepala OB.


"Aliiinnnn" pekik Rita memanggil namanya.


"Mbak Rita..apa kabar"


"Baik.. Mbak seneng banget kamu masuk kerja lagi"


"Aku juga senang ketemu Mbak Rita lagi"


"Jarang banget lohh ada karyawan yang udah Risen bisa dengan gampang masuk lagi, kamu beruntung Alin"


"Alhamdulillah mbak mungkin masih rejeky aku"


"Oya waktu itu kenapa sih kamu kok tiba-tiba Risen"


"Emm..ituuu"


"Aliiinnnn" Alin menengok pada as suara yang meneriaki namanya.


"Guna"


"Alin kok kamu ada disini" Tanya guna


"Iya.. emm mbak Rita sebentar ya aku mau bicara sama guna dulu"


Alin langsung menarik tangan pria itu sedikit menjauh dari mbak Rita.


"Alin kamu lagi ngapain disini" Tanya pria itu lagi


"Aku kerja lagi disini"


"Hah..kamu kan udah jadi istri bos.." Alin langsung mendekap mulut pria itu.


"Stttt.. jangan bilang aku istrinya Raffan disini"


"Kenapa"


"Nanti aku ceritain semuanya"


Guna menganguk paham.

__ADS_1


Alin kembali pada pekerjaan nya sebagai seorang OB.


Ya memang itu pekerjaan dulu walaupun dia istri pemilik perusahaan itukan cuma berlaku dirumah saja, dikantor status nya beda lagi.


Namun Raffan sudah memerintahkan pada Rita kepala OB itu agar memberi tugas Alin hanya membuat kopi saja jangan menyuruhnya mengepel lantai atau membersihkan toilet, pria itu tidak mau Alin mengerjakan yang berat-berat karna kalo dia kecapean atau sakit dia sendiri yang akan repot.


"Alin tugas kamu disini hanya membuat kopi aja ya" Ucap Rita


"Nggak ngepel juga mbak"


"Nggak"


"Bersihin toilet"


"Nggak Alin, tugas kamu cuma buat kopi buat semua yang ada disini terus mengantarkan nya!"


Alin berpikir mungkin Raffan yang menyuruhnya.


"Okey mbak"


"Kamu sekarang buatin kopi buat staf yang dibagian lobi ya"


"Kopi susu, langsung anterin aja" Ucap Rita lagi


"Siap mbak"


Alin membuat kopi lalu mengantarkan nya sendiri.


"Mbak ini kopinya ya" Alin meletakkan kopi dimeja staf itu.


"Iya terimakasih"


"Sama-sama"


Alin hendak berbalik namun bahunya tak sengaja menyenggol seseorang yang kebetulan sedang lewat.


"Aww..."


"Duhh maaf saya gak sengaja apa mbak gakpapa" Ucap Alin


"Gakpapa kok"


Orang itu menatap wajah Alin yang hendak pergi.


"Ehh.. mbak tunggu dulu" Ucapnya lagi.


"Kaya pernah lihat" Ucap orang itu


Alin menatap wanita itu.


"Mbak kerja disini" Tanya orang itu


Alin menganguk pelan menundukkan wajahnya, ia teringat pada wanita yang ada didepannya waktu dia mencari Raffan ke kantor.


"Mbak kan yang pernah datang kesini nyari pak Raffan terus mbak ngaku-ngaku bilang kalo mbak ini istrinya pak Raffan"


Wanita itu sengaja meninggikan suaranya agar yang berada area itu bisa mendengar ucapannya yang terdengar seperti ingin mempermalukan Alin.


"Jadi sekarang kerja disini jadi OB, pasti waktu itu lagi halu mimpi jadi istri CEO" Ucapnya lagi dengan senyum mengejek.


Alin hanya diam saja tidak mungkin kan dia mengatakan kalo dia memang istrinya Raffan.


"Mbak tolong dijaga ucapannya ya dia memang..."


Tiba-tiba saja Guna datang membelanya, Alin langsung menarik Guna pergi meninggalkan wanita itu.


"Alin kenapa kamu diam aja.. dia lagi mempermalukan kamu, kenapa kamu gak bilang ke dia siapa kamu sebenarnya"


"Lagian aku heran kenapa dikantor ini semuanya ga ada yang tau kalo pak Raffan udah menikah" Ucap Guna lagi.


Alin menghembuskan nafasnya berat.


"Oke aku ceritain semuanya ke kamu" Ucap Alin


Alin pun menceritakan semuanya pada Guna, Alin menceritakan tentang dia yang sering diganggu iparnya yang mana membuat Raffan selalu salah paham terhadap dirinya, dia juga menceritakan tentang perjanjian pernikahan itu.


Alin percaya pada sepupunya Guna karna dari awal dia paham bagaimana posisi Alin, setidaknya nanti ada yang membantu menjelaskan pada ibunya kalo sewaktu-waktu dia benar-benar menjadi janda.


"Dari awal aku tau itu cuma salah paham, bunda aja yang main nikahin anak orang"


"Udah terjadi, kamu gak perlu nyalahin bibi lagian juga wajar aja bibi kaya gitu"


"Jadi nanti setelah tiga bulan kalian akan cerai"


Alin menganguk pelan


"Kamu ga tertarik sama pak Raffan"


"Maksud kamu"


"Apa kamu ada perasaan sama pak Raffan"


Alin terdiam perasaan itu memang ada, tapi dia tidak tahu bagaimana perasaan Raffan terhadapnya.


"Kenapa gak nyoba menjalani pernikahan kalian dengan serius aja, kenapa harus ada perjanjian"


"Itu gak mungkin Gun"


"Diawal sikap dia itu kaya benci sama aku" Ucap Alin


"Dia juga yang membuat perjanjian itu"


"Sekarang" Tanya guna


"Sekarang sikapnya sudah lebih baik tapi aku gak mau berharap lebih, kita juga gak bisa menyimpulkan perasaan seseorang hanya dari sikapnya"


"Yaudah kamu jalani aja gimana semestinya, kalo butuh bantuan aku bilang aja"


"Makasih ya gun, kamu ingatkan pesan aku yang tahu soal pernikahan aku sama mas Raffan dikantor cuma kamu sama pak Rey sekertaris Raffan"


"Iya aku ingat, aku gak akan bilang ke siapa-siapa disini.. tadi tuh aku gak terima aja kamu digituin sama wanita itu kalo dia tau kamu istrinya pak Raffan pasti dia udah ketar-ketir"


"Lagian kamu tahu sendiri status aku tuh sama aja disini cuma OB.. hehe" Alin tertawa getir


"Kaya istri yang tidak diakui" ledek Guna


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2