
Cinta memang datang tanpa diduga tanpa diundang tanpa alasan tanpa memberitahu ia hadir begitu saja, seperti seorang wanita yang tengah melamun sembari menopang dagu dengan kedua tangannya sikunya ia gunakan untuk menopang meja, sepertinya wanita itu tengah dimabuk cintanya.
"Apa dia punya perasaan yang sama sepertiku" Guman Alin dalam lamunannya.
"Heh kenapa melamun!! nanti kesambet loh" Tegur guna tiba-tiba muncul
"Ganggu aja!"
"Pasti lagi ngelamun in pak bos"
"Sotau kamu!"
"Cieee.. " Goda guna. "Oya gimana kabar ibu kamu dikampung"
"Baik kok, aku sering Vidio call an sekarang ibu sibuk ngurusin warung sembakonya"
"Ibu kamu punya warung sembako"
"Iya dimodali sama suami aku"
Ya ibunya Alin mempunyai warung sembako yang dimodali oleh Raffan setelah Bapaknya Alin meninggal Raffan tidak mau mertua nya itu kesusahan dikampung, mengingat mertuanya itu tidak mau diajak tinggal bersamanya, sekarang warung itu sudah berkembang dan ibunya sudah memiliki beberapa karyawan yang membantunya disana.
"Alhamdulillah syukur deh"
"Iya ibu juga katanya pengen umroh tahun ini tapi masih ngumpulin uang nya dulu"
"Mudah-mudahan niat baiknya terlaksana ya"
"Aamiin, ini semua juga berkat Raffan"
"Ciyee yang muji suami pasti udah jatuh cintong" Ledek guna
Alin hanya tersenyum menanggapi ucapan sepupunya itu.
Berbeda dengan si pria dingin yang irit bicara itu dia seolah-olah tidak menyadari perbuatannya dia belum menyadari perasaannya sendiri, dasar memang laki-laki tidak peka kakaknya sendiri yang pernah mengatakan itu!
Ya pria itu belum menyadari bagaimana hatinya, ia juga heran kenapa setiap menatap wajah Alin dengan lama dia selalu refleks ingin menciumnya apalagi ketika melihat bibir wanita itu rasanya selalu menggodanya, padahal selama ini banyak wanita yang sering menggoda atau mendekati nya namun ia malah selalu biasa-biasa saja sama sekali tidak tertarik.
'Rasanya aku ingin buru-buru pulang kerja, aku ingin cepat berada dirumah ingin menghabiskan waktu bersama Alin dikamar walaupun tidak ngapa-ngapain' Raffan.
Alin tersenyum ketika Raffan membukakan pintu mobil untuknya, seperti biasa Raffan menjemput Alin dipinggir jalan yang jaraknya tidak jauh dari kantor tadi sedikit gerimis hingga membuat rambut Alin sedikit basah karna rintikan hujan.
"Kenapa lama sekali" Ucap wanita itu.
__ADS_1
"Iyaa maaf ya tadi aku ngecek seluruh laporan dulu.. cepet masuk!"
"Iya mas" Alin masuk kemobil
"Sampe rumah langsung mandi ya keramas, biar gak demam kamu abis kena gerimis" Raffan mengusap rambut istrinya yang sedikit basah dengan lembut
"Iya mas" tersenyum
Hati Alin berdesir kala mendapat perhatian tulus dari suaminya, Guna benar dia harus sabar yang sabar dia yang akan menang, ia ingin memenangkan hati suaminya sebelum datang waktu itu.
.
.
.
Hari berganti hari bulan berganti bulan tak terasa waktu semakin cepat berlalu hubungan Alin dan Raffan semakin membaik namun belum ada tanda hilal untuk Alin sampai saat ini ia masih tidak mengetahui isi hati suaminya, pria itu masih enggan berbicara soal perasaannya, Alin pun tidak ingin terlalu berharap mengingat sikap Raffan yang sering memberinya perhatian kadang suaminya juga begitu manis namun Alin tidak ingin menyalahartikan sikapnya.
