
"Tuan permisi ada pak Reyhan didepan" salah satu pelayan menghampiri Raffan ke meja makan
"Suruh masuk aja" Perintah Raffan
"Baik tuan"
"Selamat malam pak, maaf saya mengganggu makan malamnya" Ucap sekertaris Raffan
"Saya sudah selesai, kamu ke ruang kerja saya sama mas Bram" Raffan pun bangkit dari duduk nya dan berjalan menuju ruang kerjanya.
"Mas mandi dulu ya Raf, nanti mas nyusul" Ucap Bram
"Ya"
"Yaudah mas biar aku siapin air hangat nya" Ujar Anya
"Iya sayang makasih" Jawab Bram
"Alin tolong buatkan kopi" Perintah Raffan ketika hendak menaiki tangga.
"Baik pak" Ucap Alin
"Loh kok manggilnya pak kaya sama bos aja" Ucap Anya heran
"Eumm maksudnya mas, biasa dikantor soalnya hehe" Alin nyengir
Anya tersenyum menggelengkan kepalanya.
Raffan melanjutkan langkahnya menuju lantai atas ruang kerja nya ada disebelah kamarnya, sekertarisnya mengekor dari belakang.
"Yaudah mbak duluan ke kamar ya, mau nyiapin air hangat buat mas Bram" Ucap Anya pada Alin
"Iya mbak" Jawab Alin.
Alin terkekeh 'Kok geli ya manggil Raffan dengan sebutan mas' Ucap Alin dalam hatinya.
Alin ke dapur membuatkan kopi untuk Raffan, dia juga menyiapkan minuman dan cemilan untuk sekertarisnya tentu untuk Bram juga dia mengantarkan nya keruang kerja Raffan.
"Kita akan meeting soal proyek baru kita yang disurabaya" Raffan memulai pembicaraan.
"Aku rasa aku akan menyerahkan proyek ini pada mas" Raffan menoleh ke arah Bram.
"Aku mau mas yang handle semua proyek ini" Ucap Raffan lagi
"Rey, kamu udah siapkan semua berkasnya kan"
"Sudah pak semuanya sudah beres"
"Tapi bukannya waktu itu kamu bilang kamu yang akan terjun langsung untuk mengurus proyek ini" Ucap Bram
"Iya mas tapi aku berubah pikiran, aku pikir mas juga bisa menghandle nya" Raffan mengesap kopi buatan istrinya.
"Tapi kenapa, kok tiba-tiba banget" Tanya Bram
"Aku gak bisa pergi ke surabaya, apalagi proyek ini memerlukan waktu yang cukup lama"
"Aku baru aja menikah masa harus meninggalkan istriku ke luar kota, aku juga mau honeymoon" Raffan tersenyum miring sengaja ingin memanas-manasi iparnya.
"Mas bisa menghandle proyek ini tapi apa mbak kamu akan setuju ditinggal ke Surabaya" Ucap Bram.
"Mbak pasti setuju dia tau alasan aku pasti dia mengerti, mas juga bisa pulang seminggu dua kali sabtu dan minggu" Ujar Raffan.
Terlihat Bram hanya terdiam memikirkannya.
"Terlepas mas setuju atau tidak ini sudah jadi keputusan aku" Ujar Raffan kembali
"Iya mas setuju" ucap Bram dia tidak punya pilihan.
Raffan tersenyum dia tidak sembarang menunjuk orang untuk menghandle proyek baru nya karna ini proyek besar, Kinerja Bram cukup baik jadi dia tidak perlu ragu terlebih lagi Raffan ingin menjauhkan Bram dari Alin.
"Rey kamu siapkan tiket keberangkatannya lusa" Ucap Raffan pada sekertarisnya.
"Siap pak"
"Besok mas boleh libur dulu, lusa baru berangkat ke surabaya"
Bram hanya mengangguk dia tidak bisa menolak walaupun dia sudah menjadi suami kakaknya Raffan tetap tidak bisa dibantah karna jabatannya lebih tinggi.
