
Akhirnya guna kembali ke acara dan membawa tas Alin yang ia temukan tadi, ketika guna kembali ke acara dia terkejut melihat bunda nya sendirian jadi kemana Alin.
"Loh bunda Alinnya kemana" tanya guna menghampiri bundanya.
"Bukannya kata kamu dia ke toilet" Bundanya menjawab
"Iyaa tadi pas disamperin ga ada siapa-siapa ditoilet, ini guna cuma nemuin tas nya aja, guna pikir dia udah kesini duluan" Jelas guna dia mulai khawatir
"Dia belum balik lagi gun" Ujar bundanya
Guna menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Bundanya terlihat mulai khawatir.
"Kemana Alin, gun" Bunda bertanya
"Guna juga gatau Bun, yaudah kita cari dulu sekitar sini" Ucap Guna
Guna dan Bunda nya mencari Alin, mereka sudah keluar hotel mungkin saja Alin keluar sebentar namun tidak ada, Guna tidak bisa menelpon ke ponsel Alin karna ponselnya ada didalam tas.
Mereka pun kembali ke acara pesta dan menanyakan kepada teman-teman bundanya yang sempat berkenalan dengan Alin tadi mungkin saja mereka melihatnya, namun hasilnya nihil.
"Apa jangan-jangan" Guna tampak berpikir
"Jangan-jangan apa" Bundanya Guna mulai panik
"Ayo bunda ikut aku" Ajak Guna menarik tangan bundanya
Guna meminta bantuan kepada salah satu pegawai hotel untuk meminta kunci cadangan karna tidak mungkin kan dia akan mendobrak kamar hotel, walaupun sempat menolak pegawai itu karna itu hal privasi dia takut tamu nya merasa terganggu dan tidak senang, namun guna sudah menjelaskan semuanya akhirnya dengan panjang lebar pegawai itu mau membuka kan pintu kamar itu dengan kunci cadangan.
Flashback off
"Apa yang sedang kalian lakukan" Teriak bibi Alin
"Bibi ini tidak seperti yg bibi lihat" Alin menarik selimut itu sampai menutupi dadanya.
'Loh pak bos' Guna menimpal dalam hati dia merasa kaget dengan apa yg dia lihat 'Alin bersama pak bos' pikir guna dalam otaknya
"Pokonya bibi gamau tau kalian harus dinikahkan, apa yang akan bibi katanya pada orang tua mu Alin" Bibi nya masih berteriak
"Tapi bibi, dengerin dulu penjelasan Alin"
Alin mencoba membela dirinya
"Ga ada yg perlu dijelasin semuanya sudah jelas kalian bukan suami istri sudah berani berdua-duaan didalam kamar dan kemana pakaian mu Alin" Bibinya tampak begitu kecewa dengan apa yg dia lihat.
Alin menggeleng
"Pak tolong jelaskan, bapak jangan diem aja" Ucap Alin pada Raffan
Raffan tampak terdiam, sangat sial tadinya dia yang mau menggerebek Alin dan Bram malah dia yang kena gerebek.
Raffan mengusap wajahnya kasar, dia menggaruk keningnya yang tidak gatal.
Lalu Raffan tampak menyeringai, Alin yang melihat raut wajah Raffan yang berubah mulai merasakan hawa tidak enak.
"Ibu tidak perlu berteriak saya akan bertanggung jawab, saya siap menikahi Alin" Ucap Raffan tanpa meminta persetujuan dari Alin.
Alin membulatkan matanya tak percaya.
"Bun, seperti nya bunda sudah salah paham" Guna tampak menimpal dia seperti mengerti dengan apa yang terjadi, Guna tahu ini bukan dasar saling suka.
"Kamu diam saja Guna, apapun alasannya mereka sudah mau melakukan hal yang tidak seharusnya dan mereka harus segera dinikahkan" Jawab Bundanya tegas
"Saya bersedia menikahi Alin malam ini juga" Raffan tampak serius dengan ucapannya.
