Dituduh Selingkuh

Dituduh Selingkuh
Part 18 Pergi


__ADS_3

"Kamu bentak mbak..?" Ucap Anya tak percaya dengan mata yang mulai berkaca-kaca


Selama ini adik nya ini tidak pernah membentak nya atau pun meninggikan suara nya, bahkan adik kakak ini nyaris tidak pernah bertengkar mereka selalu akur rukun dan saling menyayangi


"Mbak, aku gak bermaksud.." Ucap Raffan gusar ia mengusap wajah nya kasar


"Hanya karna membela wanita itu kamu berani membentak mbak..!!"


"Bukan gitu mbak.. aku cuma gak suka kalo ada yang mengatai Alin seperti itu.."


"Aku minta maaf" Ucap Raffan pelan


Anya menggelengkan kepala nya kecewa, ia paling tidak suka di bentak, suami nya sendiri tidak pernah membentak nya! karna ia akan langsung menangis kalo ada orang yang membentak nya


Anya menangis lalu berjalan keluar meninggalkan Raffan, ia benar-benar kecewa pada adik kesayangan nya itu


Ketika membuka pintu Anya melihat Alin yang berdiri disana, wanita itu tampak terkejut mendapati Anya yang menangis


"Mbak, kenapa..?" Tanya Alin


Anya mengusap air mata nya "Puas kamu sekarang..!!! puas kamu sudah membuat Raffan berani melawan mbak.." Anya menatap Alin dengan tatapan tajam


Alin menundukan wajah nya, ia meremas ujung baju nya, ia merasa takut ketika kakak ipar nya menatap nya seperti itu, Alin sudah biasa melihat kelembutan pada diri Anya


"Kamu tau baru kali ini mbak sama Raffan bertengkar...dan itu semua gara-gara kamuu...!!!" ucap Anya menunjuk airmuka Alin


"Mbak, tolong jangan marah sama Raffan dia gak salah apa-apa..!!" Alin ingin meraih tangan Anya namun ditepis oleh kakak ipar nya


"Iya karna sumber masalah nya itu kamu.." Ucap Anya kembali menunjuk Alin


Alin memejamkan mata nya menahan rasa sesak didada nya, ia tidak mau kakak ipar nya bertengkar dengan suami nya hanya karna diri nya!


"Mbak aku gak seperti apa yang mbak pikir..!!" lirih Alin pelan

__ADS_1


Anya berdecih! "Mbak boleh nyalahin aku.. mbak boleh gak percaya aku.. tapi tolong jangan marah sama Raffan dia gak salah apa-apa.."


"Aku minta maaf kalo aku salah dimata mbak.. silahkan mbak boleh marah sama aku.." Alin pasrah percuma ia membela diri, Anya tetap tidak akan percaya ia tidak punya bukti apapun, Alin membiarkan diri nya salah dimata kakak ipar nya.


"Tapi aku mohon sama mbak..aku gak mau hubungan mbak sama Raffan jadi buruk gara-gara aku.." Ucap Alin memohon


"Kalo gitu lebih baik kamu pergi tinggalin Raffan..!!" Ucap Anya langsung pergi meninggalkan Alin


Alin terkejut dengan perkataan kakak iparnya barusan, Alin teringat akan kata-kata kakak iparnya dulu menyuruhnya untuk selalu membahagiakan Raffan.


Alin tidak mungkin meninggalkan suaminya kalo tidak ia yang meminta nya sendiri, Alin mencintai Raffan!


Anya menyesali perkataan nya sebenarnya ia tidak berniat mengatakan itu namun mulutnya begitu refleks! walaupun begitu Anya tidak mau terlalu ikut campur urusan rumah tangga adiknya apalagi menyuruh mereka berpisah tidak itu bukan sifat Anya!


"Kenapa aku mengatakan itu tadi" Anya menampar mulut nya sendiri


Alin membuka pintu ruang kerja Raffan, ia melihat laki-laki itu tampak seperti sedang frustasi terlihat dari penampilan nya yang kusut


"Mas.." Panggil Alin pelan menatap punggung suami nya


"Aku sedang ingin sendiri Alin" Ucap suami nya pelan masih membelakangi Alin


"Tapi mas..."