"Oke meeting selesai sampai disini"
Bram bangkit dari duduk dan meninggalkan ruang kerja Raffan.
"Yasudah pak saya permisi pulang ya" ucap Reyhan sekertarisnya
"Iya kamu tetap awasi dia disana, kirim orang untuk mengawasi nya nanti"
"Baik pak"
"Kalo begitu saya pamit"
"hmm"
Sekertarisnya pergi meninggalkan ruang kerjanya dan pulang.
"Loh mas kok mukanya kusut gitu" Anya mendapati wajah suami yang tampak tidak bersemangat.
"Lusa mas harus ke surabaya" Ucap Bram lesu
"Owhh"
"Kok oh doang sih mas lama loh disana pulangnya seminggu dua kali"
"Iya Raffan udah ngomong ko sama aku"
"Terus kamu setuju"
Anya mengangguk
"Yaudahlah Gpp mas kamu tau sendiri selama ini dia selalu bolak balik kalo ada kerjaan ke luar kota, dia itu orangnya gak gampang percaya sama orang makanya dia selalu handle semua sendiri"
"Raffan menyuruh kamu artinya dia percaya sama kamu" Ucap Anya lagi
"Ini bukan soal percaya atau tidak, emang kamu sanggup jauh-jauh dari mas"
"Nanti mas kayak bang Toyib loh ga pulang-pulang" Ucap Bram lagi
"Kasih dia waktu mas, dia baru aja nikah mungkin mau menghabiskan banyak waktu sama istrinya" Pungkas Anya
__ADS_1
"Hmm iyadeh" Bram mengerucutkan bibirnya
"Sabar ya Raffan bilang paling lama cuma sampe tiga bulanan" Ucap Anya menyemangati suaminya.
"Iya tapi kitakan gak biasa LDR an" Ucap Bram cemberut
"Demi calon keponakan kita"
"Keponakan" Ucap Bram tidak mengerti dengan.
"Iya biarin aja Raffan sama Alin honeymoon biar mereka bisa cepet ngasih kita keponakan" Ucap Anya antusias.
Anya tidak sabar ingin segera mempunyai keponakan pasti rumah ini akan tambah rame, Anya tersenyum membayangkan nya.
"Emm sayang"
"Menurut mas kamu gak usah terlalu percaya sama Alin" Ucap Bram pada Anya
"Kenapa dia baik kok" Ujar Anya
"Keliatan aja dia polos dan lugu coba kamu pikir deh apa ada wanita baik-baik mau diajak tidur di hotel" Ucap Bram mencoba mempengaruhi istrinya
"Aku juga gatau sih mas, tapi Alin kelihatan baik ko" Ucap Anya
"Mas yakin dia itu cuma mau ngincar harta Raffan doang, Alin tuh cuma OB loh mana mungkin Raffan bisa tertarik kalo Alin gak menggoda Raffan" Ucap Bram meyakinkan Anya
Anya tampak berpikir
"Ah masa sih mas" Ucap Anya tak percaya.
"Mas cuma ngasih tau jangan terlalu percaya aja, jangan tertipu sama tampang polosnya" Ucap Bram mengingatkan
Anya terdiam memikirkan ucapan suaminya.
Bram menyeringai tampak istrinya mempercayai ucapan.
Bram masih gak terima Alin menikah dengan adik iparnya, dia jadi lebih susah untuk mendekati Alin.
Alin terbangun dari tidurnya dia memegang tenggorokannya yang terasa kering, Alin melirik jam menunjukkan baru pukul dua dini hari.
Alin pun beranjak dari sofa ya karna mereka tidak tidur seranjang, Alin melirik ke arah Raffan yang sedang tertidur pulas.
Alin berjalan ke arah dapur untuk mengambil air minum, Ali menegak segelas air putih menghilangkan rasa haus.
"Alin" Suara seseorang memanggil nya dari belakang
Alin terkejut hampir saja dia menjatuhkan gelasnya, Alin menoleh ke asal suara itu.
