
Hari ini seperti biasa Alin dan Raffan berangkat ke kantor bersama, namun pagi-pagi sekali Raffan sudah mengajak Alin berangkat padahal masih jam setengah 6 pagi.
"Aku ada meeting pagi diluar kantor kamu ikut aja sekalian kita sarapan" Ucap Raffan masih focus menyetir mobil.
"Nanti telat gak, aku takut diomelin mbak Rita"
"Keburu kok, klien aku juga lagi buru-buru ada penerbangan makanya minta ketemuan pagi-pagi"
Alin hanya mengangguk tanda mengiyakan.
Mereka sudah sampai ditempat yang sudah dijanjikan Raffan dan klien nya itu, terlihat sosok laki-laki yang mungkin seumuran dengan Raffan sudah menunggunya disana, Raffan menghampiri laki-laki itu.
"Selamat pagi pak Doni, sudah lama menunggu"
"Tidak, baru aja"
"Oya, ini asisten saya" Ucap Raffan memperkenalkan Alin.
Raffan terpaksa memperkenalkan Alin sebagai asisten nya, tidak mungkin kan Raffan memperkenalkan Alin istrinya karna semua klien nya mengenal Raffan belum memiliki istri.
Pria itu tampak menyipitkan matanya melihat wanita yang bersama Raffan.
"Kamu Alin kan?" Tanya pria itu.
"I..iyaa" Jawab Alin.
"Hei..kamu apa kabar Lin"
Alin mengerutkan keningnya menatap heran pria itu.
"Kamu gak inget sama aku, Doni"
"Emm.." Alin tampak berpikir "Ohh kamu Doni kakak kelas aku waktu SMA itu kan" Alin mengingat nya.
"Nah..iya itu, kamu apa kabar"
"Alhamdulillah baik"
"Jadi kalian udah saling kenal" Tanya Raffan.
"Iya mas..em, ehh pak" Ucap Alin.
"Alin ini adik kelas saya waktu SMA.. ga nyangka kita bisa ketemu lagi, kamu tinggal diJakarta sekarang?"
"Emm iyaa"
"Udah nikah?"
Alin merilik kearah Raffan "Belum" Ucap Alin dengan suara pelan.
Ekhem!
Raffan berdehem merasa dikacangi.
"Pak Doni bisa kita mulai meeting nya sekarang" Timpal Raffan.
"Oke baiklah pak Raffan"
Mereka pun langsung membahas tentang kerjasama mereka sambil menikmati makanan dan minuman yang sudah dipesan, tidak perlu memakan waktu yang lama setelah mereka sepakat untuk bekerja sama meeting pun selesai karna Doni maupun Raffan hanya punya waktu sedikit.
"Terimakasih ya pak Doni semoga kerjasama kita berjalan dengan baik" Raffan menjabat tangan kliennya
"Sama-sama pak Raffan"
"Kalo gitu kita permisi dulu" Ucap Raffan pamit pada kliennya.
"Emm.. tunggu"
"Alin boleh aku minta nomer ponsel kamu" Ucap Doni
"Untuk apa" Tanya Alin
"Cuma buat silaturahmi aja sekalian nambah-nambah temen, Gakpapa kan?" Ucap Doni.
Alin melihat kearah Raffan yang hanya memasang wajah datarnya, Alin merasa tidak enak baik pada Raffan maupun Doni akhir nya dengan terpaksa ia memberikan nomer ponselnya pada Doni toh cuma untuk berteman saja kan tidak lebih.
__ADS_1
Raffan melajukan mobilnya menuju kantor, diperjalanan mereka hanya saling diam saja ,Alin terus menatap wajah suaminya dari samping.
"Kenapa ngeliatin aku terus" Ucap Raffan tanpa menoleh masih focus menatap jalanan.
"Emm.. nggak kok mas" Alin kembali mengalihkan pandangannya kedepan
"Sepertinya doni tertarik sama kamu" Ucap Raffan menoleh kearah Alin
"Gak mungkin mas" Jawab Alin menatap suaminya.
"Gak mungkin gimana, apalagi setelah dia dengar kamu bilang belum nikah langsung gercep dia minta nomer HP kamu" Ucap Raffan
Alin mengerti maksud Raffan.
