
Alin berteriak dia sudah tidak tahan lagi dengan semua ini, terlebih lagi melihat sikap Raffan yg biasa-biasa saja seakan ini bukan masalah besar bagi nya.
Raffan berdiri menghampiri Alin, dia mencengkeram bahu Alin kuat dan menatapnya dengan tatapan tajam
"Tidak semudah itu" Ucap Raffan
Raffan tidak perduli dengan Alin yang meringis karena cengkraman nya.
"Kamu lihat tadi kakak ku langsung begitu menyukaimu, aku sudah membuat kakakku kecewa dengan kejadian ini dan aku tidak mau menambah nya" Raffan melepaskan cengkramannya dan mendorong tubuh Alin, Alin terhuyung sedikit ke belakang.
Raffan berdiri membelakangi Alin
"Itu salahmu sendiri, kamu yang memulai sandiwara ini" Alin tidak mau kalah dengan Raffan.
"Sudahlah kita gak usah berdebat"
"Kita buat perjanjian saja" Ucap Raffan lagi
"Kita jalani saja pernikahan ini sampai kurun waktu 3 bulan, kalo kita langsung bercerai kakak akan curiga"
"Aku juga akan tetap memberikan kamu nafkah, anggap saja itu gajih kamu dan kamu tidak perlu capek-capek kerja dikantor"
"Kalo aku tetap tidak mau bagaimana" Alin mendekap lengannya didada
"Kalo kamu tidak mau silahkan saja kita bercerai, tapi lihat apa yang akan aku lakukan terhadap keluarga mu" Raffan terlihat ingin mengancam.
"Oya bukannya sepupu kamu itu bekerja di perusahaan aku"
"Biar aku pecat saja dia, ku tulis nama dia didalam daftar hitam sehingga tidak akan ada perusahaan yg mau menerima dia bekerja" Raffan tersenyum jahat.
Alin menelan ludahnya Raffan sedang mengancam dirinya.
"Kamu mencoba mengancam aku" Ucap Alin
"Aku serius dengan ucapanku" Raffan menatap Alin tajam
Raffan terlihat tidak main-main dengan ancamannya, Alin takut apalagi guna dan bibi nya sudah sangat baik kepadanya. Alin tidak mau hanya karna dia guna kehilangan pekerjaannya terlebih lagi Alin tidak mau terjadi apa-apa dengan keluarganya.
Cih dasar bisanya mengancam mentang-mentang dia yang berkuasa!
"Oke"
"Tapi aku tidak mau menjalankan tugas sebagai seorang istri" Pungkas Alin
Raffan mengerti maksud Alin, dia tersenyum meremehkan.
"Aku juga tidak akan meminta hak ku, lagian aku tidak sudi menyentuhmu"
Cih bukannya semalam dia mencoba menyentuh Alin lalu apa katanya sekarang.
Tapi syukurlah Alin tidak perlu merasa khawatir.
"Oya, kamu kan selalu menuduh aku selingkuh sama mas Bram, sebenarnya apa hubungan kamu sama dia" Ucap Alin penasaran
"Nanti juga kamu tau sendiri"
"Udahlah ini kamu tidur di sofa" Raffan melemparkan bantal ke wajah Alin.
"Aku mau istirahat, jangan ganggu" Ucap Raffan langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang miliknya.
Alin mengambil bantal itu dia juga sangat lelah dia ingin istirahat tapi sepertinya dia ingin mandi dulu, Alin pun mengambil handuk didalam tas nya.
Dia juga akan membereskan baju-bajunya nanti saja.
"Aaaaaaa...." Alin berteriak baru saja dia keluar dari dalam kamar mandi tiba-tiba saja Raffan sudah berdiri didepan pintu, saat ini Alin hanya menggunakan handuk saja.
"Berisik ngapain sih teriak" Raffan menutup kupingnya
"Ngapain kamu didepan pintu, ngintip ya" Tanya Alin menuduh
"Ngapain juga aku ngintip, aku udah pernah melihatnya" Ucap Raffan santai
"Kamu baru lihat bungkusnya aja"
"Lagian aku ga penasaran sama tubuh kamu, minggir aku juga mau mandi"
"Dasar nyebelin"
Alin mendumel ketika Raffan sudah masuk ke dalam kamar mandi.