"Kebetulan kamu disini" Ucap orang itu dia melirik ke arah sekitar yang dia rasa cukup aman.
Orang itu mendekat ke arah Alin, Alin buru-buru pergi meninggalkan orang itu namun tangannya malah dicekal.
"Mas lepasin" Alin mencoba melepaskan pergelangan tangannya yang dicekal oleh Bram.
"Mau apalagi sih kamu"
"Mas mau kamu Lin" Ucap Bram dengan nada berbisik
"Udah gila kamu mas" Ucap Alin kesal
"Mas lepasin sakit" Alin meringis melihat pergelangan tangannya yang mulai memerah.
"Kenapa kamu tega sih sama mas, kamu mau-maunya aja dibawa ke hotel sama Raffan"
"Kalo kamu butuh kehangatan kamu kan bisa datang ke mas, mas bisa memuaskan kamu" Ucap Bram menyeringai.
Alin menatap Bram tak percaya, Bram menganggap seolah-olah dia adalah wanita murahan.
Alin menggigit tangan Bram dengan kuat
Ahk...
Bram meringis lalu melepaskan cekalannya..
"Aku benci sama kamu mas" Alin menatapnya dengan tajam lalu buru-buru pergi meninggalkan Bram
Alin kembali ke kamarnya dia menitikan airmatanya melihat pergelangan tangannya yang terasa sakit, tapi lebih sakit lagi perkataan Bram yang sudah merendahkan nya.
Alin menghapus air mata nya dan kembali berbaring disofa.
"Darimana kamu" Suara bariton itu mengagetkan nya.
Alin bangun dan menatap ke arah Raffan, pria itu sedang bersandar di dinding ranjang sedang menatap nya kenapa Alin tidak sadar tadi.
"Ngambil minum" Jawab Alin dengan suara serak
"Kenapa"
"Kenapa? Aku gakpapa" Alin menghapus sisa airmatanya.
"Tidur! jangan nangis malem-malem" Ucap Raffan yang kembali berbaring
Alin mengangguk dan kembali berbaring disofa nya.
Untung saja Raffan tidak melihat Alin bersama Bram tadi didapur kalo tidak dia pasti akan salah paham lagi, dan Alin yang akan selalu disalahkan.
Pagi-pagi Alin sudah bangun dan membantu kakak iparnya membuat sarapan setelah selesai dia kembali ke kamar untuk mandi, dia melihat Raffan sudah berpakaian rapih tengah memakai dasi.
"Mas hari ini kamu ke kantor" Raffan menoleh ke arah suara yang pertama kali memanggilnya dengan sebutan mas'
"Iya" Jawab Raffan singkat.
"Aku mau izin main kerumah bibi boleh ngga"
"Hmm terserah"
Alin tersenyum lalu mendekati Raffan.
"Sini aku pasangin" Alin meraih dasi Raffan dan membantu memasangkan nya.
Raffan membiarkan nya dia bisa melihat wajah Alin dari dekat kenapa dia sangat cantik walaupun belum mandi, Ucap Raffan dalam hati.
Raffan tersadar dari lamunannya dia mendorong bahu Alin.
"Kamu belum mandi bau bawang" Raffan pura-pura menutupi hidungnya
Alin pun mencium aroma tubuhnya sendiri
__ADS_1
"Aku kan abis masak, yaudah aku mandi dulu kamu duluan aja ke bawah" Alin melonggos pergi ke kamar mandi.
"Siapa juga yang mau nungguan disini"
Raffan turun ke bawah menuju meja makan dia sudah lapar masa bodo dia akan sarapan duluan menunggu Alin pasti lama.
Tidak bisa dipungkiri masakan Alin memang enak sama seperti masakan kakaknya, Raffan melahap nasi goreng seafood buatan istrinya.
"Dek mana istri kamu" Tanya Anya yang baru bergabung dimeja makan.
"Masih mandi" Raffan melahap lagi nasi gorengnya itu.