"Bapak apa-apaan sih, kenapa jadi begini" Alin tidak terima
"Sudahlah kamu diam saja percuma saat ini kita membela diri" Ujar Raffan
Malam itupun Alin dinikahi secara siri oleh raffan, Orangtua Alin yang diberi kabar melalu sambungan telepon tampak kecewa mendengar kabar itu, mereka menyuruh Alin untuk langsung menemui mereka dikampung selesai acara ijab kabul.
Raffan langsung mengantar Alin ke tempat Orang tuanya, diperjalanan Alin diam saja dan hanya menangis meruntuki nasibnya.
Apa yang akan dia katanya pada Orangtuanya mereka sudah pasti sangat marah, selama ini Alin dididik sangat baik oleh kedua Orangtuanya.
Alin gak pernah kepikiran dalam waktu semalam dia sudah menjadi istri orang dan harus menikah dengan cara begitu sangat memalukan.
Alin menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Alin telah sampai dikediaman orang tuanya, rumahnya tampak begitu sederhana namun terkesan sangat rapi dan nyaman untuk ditinggali.
Tok tok tok
"Assalamualaikum" Alin mengucapkan salam.
"Walaiqumsalam" Ibu Alin menjawab sambil membukakan pintu.
Alin hendak meraih tangan ibunya untuk memberikan salam, namun ibunya langsung menepis.
Alin seakan mengerti dengan perasaan Ibu nya saat ini.
"Bu" Lirih Alin matanya mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
"Alin minta maaf Bu, Alin bisa jelasin semuanya" Ucap Alin
"Sudahlah ibu meminta kamu datang kesini untuk menyuruh mengemasi barang-barang kamu disini yg masih tertinggal" Tegas ibunya to the poin
"Bu, apa maksud ibu" Tatap Alin tidak percaya
"Ibu tidak pernah mengajari anak seperti itu, sudahlah kamu ngerti maksud ibu! cepat kamu bawa semua barang-barang kamu dari sini, kamu akan tinggal sama suami mu kan" Ibunya berusaha untuk tidak melihat ke arah Alin.
"Bu maafin Alin, ini tidak seperti apa yg ibu pikir kita bicarin ini baik-baik ya Bu"
Alin masih berusaha menggapai tangan ibunya namun lagi-lagi ditepis, ibunya tampak berkaca-kaca namun tetap tidak mau melihat ke arah Alin.
"Sudahlah cepat kamu pergi dari sini, jangan pikirin ibu sama bapak lagi" Ibu Alin mengusirnya
Ibunya alin melempar barang-barang Alin yg sudah ia kemas sebelumnya ke depan pintu lalu menutup nya.
Raffan hanya diam saja melihat itu, dia tidak mau perduli dengan Alin walau sebenarnya ada sedikit rasa kasihan.
"Bu ibu tolong dengerin dulu penjelasan Alin" Alin mengetuk-ngetuk pintu rumahnya sambil menangis.
"Bu.. bukain pintunya Bu alin mohon" Alin berisut jatuh kebawah.
"Udahlah ayo kita pulang aja" Raffan tampak tidak perduli dengan permasalahan Alin dan orang tuanya.
Alin masih terus mengetuk pintu rumahnya.
"Bu tolong izinkan Alin ketemu bapak sebentar aja" Alin masih memohon didepan pintu
"Sebentar aja bun Alin mohon, Alin janji setelah ini Alin akan pergi" Alin mengiba setidaknya dia ingin meminta maaf kepada bapaknya dulu.
Ceklek
Ibunya Alin membukakan pintu tampak bapaknya Alin dengan kursi rodanya.
"bapak" Alin langsung bersimpuh dikaki bapaknya.
"Maafin Alin pak, alin sudah mengecewakan kalian semua" Alin meraih tangan Bapaknya.
"Bapak jaga kesehatan ya jangan pikirin Alin, Alin pasti akan baik-baik aja" Alin mencium tangan bapaknya.
