
Alin sudah menguap beberapa kali, dia terbiasa tidur dibawah jam 10 malam namun saat ini dia masih berusaha menahan rasa kantuknya, sampai akhirnya Alin benar-benar tidak tahan lagi dia tertidur dengan posisi duduk disofa ruang tamu.
Pukul 00.15 terdengar suara deru mobil Raffan yang baru saja pulang.
"Kenapa dia tidur disini" Ucap Raffan ketika mendapati istrinya yang tertidur diruang tamu
Raffan hendak menggendong Alin, namun ia urungkan ketika tubuh kecil itu menggeliat.
"Mas kamu udah pulang" Ucap Alin berusaha membuka matanya.
"Kenapa tidur disini"
"Aku nungguin kamu"
"Yaudah kita kekamar"
Alin menganguk berjalan mengikuti Raffan ke kamarnya.
"Kamu udah makan mas"
"Udah"
"Kalo mau mandi aku siapin air hangat ya"
"Nggak usah aku mau langsung istirahat aja"
Raffan membuka kemeja dan dasinya lalu berganti menggunakan kaos berwarna hitam dia menurunkan celana kerjanya yang sudah mengenakan boxer.
Lalu Raffan membaringkan tubuhnya diranjang membelakangi Alin.
"Mas" Panggil Alin
"hmm kenapa"
"Gakpapa, kamu tidur aja kalo capek"
Alin membaringkan tubuhnya disamping Raffan dan menatap punggung suaminya itu.
Raffan mengubah posisinya menjadi berhadapan dengan Alin.
"Ada apa katakan"
"Emm..." Alin menggigit bibirnya dia tidak tahu mau mengatakan apa.
"Apa masalahmu dikantor udah selesai mas"
"Aku sedang menangani nya"
"Mas boleh gak kalo aku kerja lagi dikantor"
"Kenapa kok tiba-tiba nanya gitu"
"Gak ada apa-apa, cuma nanya aja! Aku juga kan gak ada kerjaan dirumah ini"
"Nanti aku pikirin dulu"
Raffan kembali ke posisi semula membelakangi Alin.
Semenjak mereka tidur seranjang dirumah orang tua.. sekarang dirumah Raffan pun Alin tidak tidur disofa lagi, mereka tidur disatu ranjang yang sama karna permintaan Raffan sendiri, hanya sekedar tidur bersama tidak melakukan apa-apa termasuk melakukan hubungan suami-istri.
Alin merasakan sikap Raffan lebih baik padanya, dia tidak pernah menuduhnya lagi semenjak pria itu dikirim ke Surabaya oleh suaminya.
Alin berharap pria itu jangan dulu balik sebelum masa perjanjian pernikahan Alin selesai dengan Raffan.
Namun beberapa hari ini suaminya itu terlihat sangat sibuk bahkan tidak ada waktu untuk mengobrol lebih lama, membuat Alin merasakan kesepian.
Alin memberanikan diri mendekat pada Raffan, melingkarkan tangannya di pinggang suaminya dia memeluk Raffan dari belakang, bolehkan sebentar saja Alin ingin seperti ini? masa bodo dia tidak perduli Raffan menganggap dirinya seperti apa.. Yang dipeluk diam saja ia merasa suaminya itu memberi lampu hijau membiarkannya untuk memeluknya, Hingga keduanya terlelap kedalam mimpi masing-masing.
"Nghhhh...nghhh..." Raffan melenguh
Alin merasa terusik dengan suara itu ia membuka matanya melihat suaminya yang tengah mengigau.
"Jangan...jangan..." Raffan meracau dalam tidurnya
"Mas bangun mas...kamu mimpi buruk"
Alin merilik jam baru menunjukkan pukul 03.00 dini hari, Alin melihat wajah Raffan yang memucat dia menyentuh kening suaminya.
"Yaampun kamu demam mas"
Alin beranjak dari tempat tidurnya dia mengambil handuk kecil dan juga air guna mengompres kening Raffan, dia juga tidak lupa mengambil termometer.
"Panas kamu tinggi banget mas"
Alin ingin mencari obat namun dia tidak tahu dimana penyimpanan nya, Akhirnya dengan ragu ia pergi ke kamar kakak iparnya.
Tok tok
Alin mengetuk pintu kamar kakak iparnya.
"Mbak"
ceklek!
"Alin..ada apa" Tanya Anya dengan wajah yang masih mengantuk.
"Emm..ituu.. mbak ada obat? mas Raffan demam"
"Raffan demam?"