"Kok ga ditungguin" Tanya Anya lagi
"Aku buru-buru ada meeting pagi" Raffan meneguk air minum nya.
"Aku duluan ya mbak" Ucap Raffan pamit pada kakaknya.
Anya menatap heran adiknya itu dia hanya menggelengkan kepalanya.
"Pagi sayang" sapa Bram lalu duduk di kursi meja makan.
"Pagi juga mas" Ucap Anya tersenyum
"Kok cuma berdua aja mana Raffan sama Alin" Tanya Bram.
"Raffan udah berangkat ke kantor, Alin masih dikamarnya" Jawab Anya sambil menyedokkan nasi ke piring milik Bram.
Bram hanya meng 'Oh' kan saja.
"Oya nanti tolong bantu mas packing barang-barang ya"
"Iya mas"
"Hari ini mas libur kita bisa Quality time"
Anya hanya tersenyum mendengar ucapan suaminya.
Anya mendapati Alin yang yang baru turun dari atas sedang berjalan ke arahnya.
"Udah rapih mau kemana" Tanya Anya
"Mau kerumah bibi mbak" Jawab Alin matanya mencari sosok Raffan namun tak ada.
"Raffan udah berangkat ke kantor tadi, dasar anak itu bukannya pamit dulu ke istri" Anya menggeleng mengerutui adiknya.
"Yaudah kamu sarapan dulu" Titah Anya
Alin merasa kecewa Raffan tidak menunggunya dia melirik ke arah Bram.
'Malas sekali sarapan bareng dia' Ucap Alin dalam hatinya.
"Alin udah ditunggu bibi mbak, nanti mau sarapan disana" Ucap Alin bohong.
"Alin pamit sekarang ya Assalamualaikum" Ucap Alin pamit
"Walaiqumsalam yaudah hati-hati salam buat bibi kamu ya" Jawab Anya.
"Iya mbak"
.
.
.
Sesampainya didepan pintu rumah bibi Alin mengetuk pintu rumah itu namun sudah beberapa kali Alin mengetuk-ngetuk tidak kunjung ada jawaban sepertinya rumah itu sedang kosong, Alin memutuskan untuk mengambil handphone nya didalam tas lalu menghubungi seseorang.
"Hallo"
"Hallo gun kamu dimana" Tanya Alin lewat sambungan teleponnya.
"Aku dikantor, kenapa emangnya" Jawab guna.
"Aku ada didepan rumah kamu, bibi kemana kok sepi dirumah gak ada siapa-siapa" Tanya Alin lagi
"Emm itu"
"Itu apa gun" Tanya Alin penasaran.
"Bunda pergi ngejenguk paman" Jawab guna
"Maksud kamu bibi ke kampung" Tanya Alin lagi
"Iya emang kamu gak dikasih kabar kalo paman sakit" Ucap guna.
"Apa jadi bapak sakit" Alin tampak mulai khawatir.
"Iya emang kamu gak tau" Tanya guna masih lewat sambungan teleponnya.
"Enggak, yaudah makasih ya gun kamu udah ngasih tau aku" Ucap Alin matanya tampak berkaca-kaca.
"Iya kamu nyusul aja kesana, maaf aku belum bisa jenguk" Ucap guna
"Iya gun yaudah aku tutup dulu ya"
Alin menutup teleponnya dia tampak sedih karna tidak ada yang mengabarinya soal kondisi bapaknya, Apa ibunya masih marah? pikir Alin dalam hatinya.
Alin memutuskan akan pergi ke kampung dia khawatir dengan kondisi bapaknya, namun Alin akan ijin pada suaminya terlebih dahulu.
Alin berdecak kesal dalam hati 'Aku belum punya nomernya gimana aku bisa menghubungi dia'.
Alin memutuskan akan ke kantor Raffan saja baru setelah itu dia pergi ke kampungnya.
.
.
.
.
.
tbc
Makasih ya buat yang udah baca karya pertama aku jangan lupa like dan komennya🥰🥰🥰
__ADS_1