"Aku terpaksa bilang gitu kalo dia nanya siapa suami aku, nanti aku jawab apa"
Raffan terdiam mendengar ucapan istrinya.
"Lagian kamu juga yang gak mau pernikahan kita diketahui siapa pun termasuk orang-orang dikantor" Ucap Alin lagi.
"Tapi gak perlu ngasih nomer HP kamu ke dia juga kan"
"Kenapa? Doni juga bilang cuma buat silaturahmi aja"
"Aku gak suka, pasti dia ada maksud lain"
"Apa kamu cemburu?" Tanya Alin menatap Raffan.
Raffan menggelengkan kepalanya cepat "enggak"
Alin tersenyum menatap suaminya 'Pasti kamu cemburu kan mas' Alin berucap dalam hatinya.
"Lagian aku juga harus jaga-jaga sebelum jadi janda" Alin sengaja ingin memancing Raffan.
"Aku juga berpikir kalo kita udah pisah nanti status aku pasti akan dipertanyakan.. dibilang janda aku masih perawan, dibilang perawan tapi aku memang sudah janda.. jadi lebih baik aku bilang kalo aku belum menikah" Ucap Alin tersenyum tipis.
Sepertinya Alin berhasil memancing suaminya terlihat wajah Raffan yang mulai kesal, Alin tersenyum menahan tawanya.
Raffan menghela nafasnya Alin selalu membahas tentang pisah padahal ia tidak suka mendengarnya, apa Alin benar-benar ingin berpisah entah kenapa itu menjadi berat untuk Raffan padahal dia sendiri yang membuat perjanjian itu.
Tak terasa mobil Raffan sudah sampai depan kantor karna pikiran nya sedang berkecamuk Raffan lupa menurunkan Alin dijalan dekat kantor.
"Mas kenapa disini, nanti karyawan kamu pada liat kita berangkat bareng"
"Aku lupa, kalo ada yang nanya bilang aja gak sengaja ketemu dijalan"
Alin menganguk ia turun dari mobil Raffan, banyak karyawan yang menatap nya heran terdengar mereka mulai berbisik-bisik membicarakan Alin yang bersama Raffan.
Raffan berjalan memasang wajah datarnya, para karyawannya tidak ada yang berani bicara apa-apa didepannya mereka diam dan menundukan kepalanya, setelah bos nya masuk keruangan barulah mereka mulai berbisik-bisik membicarakan nya.
"Ada yang pernah mimpi jadi istri CEO, eh sekarang mulai kegatelan deketin bos" Sindir seseorang ketika Alin melewati nya.
Ia tau sindiran itu untuk dirinya, tapi Alin tidak mau menanggapi ucapan wanita itu ia memilih untuk mengabaikan nya.
"Cuma jadi OB aja capernya kebangetan" Timpal wanita itu lagi.
Alin terdiam menahan kesalnya.
"Kamu ada masalah apa sama Alin? aku liat kamu selalu menyindirnya dengan sindiran kamu yang gak jelas" Timpal Guna yang tiba-tiba muncul.
"Udahlah Gun, gak usah diladeni" Ucap Alin.
Wanita itu malah berdelik menatap Alin dan juga guna.
"Kamu siapa? pacarnya? ngebelain terus!"
"Aku sepupunya, wajarlah aku selalu membela nya"
"Oh jadi kamu sepupu wanita ini, bilangin deh sama sepupu kamu gausah sok kegatelan deket-deketin pak bos" Ucap wanita itu menyungging.
Wanita itu bernama Danisa dia bekerja dikantor Raffan sebagai manajer staf, wanita itu terlihat tidak menyukai Alin.
"Siapa kamu? emang kamu pacarnya pak bos? iri mah bilang aja!" Ucap Guna
"Haha ngapain aku iri sama OB, gak level" Ucap Danisa dengan senyum meremehkan.
__ADS_1
"Udah ayo gun" Alin menarik tangan Guna pergi meninggalkan wanita itu, gak ada Guna diladenin juga.
"Aku heran sama wanita itu dia selalu ngata-ngatain kamu, emang kamu pernah ada masalah sama dia" Tanya guna dengan raut wajah yang terlihat kesal.
Alin menggeleng kan kepalanya.
