Dituduh Selingkuh

Dituduh Selingkuh
Part 11 Couple Date


__ADS_3

Malam ini bertepatan malam Minggu Raffan akan memenuhi janjinya untuk dinner couple date bersama kakaknya, namun ia terlihat masih sibuk dikantornya.


"Rey sebelum meeting kamu kasih tau istri saya dulu kalo dia tidak usah menungguku pulang karna kita masing ada meeting, suruh dia pulang duluan naik taksi" Ucap Raffan pada sekertarisnya.


"Baik pak akan saya sampaikan sekarang juga"


"Ini juga tolong kamu berikan sama dia didalamnya ada gaun yang sudah saya pesan tadi, bilang gaun ini buat dipake nanti malam"


Raffan memberikan sebuah kotak yang berisi gaun yang sudah ia pesan tadi dibutik langganan nya dan lansung diantarkan kekantor nya saat itu juga, tadinya Raffan akan memberikan nya langsung saat pulang kerja tapi karna ada meeting yang tertunda membuat dia tidak bisa pulang bersama.


"Oke baik, ada lagi pak


"Udah"


Rey langsung menyampaikan pesan dari bosnya itu pada Alin, wanita itu terlihat sedang mengobrol bersama sepupunya Guna, Rey menghampiri mereka dan memberikan kotak itu pada Alin, wanita itu tampak mengangguk tanda mengerti.


Rey bisa mendengar sayup-sayup ketika meninggalkan dua sodara sepupu itu, terdengar kalo Guna menawarkan untuk mengantarkan Alin pulang dan wanita itu tampak menyetujui nya.


Ketika Rey kembali keruangan sang bos.


"Kamu sudah ketemu Alin"


"Sudah pak, sepertinya istri bapak tadi pulang diantar sepupunya itu"


"Yasudah tidak apa"


"Kita mulai meeting nya sekarang pak"


"Iya soalnya saya buru-buru ada acara keluarga"


"Baik pak kita akan mempercepat meeting nya"


Selesai meeting Raffan menelpon kakaknya.


"Hallo mbak"


"Hallo dek kamu masih dimana"


"Aku masih dikantor, mbak duluan aja sekalian ajak Alin berangkat bareng dia udah pulang nanti aku langsung nyusul ke sana"


Tut!


Raffan langsung mematikan telepon nya, dia bergegas pergi ke kamar mandi yang berada dikantor nya dia ingin membersihkan diri dulu sebelum pergi dinner dia juga sudah menyiapkan kemeja yang senada dengan gaun Alin.


Dari kantor Raffan akan langsung ke tempat dinner, ia tidak menjemput Alin dulu karna ia pikir pasti Alin berangkat bersama Kakaknya karna tadi dia sudah menghubungi kakaknya terlebih dulu.


"Mbak, kok sendirian" Tanya Raffan ketika dia sudah sampai dan hanya mendapati kakaknya sendirian.


"Iya tadi waktu kamu telepon suruh bareng Alin, Mbak udah disini sama mas Bram jadi mbak suruh mas Bram balik lagi buat jemput Alin"


"Apaa..Mbak suruh mas Bram jemput Alin?" Raffan terlihat begitu terkejut.


"Iya kan kamu yang nyuruh"


"Aku pikir mbak tadi belum berangkat, kenapa gak bilang sama aku kalo gitu aku aja yang jemput Alin"


"Yaudahlah sama aja"


"Mbak ngebiarin mereka berduaan"


"Emang kenapa?" Tanya Anya heran


"Gakpapa, tapi ada istilah ipar itu maut"


"Maksud kamu apa"


"Gakpapa, udah jangan dibahas" Raffan menghembuskan nafasnya kasar.


Pasti kakak iparnya itu keenakan ada kesempatan berdua-duaan dengan istrinya, Pikir Raffan.


"Dek, kalo sama pasangan itu harus saling percaya lagian gak mungkin lah kalo Alin sama mas Bram seperti itu"


"Iya mbak" ucap Raffan memijat keningnya.


Sementara Alin yang sudah siap dia mengenakan gaun yang diberikan suaminya, gaun panjangberwarna biru tua tidak berlengan dan ada belahan dibagian bawah sampai pahanya sangat pas ditubuhnya, dia mengikat rambutnya namun masih menyisakan sedikit anak rambut sehingga memperlihatkan lehernya yang putih mulus.