"Kamu denger gak aku lagi pengen sendiri" Ucap Raffan meninggi kan nada suara nya


Sejak semalam Raffan begitu menghindari nya dan sekarang suami nya masih tidak mau berbicara dengan Alin.


"Mas..akuu.."


"Kami tuli atau gimana..!!! aku sedang pusing jangan ganggu aku..!!" Bentak Raffan langsung pergi keluar membanting pintu dengan keras


Alin terlonjak kaget ia menatap suami nya tak percaya, ia pergi kembali ke kamar nya dengan jalan yang tertatih dan menangis disana.

__ADS_1


Kalo Raffan tidak mempercayai nya, ia sudah tidak memiliki harapan lagi, Alin memikirkan perkataan kakak iparnya tadi, apa Alin harus pergi meninggalkan Raffan percuma dia disini tidak ada yang mempercayai nya semua menyalahkan nya, semua membenci diri nya.


Air mata nya seakan tidak mau berhenti, Alin menangisi diri nya sendiri ia sudah jatuh ketimpa tangga pula, Bram benar-benar licik ia bisa memutar semua keadaan seakan Alin yang bersalah.


Alin teringat akan hal-hal indah bersama suami nya, perhatian nya, sikap manis nya akan kah semua nya harus berakhir sampai disini, Alin tidak rela bahkan belum sempat suami nya itu mengetahui isi hati nya, Alin menatap bucket bunga yang mungkin sudah mulai layu itu harus nya ia sedang bahagia sekarang.


Sementara Raffan meremas rambut nya kasar, ia bener-bener frustasi!


ia sebenar nya ingin mempercayai Alin namun ia ingin meyakinkan semua nya dulu, ia juga kesal pada kakak nya karna dengan mudah nya ia mempercayai pria itu, hari ini ia sudah membentak dua orang wanita yang ia sayangi, ia sudah membuat mereka menangis, Raffan harus nya bisa mengontrol diri nya tadi, ia menyesal.


"Aaaagghhhh" Teriak Raffan memijat kening nya yang terasa pusing.


"Harus nya aku tidak meragukan nya.." Lirih Raffan pelan


Wanita itu pasti sedang menangis dikamarnya, pikir Raffan!


Alin sedang mengemasi semua barang-barang nya, ia memasukkan semua baju-bajunya ke dalam koper, Alin tidak akan membawa pakaian yang sudah di belikan oleh Raffan! percuma saja dia tetap disini, suami nya sendiri meragukan nya padahal Raffan satu-satunya harapan Alin bertahan, dan kakak ipar nya! Ah.. percuma saja ia menjelaskan panjang lebar toh kakak iparnya lebih memilih percaya pada suami nya.


Perjanjian pernikahan itu hanya tinggal beberapa hari lagi, mungkin lebih baik ia mengakhiri semua nya lebih cepat, Alin ingin menemui suami nya dulu setidak nya ia ingin Raffan tahu kalo ia mencintai nya, ia sudah berjanji akan mengungkapkan perasaan nya setelah Raffan pulang dari surabaya namun kemarin ia belum sempat mengatakan apa-apa karna kejadian buruk itu.


"Seperti nya tadi Raffan pergi ke kamar tamu, mungkin dia mau istirahat disana.." Ucap Alin pelan


Alin menyeret koper nya menuju kamar tamu yang letak nya berada disebelah ruang kerja suami nya, Alin membuka pintu kamar itu dengan pelan syukurlah pria itu tidak mengunci nya.


Alin masuk dan mendapati suami nya yang sedang tertidur diranjang, ia menghampiri suami nya dengan langkah pelan dan hati-hati, ia tidak ingin mengganggu tidur suami nya.


Alin mendekat ia menatap wajah suami nya yang mungkin esok hari ia tidak bisa menatap wajah itu lagi, Alin mendekap mulut nya agar tidak mengeluarkan suara tangis nya, dada nya naik turun karna sesak.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2