
Hari ini Raffan akan kembali kerumah nya sekalian ia akan mengambil barang-barang nya dirumah
Raffan mencium kening Alin sebelum berangkat "Kamu yakin gak mau ikut.."
Alin menggeleng "Aku belum siap ketemu Mbak Anya.. pasti dia akan tambah marah kalo tau kita pindah.."
"Kakak aku pasti ngerti.. nanti mas bicarakan baik-baik"
Alin menganguk "Yaudah hati-hati ya mas" Ucap Alin melambaikan tangan nya
Alin menghela nafas nya berat rasa-rasanya kakak ipar nya pasti akan menyalahkan nya kembali
.
.
.
Sementara Anya mondar-mandir sendiri didepan pintu kamar adiknya dari semalam dia tidak melihat dua orang suami istri itu, walaupun dia sedang kecewa terhadap mereka namun Anya merasa khawatir.
"Apa jangan-jangan Alin pergi meninggalkan Raffan karna omongan aku kemarin" Ucap Anya
Padahal Anya hanya repleks saja dia sedang emosi, dia tidak sungguh-sungguh berbicara seperti itu.
Anya menerka-nerka apa yang ia kira dengan berani ia mengetuk pintu kamar adiknya namun tidak ada jawaban ia pun berani membuka pintu itu 'tidak terkunci' pikirnya, ia pun masuk dan mendapati kamar adiknya kosong namun sudah rapih.
"Mbak.." Panggil Raffan yang sudah berada diambang pintu
Raffan menghampiri kakak nya yang langsung memasang wajah dingin
"Dari mana kamu dan kemana istri kamu dari semalam mbak gak melihat kalian" Ucap Anya dengan tatapan acuh namun sebenarnya kakak nya ini mencemaskan nya
"Ada yang mau aku bicarakan mbak"
"Mau bicara apa" Ucap Anya masih tatapan dingin
"Aku dan Alin memutuskan untuk tinggal di apartemen"
Anya melototkan matanya menatap adik nya "Kenapa.. kamu mau ninggalin mbak" Ucap Anya dengan mata yang mulai berkaca-kaca
"Nggak, ini juga demi rumah tangga kita mbak.. aku gak mau ada kesalahpahaman lagi"
Anya mengusap ujung mata nya yang mulai basah "Apa istri kamu yang meminta nya"
Raffan terdiam
"Mungkin istri kamu tersinggung dengan kata-kata mbak kemarin"
Raffan menatap kakak nya tidak mengerti
"Kemarin mbak meminta Alin untuk meninggalkan kamu.. mbak mengucapkan itu hanya sedang emosi saja.. mbak bener-bener gak niat bicara seperti itu"
Raffan menatap Anya tak percaya
__ADS_1
"Mbak minta maaf sama kamu.. mbak masih kecewa terhadap istri kamu"
"Sekarang terserah kamu mau tinggal di apartemen kamu mbak gak akan larang!!" Anya pergi meninggalkan Raffan dengan wajah yang terlihat sedih
"Mbak..."
Raffan berusaha memanggil kakak nya ia tau keputusan nya membuat sang kakak sedih, tapi ia juga tidak ada pilihan.
Selama ini Raffan selalu ingin membuat kakak nya bahagia, ia tidak mau melihat kesedihan diwajah kakak nya, namun kali ini ia melihat kakak nya bersedih dan itu karna diri nya.
"Aku minta maaf mbak" Lirih Raffan
Raffan mengemasi barang-barang nya dengan lesu, tapi keputusan nya sudah benar tidak baik menempatkan istri nya bersama kakak ipar nya satu rumah apalagi setelah ia tau Bram masih mengejar istrinya, ia juga ingin memberi ketenangan untuk istri nya.
Namun kakak nya Anya masih saja mempercayai suami nya itu, Raffan tidak bisa berbuat apa-apa, semoga lambat laun kakak nya bisa menyadari bahwa suami nya tidak sebaik yang dia lihat.