"Iya mbak"
"Yaudah kamu kembali ke kamar, nanti mbak bawain Paracetamol"
Alin menganguk lalu kembali ke kamarnya tak lama Anya datang dengan membawa nampan berisi obat dan juga air minum.
"Ini kamu kasih dulu obatnya"
Alin meraih obat itu dan memberikannya pada Raffan.
__ADS_1
"Mbak aku takut" Ucap Raffan ketika melihat kakaknya.
"Mbak jangan kemana-mana, temenin aku" Ucapnya lagi.
"Iya iya dek, kamu tenang aja ada Alin yang nemenin kamu, sekarang tidur lagi ya"
"Mbak apa perlu dibawa ke dokter"
"Mbak udah hubungi dokter, nanti kesininya pagi-pagi"
Alin menganguk dan kembali mengompres kening suaminya.
"Kamu temenin Raffan aja ya, dia itu suka mimpi aneh-aneh kalo lagi sakit mungkin bawaan demam juga"
"Iya tadi juga ngigo terus"
"Emang gitu dia kalo lagi sakit .. untung sekarang udah punya istri ada yang ngurusin"
Anya membantu Alin mengompres Raffan.
"Kamu tau gak biasanya Raffan kalo sakit tidur aja minta ditemenin sampe-sampe mbak tidur bertiga sama mas Bram diranjang ini nemenin dia"
"Manjanya minta ampun gamau ditinggal sebentar kaya anak kecil hehe.. untung mas Bram pengertian dia tau gimana adik iparnya ini" Ucap Anya lagi.
Alin hanya tersenyum mendengar ucapan kakak iparnya.
Pukul 06.30 dokter sudah datang memeriksa Raffan tak lupa dia juga memberikan resep obat.
"Alin ini mbak buatin bubur.. suapin ya abis itu kasih obat yang dari resep dokter"
Ucap Anya membawa nampan buburnya.
"Iya mbak makasih ya"
Anya mengangguk lalu dia pamit keluar kamar, Alin dengan telaten menyuapi Raffan.
"Udah"
"Baru juga tiga suap mas"
"Pait"
"Ya namanya juga lagi sakit, paksain aja biar cepet sembuh"
"Gak mau, aku maunya makan buah aja tolong kupasin apel"
'Cih! Ternyata bener-bener manja' ucap Alin dalam hati.
Alin mengupas Apel dan Raffan hanya makan beberapa potong saja.
"Habis ini minum obatnya terus istirahat"
"Hmm"
"Hoaammm" Alin menguap.
"Iya mas.. belum tidur lagi dari semalem"
"Yaudah sini tidur bareng aku" Raffan menepuk tempat tidur yang kosong.
Alin mengangguk lalu dia berbaring disamping Raffan memiringkan posisinya menghadap suaminya, Raffan menyamakan posisinya juga agar saling berhadapan lalu ia menyelusup kan wajahnya didada Alin memeluk tubuh wanita itu.
"Bolehkah seperti ini" Tanya Raffan
"Heem..boleh mas"
"Terimakasih"
"Sama-sama" Alin mendekap suaminya mengusap rambut Raffan lembut.
Alin dapat merasakan hembusan nafas Raffan dilehernya, sangat nyaman berada di posisi seperti ini menurutnya
"Kamu yakin mau kerja lagi" Tanya Raffan
"Iya.. boleh gak" jawab Alin
"Alesannya" Tanya Raffan lagi
"Setidaknya nanti kalo kita udah pisah, aku masih punya pekerjaan"
Raffan merasa tidak senang mendengarnya namun itu memang perjanjian yang sudah dibuat nya.
"Nanti kalo kita udah pisah kita masih bisa berhubungan baik kan mas? setidaknya kita bisa berteman"
"Kenapa jadi ngebahasnya soal pisah sih"
"Hehe.. kenapa kamu gak seneng dengernya, atau jangan-jangan kamu emang gak mau pisah" Ucap Alin mencairkan suasana.
'Sebenernya aku juga gamau membahas itu sangat sakit apalagi membayangkan nya' Alin membatin.
"Bukan saatnya ngebahas itu, lagian masih lama kita nikah aja belum ada satu bulan"
"Aku pikir kamu mau berubah pikiran" Guman Alin pelan.