Alin tidak menyangka kalo yang menjemput nyaa malah Bram bukan suaminya dia sempat menolak namun Bram mengatakan ia disuruh kakak iparnya karna suaminya Raffan akan langsung menyusul nya nanti.

__ADS_1


Alin memutuskan untuk duduk dikursi belakang dia tidak mau berdekatan dengan Bram, sementara Bram yang memperhatikan Alin dari kaca spion wanita itu terlihat begitu cantik menggunakan gaun berwarna biru tua sangat pas dikulitnya yang putih, apalagi gaun itu memperlihatkan pahanya yang putih mulus ingin rasanya ia mengelus nya.


Alin merasa risih dengan tatapan Bram lewat pantulan kaca spion mobil.


"Kamu sangat cantik Alin" Pria itu baru mengeluarkan suara nya.


Alin yang mendengar nya merasa kesal.


"Bisa dipercepat gak mobilnya" Alin berucap seolah-olah Bram adalah supirnya.


Dia sendiri merasa khawatir berduaan bersama Bram.


"Buru-buru amat pelan-pelan aja kita nikmatin waktu berdua"


"Cukup ya mas kamu itu sekarang udah jadi kakak ipar aku, jadi jangan macem-macem"


"Santai aja mas gak akan macem-macemin adek ipar kok" Bram terlihat tersenyum miring.


Alin diam tidak menanggapi ucapan pria itu.


"Oya kenapa nomer mas diblokir?"


"Gak penting! Mas aku ingetin sama kamu jangan ganggu aku lagi"


"Mas tuh tau niat kamu nikah sama Raffan" Ucap Bram


"Maksud kamu apa" Tanya Alin yang tidak mengerti maksud ucapan Bram.


Tak terasa mobil itu sudah sampai Bram pun memarkirkan mobilnya.


"Nanti kita bicara in lagi" Bram menoleh kearah Alin mengedipkan matanya


Alin buru-buru keluar tidak menanggapi ucapan pria itu.


'Dasar gila' Umpat Alin pada Bram.


"Itu mereka" Ucap Anya ketika melihat suaminya dan adik iparnya berjalan menghampiri mereka.


Raffan bisa melihat raut muka Alin yang tidak bersahabat namun tetap memaksakan senyuman nya didepan kakaknya.


"Akhirnya kalian sampe juga" Ucap Anya


"Aamiin makasih ya, kamu sangat cantik sekali Alin"


Yang dipuji hanya tersenyum, Raffan baru menyadari kalo istrinya sangat cantik dia sampai tidak berkedip mata, gaun pilihan nya sangat cocok ditubuh istrinya.


"Tuh liat suami kamu sampe gak berkedip" Ucap Anya menggoda Adiknya.


Raffan tersenyum ketika tersadar dari lamunannya dia mempersilakan Alin untuk duduk disampingnya, mereka memulai makam malam bersama ditemani alunan musik yang sangat merdu, restoran yang mereka tempati juga sangat bagus tempat nya berada dilantai atas namun terkesan outdorr sehingga mereka bisa melihat indahnya pemandangan kota dimalam hari ditambah terpaan angin sepoi-sepoi.


Sesekali Raffan menyuapi Alin makan, pasangan itu tampak sangat serasi karna outfit mereka yang senada.


"Kita dansa yuk" Ajak Anya


"boleh sayang" Ucap Bram


"Dek, ajak istri kamu dansa"


"Iya mbak"


Mereka berempat berdansa bersama pasangan masing-masing, Anya berdansa sambil memeluk suaminya dia merasakan kenyamanan ditambah Alunan music yang membuatnya memejamkan mata menikmatinya.


Alin melingkarkan kedua tangannya dileher suaminya sementara Raffan merangkul pinggang istrinya, Alin tersenyum terus menatap wajah tampan suaminya alunan music membuat keduanya rileks berdansa.


Raffan menyadari kalo kakak iparnya itu terus saja memperhatikan Alin, dia sedang berdansa dengan istrinya namun matanya tidak lepas memandang Alin, ia hanya bisa diam menahan kesal karna tidak ingin acara kakaknya ini berjalan tidak baik.


"Mas aku ke toilet dulu ya" Ucap Alin


"Yaudah sana" Raffan kembali duduk dimeja makannya.