Rasanya Alin ingin sekali memeluk kedua orang tua nya, namun Alin sadar saat ini orang tuanya sedang kecewa terhadap dirinya, Ibunya pun masih enggan untuk menatapnya.
"Alin pamit dulu ya Bu pak, Assalamualaikum" ucap Alin sambil mengusap airmatanya.
Raffan pun berpamitan pada kedua orang tua Alin dan mengucapkan kata maaf.
Ketika Alin sudah pergi ibunya tak kuasa lagi menahan air mata yang ia tahan sedari tadi, antara sedih melepas kepergian Alin dan juga rasa kecewa terhadap perilaku anaknya.
Diperjalanan pulang Alin kembali diam dan hanya menangis, percuma saja dia ingin marah toh semuanya sudah terjadi dan yang Alin ingat ini semua terjadi karna keegoisan Raffan.
"Kamu sudah puas sekarang" Alin memulai pembicaraan tidak ada lagi panggilan hormat kepada bos nya yang kini sudah menjadi suami sah nya dimata agama.
"Bukan seharusnya kamu senang" Raffan tampak mengejek.
"Apa mau kamu sebenernya" Alin sudah kesal dengan semua perlakuan Raffan.
Raffan tersenyum jahat
"Sudahlah aku capek, nanti saja kita berdebatnya"
Alin menggeram kesal dengan Raffan bisa-bisanya dia menganggap enteng semua masalah ini.
Mobil Raffan sudah memasuki gerbang rumahnya yang terlihat begitu megah halaman nya begitu luas dan banyak tanaman hias didepannya ada kolam-kolam kecil untuk ikan juga.
"Mulai sekarang kamu tinggal disini, disini aku tinggal bersama kakak perempuan aku dan kamu harus sopan sama dia" Raffan berucap sambil membuka stel belt nya.
"Ayo turun biar supir yang bawa barang-barang kamu" Ajak Raffan
Raffan dan Alin pun memasuki rumah itu disambut pelayanan-pelayan yang sudah berjajar disana.
"Selamat datang tuan" Kepala pelayan menyambut kedatangan Raffan.
"Hai nona" sapa para pelayan.
"Kenalkan dia adalah istriku" Raffan langsung memperkenal Alin, karna dia tipikal orang yang tidak bisa basa-basi langsung to the poin.
Para pelayan tampak terkejut dengan penuturan majikannya itu, tiba-tiba saja majikannya pulang membawa seorang istri, mereka tidak ada yang berani menjawab.
"Perkenalkan diri kamu" Titah Raffan
"Namanya saya Alin" Ucap alin menunduk
"Selamat datang ya nona Alin" Ucap pelayan
"Ayo masuk" Ajak Raffan
Alin mengikuti langkah Raffan dibelakang tampak para pelayan mulai berbisik-bisik dibelakang ketika sang majikan sudah agak menjauh, langkah kaki raffan terhenti ketika melihat seseorang berdiri dengan bersidekap lengan didada.
Karna Raffan berhenti secara tiba-tiba Alin yang tadi hanya mengekor dibelakangnya jadi menambrak punggung Raffan.
"Aww.." Alin memegang hidungnya
__ADS_1
"Raffan"
Alin mendengar suara perempuan memanggil nama suaminya, dia mendongkakan wajahnya menatap asal suara itu terlihat wanita cantik dengan gaya elegant nya rambutnya hitam Alis nya tegas mirip dengan alis Raffan, apa dia kakaknya Raffan? tanya Alin dalam hatinya
"Mbak, udah tau semuanya" Ucap wanita itu
Wanita itu terlihat mengeluarkan aura dingin sama seperti Raffan ketika sedang dikantor.
"Mbak, nanti Raffan jelasin semuanya" Jawab Raffan.
"Siapa namanya" Wanita itu malah bertanya.
Raffan menoleh ke arah Alin, seakan mengerti dengan maksud Raffan.