Tak terasa waktu itu semakin dekat dua Minggu lagi usia pernikahan mereka memasuki tiga bulan itu artinya perjanjian pernikahan itu akan selesai, namun Alin masih berharap perpisahan itu tidak terjadi.
'Aku mencintai mu mas, semoga kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku' Ucap Alin membatin menatap wajah tampan suaminya.
'Aku akan menunggu cintamu sampai pada akhirnya waktu itu datang, aku akan siap terima apapun hasil akhirnya kalo memang kita ditakdirkan bersama ataupun tidak pasti itu yang terbaik buat kita berdua' Alin.
"Kenapa mas Bram ada dirumah?" Guman Raffan pelan.
"Kalian udah pulang" Tanya Anya ketika mendapati Alin dan Raffan memasuki rumah.
"Iya mbak" Jawab Raffan
"Alin kamu ikut ke kantor Raffan?" Tanya Bram
"Alin juga kerja mas" Ucap Anya
"Hah beneran?" Tanya Bram tak percaya
Alin malas sekali hanya sekedar bicara dengan pria itu kalo bukan karna ada kakak iparnya, ia lebih memilih tidak mau bertatap muka dengan pria itu namun ia masih menghargai kakak iparnya.
"Iya aku kerja lagi" jawab alin
"Kenapa mas pulang hari ini?" Tanya Raffan.
"Mumpung kerjaannya lagi gak banyak mas pulang dulu! proyek disana udah hampir rampung tinggal 75% lagi beres, selagi ada waktu senggang jadi mas pulang aja mungkin semingguan mas disini dulu, baru kesana lagi"
__ADS_1
"Yasudah" Raffan pergi ke kamar nya diikuti Alin.
Raffan tidak mempermasalahkan nya karna laporan kinerja Bram disana yang ia terima cukup baik! sebentar lagi proyek nya akan segera selesai ya Raffan membangun perusahaan baru disana.
"Sayang kenapa Raffan mengizinkan Alin bekerja" Tanya Bram pada istri nya.
"Aku juga gak tau mas"
"Biasanya suami akan melarang istrinya kerja apalagi Raffan kan direktur perusahaan"
"Yaudah biarin itukan kemauan nya",
'Besok seperti nya aku harus ke kantor' Guman Bram dalam hati
Aneh sekali kenapa Alin bekerja sementara suaminya sendiri pemilik perusahaan, masih banyak pertanyaan dibenak Bram tentang hubungan Alin dan juga Raffan, Sampai sekarang dia tidak mengetahui bagaimana Alin dan Raffan bisa Dekat? padahal dulu Raffan sempat mencurigai nya bersama Alin tidak mungkin kan tiba-tiba saja dia jadi menyukai Alin lalu menjadikan nya istri.
"Sepertinya besok aku harus meninjau langsung proyek aku disurabaya" Ucap Raffan pada istri nya
"Kamu mau ke Surabaya mas?"
"Iyaa sekalian aku mau bertemu beberapa kolega disana untuk membahas kerjasama baru"
Alin tampak tidak semangat mendengar nya!
"Lama gak?"
"Paling cuma dua hari"
Alin lemas mendengar nya karna baru kali ini ia akan ditinggalkan ke luar kota walaupun cuma dua hari dan lebih lemas nya lagi sekarang ada Bram dirumah, dia takut kalo tidak ada Raffan pria itu akan mengganggu Alin! belum apa-apa ia sudah merasa khawatir.
"Kenapa kok kaya gak seneng gitu?"
"Aku gakpapa kok mas"
"Oya si Doni itu sering ngechat kamu lagi gak?"
"Udah nggak, karna gak pernah aku bales"
Raffan tersenyum mendengar nya ternyata Alin tidak serius dengan ucapan nya waktu itu, ia mengusap lembut rambut istri nya.
"Yaudah sekarang tidur udah malem" Titah Raffan
Alin menganguk dan membaringkan tubuh nya Raffan mematikan lampu kamar nya lalu mencium kening istri nya, ya sekarang udah menjadi kebiasaan laki-laki itu mencium kening istri nya sebelum tidur.
__ADS_1