Anya menangis sendiri dikamar nya, dari kecil mereka tidak terpisahkan mereka tumbuh bersama dirumah ini, bahkan ketika orang tua mereka meninggal, Anya begitu menjaga adik nya, Anya harus menggantikan peran orang tua nya demi Raffan, ia mengingat begitu banyak kenangan disini.
Mereka juga sudah saling berjanji akan tetap bersama dirumah ini, namun Anya sadar sekarang Raffan sudah memiliki kehidupan nya sendiri, ia berhak menentukan pilihan hidupnya, Anya tidak mau egois walaupun ia merasa sedih, ini juga demi kebaikan rumah tangga nya juga.
"Sayang Kenapa menangis" Anya merasa kan ada tangan yang menyentuh bahu nya
Anya membalikan badan nya menatap suami nya lalu kemudian menenggelamkan wajah nya didada bidang suami nya
"Aku hanya sedih Raffan memutuskan akan pindah ke apartemen nya"
Bram antara senang dan sedih mendengarnya, senang karna ia bisa dengan mudah menguasai rumah ini namun sedih tidak bisa melihat Alin.
Anya menganguk
"Sudahlah adik kamu juga berhak menentukan hidup nya sendiri.. dia juga mau mandiri"
"Aku gak nyangka masalah kemarin berakhir seperti ini"
"Kamu tidak boleh menyalahkan Raffan ini semua terjadi karna istri nya" Bram tersenyum menyeringai
"Aku juga masih kecewa pada Alin"
Bram tersenyum senang, ia akan menggunakan istri nya untuk memisahkan Raffan dan juga Alin.
Raffan sudah kembali ke apartemen nya, Alin langsung menata barang-barang yang dibawa suami nya ke tempat nya
Pria itu saat ini sedang duduk dikursi yang menghadap ke balkon, semenjak pulang dari rumah nya pria itu hanya diam saja, Alin mengerti perasaan Raffan saat ini
"Mas" Alin memeluk suami nya dari belakang
"Kenapa diam saja"
Raffan tersenyum menatap istri nya
"Gakpapa.. sayang"
"Jangan bohong mas.. aku ngerti perasaan kamu pasti kamu lagi mikirin mbak Anya"
__ADS_1
Raffan membalikan tubuh nya memeluk wanita itu, saat ini Raffan butuh ketenangan dengan memeluk istri nya ia jadi lebih tenang.
"Maafkan aku ya mas.. karna permintaan aku membuat kamu seperti ini"
Raffan mencium puncak kepala Alin
"Hey jangan menyalahkan diri kamu.. ini bukan salah kamu sayang.."
"Ini semua karna aku" Alin menunduk
"Apa kamu ingin pergi dari rumah karna ucapan kakak aku"
Alin menggeleng "Nggak mas, aku berniat pergi waktu itu karna kamu yang tidak mau bicara dengan ku, bukan karna ucapan kakak kamu!"
"Aku minta maaf soal itu"
"Gakpapa mas sekarang kan kamu udah percaya sama aku" Ucap Alin tersenyum
.
.
.
"Oya... sayang besok mas udah harus kembali ke surabaya" Ucap Bram menatap istri nya yang masih terlihat sedih
"Iya mas" Ucap Anya tak semangat
"Hey udah dong sayang jangan sedih-sedih lagi.. nanti kalo proyek nya udah selesai mas kan bisa netap disini lagi"
"Kamu yang sabar ya tinggal 75% lagi bangunan nya rampung"
"Aku semakin kesepian dong, gak ada kamu gak ada Raffan juga"
Bram terdiam
"Mas apa kita adopsi anak aja" Ucap Anya
Bram tampak terkejut, ia menggeleng
"Engga sayang mas gak setuju"
Anya menatap suami nya heran "Kenapa, lagian aku gak bisa memberi mu anak mas.. jadi lebih baik kita adopsi anak saja biar aku juga gak kesepian"
"Iya tapi nanti aja ya sayang jangan sekarang.. mas belum siap untuk saat ini"
Sebenarnya Bram tidak setuju kalo harus mengadopsi anak, ia sebenarnya ingin sekali memiliki anak dari benih nya sendiri.
.
.
.
__ADS_1