"Emm..sayang sebentar mas ke toilet dulu ya"


"Iya sayang" Ucap Anya lembut


Anya pun kembali duduk, Raffan yang melihat kakak iparnya pergi juga ke toilet berpikir pasti dia mau menyusul Alin.


"Mbak aku juga mau ke toilet" Ucap Raffan pada kakaknya

__ADS_1


"Hmm ke toilet sampe kompak banget, yaudah sana"


Sementara Alin yang baru keluar dari toilet terkejut melihat Bram sudah berdiri didepan pintu, pria itu langsung mencekal tangan Alin.


"Mas lepasin.. ngapain kamu disini" Ucap Alin berusaha melepaskan tangannya.


"Alin, mas tuh tau ya niat kamu nikah sama Raffan pasti karna harta kan"


Alin melototkan matanya menatap tak percaya


"Apa sih maksud kamu mas nuduh aku seperti itu, aku gak kaya gitu"


"Mas, tau kamu lebih memilih Raffan karna dia lebih kaya lebih punya segalanya dari mas..iya kan"


"Kamu ngomong apa sih.. lepasin tangan aku" Alin masih berusaha melepaskan tangannya


"Lepaskan tangan istriku mas!" Suara bariton itu mengagetkan keduanya


Bram langsung melepaskan cekalannya, terlihat Raffan menghampiri mereka, Alin menundukkan wajahnya ia takut Raffan akan salah paham.


"Ada apa ini mas" Tanya Raffan meminta penjelasan dari kakak iparnya.


"Enggak..itu..emm.. mas cuma memberi peringatan aja sama Alin"


"Peringatan apa" Tanya Raffan


"Lebih baik kamu jangan terlalu percaya sama dia" Bram menunjuk Alin "Mas tau dia nikah sama kamu cuma mau ngincer harta kamu aja"


Alin tidak percaya Bram mengatakan itu kepada Raffan, ia menggelengkan kepalanya menatap suaminya.


"Dia itu wanita gak bener penggoda dan murahan kamu jangan tertipu sama tampang polosnya" Ucap Bram lagi


Alin tersentak mendengar penuturan Bram.


"Cukup mas! Jangan kira aku gak tau kelakuan mas selama ini.. aku masih memberikan kesempatan mas buat berubah! kalo mas masih mau bersama kakakku"


"Aku peringatkan jangan pernah berani menyakiti istri atau kakakku!" Ucap Raffan membawa istrinya pergi.


Bram tampak mengepalkan tangannya.


"Awas aja aku tidak akan membiarkan kalian berdua bahagia" Ucap Bram tersenyum jahat.


Mereka kembali melanjutkan acara dinner nya seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


Kakaknya sedang berbahagia Raffan tidak mau kakaknya tau kelakuan suaminya, ia tidak ingin mengacaukan perasaannya Raffan dan Alin bersikap biasa saja seolah tidak ada masalah.


Sepulang acara couple date nya Alin hanya diam saja dimobil kini mereka hanya berdua, Ucapan Bram masih terngiang di telinganya rasanya sakit sekali ia masih ingat ketika Bram menyebutnya penggoda dan murahan.. sebenarnya apa salah Alin pada pria itu hingga dengan tega dia merendahkan nya bukankah selama ini dia yang selalu menggodanya.


Lebih parahnya pria itu sudah memfitnah Alin ia menuduhnya ingin mengincar harta Raffan, Alin semakin membencinya!


Tanpa sadar Alin mengepalkan tangannya, Raffan melihatnya.


"Kamu gakpapa" Tanya Raffan.


"Gak papa mas" Ucap Alin berusaha tersenyum pada Raffan.


Raffan tau Alin pasti sedang memikirkan ucapan kakak iparnya tadi, cih! rasanya Raffan tidak Sudi lagi menyebut nya kakak ipar.


Mobil Raffan sudah sampai didepan rumah.


"Mas" Panggil Alin ketika Raffan hendak membuka pintu mobil nya.


"Ya kenapa"


"Makasih ya kamu sudah membela aku tadi dan makasih kamu juga sudah mempercayai aku" Ucap Alin matanya terlihat berkaca-kaca.


"Iyaa" Raffan tersenyum membelai lembut rambut Alin.


Alin memeluk tubuh suaminya erat dia menitikan airmatanya yang sudah ia tahan sejak tadi.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2