"Perkenalkan nama saya Alin" Ucap Alin menundukan wajahnya.
"Apa Raffan yang memaksamu" Tanya wanita itu lagi
Seperti nya kakak iparnya ini mengerti keadaan Alin.
"Mbak, nanti aja kita bicarain" Raffan menjawab
"Cukup Raffan..! mbak bener-bener kecewa dengan kejadian ini kalo kamu sudah punya pacar kenapa gak langsung kenalkan sama mbak, malah mbak harus mendengar dengan cara seperti ini" Ucap kakaknya itu dengan nada kecewa.
"Selama ini kamu selalu menghindar kalo ditanya soal perempuan, tapi dibelakang mbak kamu malah begini.!"
Raffan hanya diam saja membiarkan kakaknya itu bicara.
"Raffan"
"Ya mbak"
"Apa kamu sangat mencintai Alin" Tanya Anya pada Raffan
Deg
Aku harus jawab apa mana mungkin aku mengatakan iya didepan Alin, kakaknya tidak tahu sebenarnya yg terjadi.
"Jawab, apa kamu mencintainya" Kakaknya bertanya lagi
"Hmm.. ii..iya" jawab Raffan ragu
Raffan terpaksa meng Iya kan, Alin menatap raffan dengan heran.
"Walaupun begitu mbak tetap senang akhirnya kamu menemukan orang yang kamu cintai"
Wanita yang bernama Anya Andira Pramana itu mencoba mendekati Alin
"Kamu sangat cantik, pasti kamu juga baik" Anya mengusap rambut Alin lembut, Alin mencoba tersenyum manis.
"Kamu tau, kamu adalah perempuan pertama yang Raffan kenalkan ke mbak, kamu juga perempuan pertama yang Raffan bawa kerumah" Ucap Anya lagi
"Mulai sekarang kamu juga adik mbak, mbak minta sama kamu bahagia kan Raffan terus ya"
Alin hanya mengangguk ternyata kakak Raffan sangat baik dan lembut dia juga ramah tidak seperti adiknya yang menyebalkan, Alin merilik ke arah Raffan memutar bola matanya malas.
"Dan kamu Raffan mbak masih marah ya sama kamu" Anya menunjuk Raffan
"Lah kok gitu mbak"
Anya pun melonggos pergi meninggalkan Alin dan juga raffan ada rasa kecewa namun juga bahagia, adiknya yang selama ini ia kira akan terus membujang akhirnya menemukan cintanya juga.
Ia berjalan sambil senyum-senyum memikirkan dimana mereka bertemu dan berakhir saling jatuh cinta, Anya terkikik geli.
Raffan merebah tubuh diatas ranjang king size nya dia merasa lelah karena dari semalam belum istirahat, dia tampak tidak memperdulikan keberadaan Alin yang sudah menyandang status sebagai istrinya.
Alin menghembuskan nafasnya berat melihat sikap suaminya itu dia menghampiri Raffan.
"Aku mau bicara" Alin memulai pembicaraan
Raffan bangun dan duduk ditepi ranjang.
"Apa" jawab raffan sangat dingin sedingin es.
"Pertama aku ingin menjelaskan soal semalam"
"Aku tidak janjian ke hotel sama mas Bram apalagi berbuat yang tidak-tidak disana, Aku hanya ikut kondangan sama Bibi dan guna ke pernikahan anaknya teman bibi" Alin ingin menjelaskan semuanya sekarang.
"Dan semalam bapak sudah menuduh aku tanpa tau kejadian yang sebenarnya dan yang paling gak bisa aku terima bapak sudah mencoba melecehkan aku" Ucap Alin berteriak.
Alin menarik nafasnya sebelum berbicara lagi.
"Jadi lebih baik kita akhiri sandiwara ini sekarang juga, bapak bisa mentalak aku dan kita selesai sampai disini" ucap Alin dengan tegas
.
.
.
.
__ADS_1
.
tbc