Raffan POV
__ADS_1
Alina Putri Azalea sekarang kamu sudah ada digenggaman tanganku dengan menjadikan kamu sebagai istri aku, lebih bisa mengawasi mu dan Bram Mu itu akan aku kirim jauh dari sini.
Cih mana mungkin aku membiarkan kalian tinggal satu atap, jangan harap!
Tapi tadi Alin bilang kalo semalam dia tidak bersama Bram lalu kenapa Bram ke hotel itu dan melakukan cek in?
Hugh aku tidak boleh percaya pada ucapan Alin begitu saja sebelum aku bisa membuktikan nya sendiri.
POV berakhir
Raffan merasa lebih segar setelah berendam air hangat dia keluar hanya menggunakan handuk saja.
'Cih Kemana dia'
Raffan mengedarkan pandangannya dia tidak melihat sosok Alin, mungkin dia keluar.
Raffan mengambil ponselnya terlihat dia sedang menghubungi seseorang.
"Hallo, gimana kamu udah lakuin apa yang saya suruh" Ucap Raffan ditelepon
"Sudah pak, semuanya aman" Jawab seseorang disana
"Bagus, pastikan tidak ada berita satu pun tentang saya"
"Baik pak"
"Pulang kerja kamu kerumah dulu, kita bicara in soal proyek baru yang disurabaya" Ucap Raffan
"Oke pak"
Raffan menutup teleponnya,
Raffan memakai kaosnya yang berwarna putih dan celana jeans pendek hitam lalu turun ke lantai bawah.
"Mbak, mana Alin" Tanya Raffan ketika menjumpai kakaknya sedang menyiapkan makanan dimeja makan.
"Baru juga ditinggal sebentar sudah nyariin"
"Alin ada didapur lagi bantuin mbak masak" Ucap Anya lagi
"Kan banyak pelayan mbak jangan capek-capek masak terus, biar aja mereka yang kerja" ucap Raffan
"Gak papa kamu kan sama mas Bram mau nya makan masakan mbak terus"
"Lagian mbak seneng masak sendiri, mbak kan gak ada kerjaan apalagi sekarang ada adek ipar yang pinter masak juga mbak jadi seneng deh" Ucap Anya tersenyum pada Raffan.
Raffan hanya berdecih ketika kakaknya ini memuji istrinya.
Anya memang senang memasak Raffan dan suaminya juga sangat menyukai masakannya, Anya hanya tinggal masak saja semuanya sudah disiapkan oleh pelayan dari memotong sayur atau lauk semuanya dibantu oleh pelayan.
"Itu dia orangnya" Anya menunjuk ke arah Alin yang tengah membawa masakannya.
Alin menyiapkannya dimeja makan.
"Ayo makan dulu, nih rasain masakan istri kamu" Ucap Anya
Raffan pun duduk di kursi meja makan, Anya menyendokkan nasi dan lauk ke piringnya.
"Alin ambilkan nasi sama lauknya buat Raffan" Titah Anya
"Iya mbak"
Alin pun menyendokan nasi dan lauk ke piring Raffan lalu ganti ke piringnya sendiri mereka pun makan bersama.
"Kamu pinter masak ya, masakan kamu enak" Puji Anya
Alin hanya tersenyum ketika Anya memuji masakan nya.
"Gimana dek, enakkan masakan istri kamu"
Uhuk uhuk
Anya pun menyodorkan minum kepada Raffan.
"Pelan-pelan dong"
"Mbak jangan panggil aku gitu, aku bukan anak kecil lagi" Tersedak bukan karna Anya memuji masakan istrinya tapi lebih ke sebutan Anya pada dirinya.
"Gakpapa lah kan cuma didepan istri kamu"
Anya memang selalu memanggil Raffan dengan panggilan Adek, tapi itu hanya berlaku ketika dia sedang bicara berdua, Raffan tidak suka kakaknya memanggil sebutan itu didepan orang lain. Termasuk didepan Alin!
__ADS_1
Alin tersenyum menahan tawanya, Raffan yang merasa ditertawakan menatap tajam Alin, Alin pun membalas dengan menjulurkan lidahnya.
Entah kenapa Anya selalu merasa Raffan itu masih menjadi adik kecilnya yang manja dia bahkan tidak menyangka sekarang Raffan sudah memiliki istri.