"Namanya juga hidup kadang ada yang suka dan ada juga yang enggak"
"Padahal kamu tuh istrinya pak bos eh malah kamu sering dikatain sama karyawannya sendiri"
"Mau gimana lagi, status aku jadi istri dia cuma dirumahnya aja"
Guna menatap kasihan pada sepupunya itu "Kamu yang sabar ya, orang sabar dia yang akan menang nanti" Ucap Guna menyemangati Alin.
Alin tersenyum menatap Guna "Yaudah yuk kerja kerja cari cuan hehe"
Alin dan Guna kembali mengerjakan tugas nya masing-masing, Alin tengah membuatkan kopi hitam dengan sedikit gula, kopi pesanan suaminya, Alin membuatkan dua cangkir kopi satu untuk sekertarisnya lalu mengantarkan nya keruangan Raffan.
Alin membuka pintu ruangan suaminya meletakkan kopi itu diatas mejanya.
"Ini kopinya pak"
"Iya"
Alin dan Raffan bersikap profesional layaknya seorang karyawan dan bos.
"Kalo gitu saya permisi" Alin hendak membalikkan badannya "Tunggu" Ucap Raffan.
"Ada lagi pak?" Tanya Alin.
"Kamu udah makan siang?" Raffan balik bertanya.
Alin menggeleng kan kepalanya.
"Ini tadi mbak Anya mengirimkan bekal untuk kita berdua"
Alin menatap dua kotak bekal itu.
"Makan dulu disini ajaa!" Titah Raffan.
"Emm..saya makan dibelakang aja"
"Kamu gak mau nemenin saya makan disini?"
"Bukan gitu.. nanti kalo ada orang yang masuk kesini gimana?"
"Gak akan, Rey kamu pastikan gak ada yang masuk kesini selama saya lagi makan siang sama Alin!"
"Baik pak" Rey berjalan keluar dari ruangan.
Raffan dan Alin duduk disofa yang berada diruang kerjanya.
"Nih cepet kamu makan" Raffan menyodorkan satu kotak bekal pada Alin.
Mereka makan bersama dalam diam karna pertama kali nya Alin dan Raffan makan bersama dikantor biasanya mereka bagaikan dua orang asing, mereka menghabiskan bekal yang diberi kakaknya.
Raffan melihat ada sedikit kecap yang menempel di bibir Alin dengan ragu dia membersihkannya dengan jari telunjuk nya, Raffan menatap wajah wanita itu lama beralih menatap kebagian bibirnya yang tipis mungil ada rasa ingin menyesap bibir itu.
Tatapannya ia alihkan lagi pada mata sang pemilik bibir itu seakan sedang meminta persetujuan lewat sorot matanya ia menginginkan sesuatu darinya, Alin yang sama-sama sedang menatap mata suaminya seakan mengerti ia mulai memejamkan matanya dan membuka sedikit bibirnya
Raffan sudah memegangi dagunya, ia mendekatkan wajahnya menempelkan bibirnya pada bibir Alin lalu mengesap dan **********, Alin membalas ciuman Raffan ia melingkarkan tangannya dileher suaminya, Raffan memperdalam ciuman nya ia memasukkan lidahnya ke rongga mulut Alin sampai wanita itu kehabisan nafas Raffan melepaskan ciumannya keduanya sama-sama menghirup udara, Raffan mencoba menempelkan lagi bibirnya pada bibir Alin ******* demi ******* mereka nikmati sampai keduanya tidak sadar mereka sedang berada dikantor.
Raffan senyam-senyum sendiri mengingat ciuman nya tadi bersama Alin sepertinya Alin sudah memberinya sebuah lampu hijau.
Sekertaris nya yang sedari tadi berada diruangan menatap bosnya itu dengan heran, tidak biasa nya bos nya selalu tersenyum seperti itu biasanya dia selalu memasang wajah datar jarang tersenyum dan berbicara seperlunya.
Mungkin bosnya sedang berbahagia Rey tidak mau banyak bertanya, jarang-jarang ia bisa melihat bos nya seperti ini.
Sementara Alin tidak sadar ia sudah terlalu lama mengaduk-aduk kopinya yang sudah mulai dingin, ia meraba bibirnya sendiri masih membayangkan kejadian tadi rasanya Alin ingin berteriak karna bahagia.
.
.
.
__ADS_1
.