"Ngomong apa kamu"
"E..enggak ituu..jadi gimana aku boleh kerja lagi"
"Emm.. yaudah boleh tapi mulainya kalo aku sudah sembuh tugas kamu sekarang merawat aku"
"Iya bayik gede"
"Apaa"
"Hehe.. canda ko" Alin nyengir walaupun sebenarnya itu tidak lucu.
"Yaudah tadi katanya ngantuk"
"Hemm.. iya"
__ADS_1
Alin dan Raffan mulai memejamkan matanya berpindah pada alam mimpi masing-masing.
.
.
.
Sementara Anya tengah memasak didapur hari ini adalah hari weekend itu tandanya suaminya akan pulang.
Wajahnya terlihat memasang senyuman cerahnya dia memasak masakan kesukaan suaminya Ayam goreng kecap, sambel, dan tumis kangkung.
"Yes udah siap semuanya" Ucap Anya ketika masakan sudah matang semua dan tinggal disajikan dimeja makan.
"Begini rasanya LDR an ada rasa rindu dan ada rasa bahagia ketika akan menyambutnya pulang" Ucap Anya senyam-senyum sendiri.
Anya memang sangat mencintai suaminya dia sangat percaya pada suaminya itu, karna menurut Anya Bram itu pria yang baik dan tulus mau menerima kekurangan dia.
Jika dilihat dari secara pisik Anya itu wanita yang sempurna.. dia selalu merawat diri, tubuhnya tinggi bak model sangat body goals, kecantikan nya yang Alami selalu membuatnya terlihat tidak seperti umurnya.. namun kekurangan nya hanya satu dia tidak bisa memiliki keturunan.
Walaupun tidak bisa memiliki anak Namun sifatnya itu sangatlah ke Ibuan.
Anya sangatlah bersyukur setidaknya dia masih diberi kesembuhan, setelah melawan penyakitnya dulu.
Saking Asyiknya melamun Anya tidak sadar kalo ada seseorang yang tengah melingkarkan tangan di perutnya memeluk ia dari belakang.
Cup!
Orang itu mengecup pipinya.
"Ngelamunin apa sih? sampe gak sadar suaminya pulang"
"Loh mas kapan dateng"
"Baru aja"
"Sayang...mas kangen" Ucap Bram mengecup leher istrinya.
"Aku baru selesai masak.. belum mandi hehe"
"Kamu itu tetap wangi walaupun belum mandi" Ucap Bram kembali mengecup leher lalu menggigit kecil bahu istrinya.
Anya sedikit menggeliat.
"Kamu gamau makan dulu mas"
"Nanti aja maunya ke kamar dulu" Ucap Bram berbisik ditelinga istrinya.
"Hemm dasar"
"Mau mas gendong gak ke kamarnya" Bram mengedipkan matanya.
Tanpa minta jawaban Bram langsung membopong tubuh istrinya menuju kamar ia ingin segera menuntaskan hasratnya.
Anya pun sudah dilanda kerinduan hanya pasrah saja ketika suaminya itu mulai memberikannya serangan fajar.
"Euhhhh...mas" Desah Anya ketika suaminya itu mulai menyatukan tubuhnya.
Alin terbangun dari tidurnya dia merilik jam sudah pukul 16.00 sore.
Heh! dia terlalu nyaman tidur sampe bangun kesorean, Alin melirik kearah suaminya pria itu masih terlelap Alin menyentuh kening Raffan.
"Syukurlah demam nya sudah turun"
"Aku belum masak"
Alin beranjak dari posisi nya hendak pergi.
"Mau kemana" Raffan menahan tangan Alin dengan posisi nya yang masih berbaring.
"Kamu udah bangun? aku mau bikinan bubur buat kamu"
"Kamu disini aja"
'Heleh kaya anak kecil banget gak mau ditinggal padahal demamnya udah turun', Ucap Alin dalam hatinya.
"Nanti mbak Anya nganterin makanan kesini, kamu jangan kemana-mana"
"Yaudah"
Raffan beranjak dari posisi nya.
"Temenin aku ke kamar mandi! aku mau buang air kecil takut kepeleset"
Alin melotot kan matanya.
"Emang kamu gak bisa sendiri apa"
"Tubuh aku masih lemes"
Bener-bener manja, benar kata Mbak Anya!
"Aku tunggu diluar ya" Ucap Alin ketika sudah sampai depan pintu kamar mandi.
"Kamu ikut masuk kedalam"
"Hah.. serius ini aku ikut nanti aku liat..." Ucap Alin dengan polos.
"Kamu merem aja!"
.
.
.
.
.
__ADS_1