"Pokonya aku gasuka mbak" Ucap Raffan menahan kesal
"Iya iya adekku yang manis" Anya meyubit kedua pipi Raffan.
Alin tersenyum melihat tingkah adik kakaknya ini, mereka terlihat saling menyayangi.
Alin juga tidak menyangka sikap Raffan sangat berbeda saat dirumah, ketika dikantor dia begitu dingin dan irit bicara namun saat dirumah dia terlihat seperti seorang adik yang selalu dimanjakan kakaknya.
"Oya mbak jadi lupa kalo masih marah sama kamu" Ucap Anya teringat dia masih marah tadi pada Raffan.
"Hmm mana bisa mbak lama-lama marah sama aku" Balas Raffan
"Iya karna kamu adek kesayangan mbak" Anya ingin kembali mencubit pipi Raffan, namun ditepis oleh Raffan.
"Mbak udah ah" kesal Raffan.
Raffan merasa harga dirinya jatuh didepan Alin, kewibawanya jadi hilang gara-gara kakaknya.
"hehehe... Oya mbak belum bertemu orang tuanya Alin"
Alin melirik ke arah Anya dia menunduk dan hanya diam saja, dia termasuk orang yang sulit mengakrabkan diri pada orang yang baru dikenal.
Namun jika orang itu sudah mengenal Alin, maka dia akan tau betapa bokbrok nya Alin.
"Jangan sekarang deh mbak, orang tua Alin masih marah sama kita" Raffan menjawab ucapan Anya.
"Emang begitu Lin" Tanya Anya
"Iya mbak, nanti kalo keadaan nya sudah membaik pasti Alin kenalin sama orang tua Alin" jawab Alin
"Emangnya kalian gamau nikah resmi, kemarin kan kalian cuma nikah siri"
Alin dan Raffan saling merilik.
"Soal itu nanti kita pikirin lagi" Jawab Raffan
"Assalamualaikum"
"Walaiqumsalam... mas udah pulang"
Anya berdiri menghampiri suami nya yang baru saja pulang kerja.
Deg!
Pandangan Alin bertemu dengan pandangan Bram.
Tingg!
Alin menjatuhkan sendoknya tanpa sengaja.
'Apa... jadi dia suami mbak Anya? berarti dia kakak iparku' guman Alin dalam hati.
'Cih dia terkejut melihat selingkuhan yang ternyata sekarang jadi kakak iparnya' pikir Raffan ketika melihat ekspresi Alin.
"Mas, kenalin ini Alin istrinya Raffan yang tadi aku ceritain" Ucap Anya pada Bram.
Ya Anya sudah menceritakan semuanya Raffan digerebek dihotel dan dipaksa harus menikah saat itu juga, Tadinya Bram tidak mau perduli karna dia pikir mungkin itu hanya perempuan malam yang disewanya, dan Raffan sedang apes!
Bram sama sekali tidak terpikir kalo Alin yang akan menjadi istri Raffan.
"Alin ini suami mbak mas Bram" Anya memperkenalkan suaminya pada Alin
"Sayang mas udah kenal sama Alin, dia kan jadi OB dikantor Raffan" Bram tidak ingin pura-pura tidak mengenal Alin karna ada Raffan.
"Kok ga cerita sama mbak" Anya menatap Raffan.
"Aku lupa mbak hehe" Raffan nyengir.
"Yaudah ayo mas kita makan sama-sama" Ajak Anya pada suaminya.
Alin hanya terdiam selera makannya jadi hilang, dia melirik ke arah Raffan banyak yang ingin dia tanyakan kepada Raffan kenapa dia tidak bicara kalo suami mbak Anya itu mas Bram bukannya Raffan selalu menuduh dia dan mas Bram, apa Raffan sengaja merencanakan ini.
Alin ingin menghindari Bram karna dia tidak mau dituduh lagi tapi justru dia akan tinggal satu rumah dengan orang itu, Alin takut Bram akan berbuat macam-macam.
"Oya mas sebentar lagi sekertaris aku akan kesini ada yang mau aku bahas soal proyek baru kita, nanti aku tunggu diruang kerja ya" Ucap Raffan pada kakak iparnya.
"Hmm oke" jawab Bram
__ADS_1
Bram tampak tidak selera makan juga dia melirik ke arah Alin, apa yang terjadi dengan Raffan dan Alin kenapa mereka sampai menikah, pikir Bram.
tbc